
Matahari tak malu menampakan sinarnya. Kicauan burung yang merdu saling bersautan menyambut pagi. Kendaraan mulai berlalu lalang memadati jalanan kota. Weekend membuat lebih banyak orang yang memilih menghabiskan waktu bersama keluarga untuk sekedar liburan.
Seperti halnya seorang pria yang tengah menatap pantulan dirinya didepan cermin. Senyuman kecil menghiasi bibir kecilnya yang membuatnya semakin tampan. Rama Abi Sena, dialah orangnya. Rama menyambar parfum dan segera menyemrotkannya dibeberapa bagian tubuhnya.
"Perfect"gumam Rama menatap dirinya dipantulan cermin.
Dengan santai Rama keluar kamar dan segera turun menemui kedua orang tuanya yang tengah asyik menonton tv.
"Pagi pa, ma"sapa Rama.
"Pagi"jawab Pandu dan Riana bersamaan.
"Mau kemana Ram?"tanya Riana.
"Jalan ma"jawab Rama.
"Sama Sinta?"tanta Riana yang dijawab deheman oleh Rama. Riana pun mengangguk paham.
"Yaudah sana buruan, keburu siang"ujar Riana. Rama pun segera pamit dan bergegas meninggalkan rumah.
Riana menatap sang anak dengan senyum getir. Sebagai seorang ibu Riana berharap yang terbaik untuk anaknya. Begitupun soal jodoh. Sejujurnya Riana suka dengan pribadi Sinta yang sopan dan ramah. Meskipun diluar terlihat cuek dan dingin, itu adalah cara Sinta menutupi kerapuhannya.
Riana tau betul kenapa sampai saat ini Sinta belum memberi kepastian mengenai perjodohannya dengan Rama. Dan hal itulah yang membuat Riana merasa iba dengan sang anak. Meskipun Pandu sang suami dan juga Wisnu selaku papa Sinta sangat menginginkan perjodohan ini. Namun benar adanya bahwa cinta tak bisa dipaksa.
Riana semakin kasian lagi saat tau ternyata Rama sudah menaruh pada Sinta. Ingin rasanya Riana membatalkan perjodohan ini. Namun dirinya tak memiliki kuasa untuk hak itu. Jadilah Riana hanya diam dan memberi yang terbaik untuk Rama.
.
.
.
Ditempat lain seorang pria yang tak kalah tampan dari Rama Abi Sena juga tengah menatap tampilan dirinya didepan cermin. Dengan senyum juga lesung pipi disebelah kiri membuat pria itu semakin manis. Abimanyu Rasarendra. Sosok pria tampan yang murah senyum.
Rendra berniat mengajak Sinta jalan jalan hari ini. Selain itu dia juga ingin menanyakan kenapa Sinta berubah. Semalaman Rendra memikirkan apa kesalahannya hingga membuat Sinta begitu kesal.
Dengan segera Rendra keluar kamar dan berpamitan pada Reni dan Gani. Setelah berpamitan barulah Rendra mengendarai mobilnya menuju gang sebelah. Ahh gang sebelah?? Ya memang komplek perumahan Rendra Sinta sama. Hanya gang saja yang membedakannya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama Rendra sudah sampai di rumah Sinta. Namun ternyata saat Rendra sampai, sebuh mobip yang tak asing baginya juga memasuki pekarangan rumah Sinta.
"Huftt, dasar tikus kecil"gerutu Rendra. Tanpa menghiraukan sang pemilik mobil Rendra segera berlalu meninggalkan mobilnya.
.
Rama mengendari mobilnya dengan kesabaran ekstra. Karena hari ini weekend jadi membuat jalanan begitu padat. Perjalanan yang harusnya 20 menit menjadi hampir 30 menit. Rama menghela nafas lega saat gerbang rumah Sinta sudah terlihat didepannya. Namun ada yang membuat dahi Rama berkerut.
"Mobil itu"gumamnya. Dengan segera Rama memarkirkan mobilnya dan cepat cepat turun menyusul pemilik mobil yang sudah dia pastikan adalah rivalnya.
Rama menekan bel beberapa kali hingga munculan Reni dengan ekpresi kagetnya.
"Rama"kaget Reni.
"Pagi tante, Sinta ada?"tanya Rama.
"Ehh, iya ada, masuk dulu yuk"ajak Reni. Rama pun mengangguk dan mengikuti langkah Reni hingga berhenti diruang tamu.
Sampai diruang tamu Rama bertatapan dengan rivalnya. Yang tak lain adalah Abi alias Rendra. Keduanya menatap tajam dengan senyum meremehkan seolah tengah berperang. Dan semua itu tak lepas dari tatapan Reni.
"Emm, Rama kamu duduk dulu ya, biar tante panggil Sinta"ucap Reni seraya berlalu meninggalkan dua pemuda tampan yang tengah merebutkan anaknya itu.
"Ngapain lo disini"ketus Rama.
"Bukan urusan lo"jawab Rendra tak kalah ketus.
"Jelas urusan gue karena Sinta udah dijodohin sama gue"ucap Rama menatap Rendra remeh.
"Emang Sinta mau dijodohin sama lo"ujar Rendra tak kalah.
"Sinta emang belum kasih kepastian"ucap Rama.
"Ayo kita taruhan"ucap Rama.
"Siapa yang hari berhasil ajak Sinta keluar, dia yang berhak dapetin Sinta"sambung Rama.
Rama tersenyum remeh pada Rendra seakan dialah pemenangnya.
__ADS_1
"Oke, gue terima"jawab Rendra seraya menjabat tangan Rama sesaat.
.
.
.
Dikamar Sinta, Reni tengah membangunkan anaknya yang ternyata masih asyik dalam mimpinya.
"Sinta, bangun"geram Reni karena Sinta tak kunjung bangun.
"Kenapa sih ma? ganggu banget dehh, mumpung libur aku kau tidur ma"gerutu Sinta dengan mata terpejam.
"Kamu bangun dulu, dibawa ada tamu"ucap Reni.
"Ck, ya mama dong temui tamunya"kesal Sinta.
"Tamunya cariin kamu Sinta"geram Reni.
"Siapa yang cari Sinta? Zola?"tanya Sinta.
"Dibawah ada Rama"ucap Reni.
"Ck, Rama lagi Rama lagi, bilang aja Sinta masih tidur"ujar Sinta kembali memejamkan mata.
"Sinta, ayo bangun dulu, dibawah bukan cuma ada Rama ,tapi ada Rendra juga"ucap Reni sedikit berteriak.
Dan siapa sangka, hal itu sukses membuat Sinta bangkit dari ranjang. Dia menatap sang mama yang tengah menatapnya dengan kesal.
"Re_Rendra dibawah ma"gugup Sinta.
"Iya, makanya kamu bangun, mandi, terus temui mereka"ucap Reni.
"Tapi ma_"
"Mama nggak mau tau, temui mereka"ucap Reni tak terbantahkan. Bahkan Reni langsung keluar dari kamar Sinta meninggalkan Sinta yang tengah dilanda kegelisahan itu.
__ADS_1
TBC