(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 19


__ADS_3

Rama tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membawa Sinta setelah drama yang dilaluinya. Kini Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan Rendra yang masih menatap kearah mobilnya. Sungguh Rama tersenyum sinis melihat Rendra yang tak bisa berbuat apa apa.


"Nanti pulang kuliah bareng gue"ucap Rama namun didiamkan oleh Sinta.


Merasa tak ada jawaban, Rama menoleh kesamping melihat Sinta yabg hanya diam termenung sambil membuang muka kearah luar. Mungkin padatnya lalu lintas lebih menarik untuk Sinta. Hemm, sudahlah.


Rama kembali fokus menyetir dan tak menghiraukan Sinta. Karena menurutnya dialah yang akan mendapatkan Sinta. Apalagi dengan adanya perjodohan itu, Rama semakin yakin jika dialah pemenangnya.


Disisi lain Rendra masih berdiri menatap mobil Rama yang kian menjauh. Dia hanya bisa menghela nafas berat. Sebenarnya bisa saja dia melawan Rama, namun mendengar ancaman Rama membuat Rendra urung melakukan niatnya. Biarlah dia mengalah sebentar, daripada Sinta yang harus menjadi korban.


Rendra segera masuk kedalam mobilnya dan melajukannya kencang. Tak ingin terjadi apa apa dengan Sinta, Rendra berniat mengikuti mobil Rama.


"Harusnya belum jauh"gumam Rendra.


Benar saja, tak lama sampai dijalan raya, Rendra sudah menemukan mobil Rama yang masih merayap pelan karena jalanan yang lumayan padat. Dengan segera Rendra menyalip mobil didepannya saat ada kesempatan hingga dia berhasil berada dibelakang mobil Rama.


Rendra terus mengikuti mobil Rama sampai di parkiran kampus. Namun Rendra memilih turun terakhir dan memastikan Sinta masuk kelas dengan selamat. Setelah memastikan Sinta aman, barulah Rendra turun dari mobilnya.


Rendra bergegas masuk kekelasnya. Namun belum sampai didepan kelas, Rendra melihat Zola, teman Sinta berjalan dengan sedikit terburu buru. Mungkin keburu masuk kelas jadi buru buru.


"Zola"panggil Rendra.


"Lo panggil gue?"tanya Zola bingung.


"Iya, lo temen Sintakan"ujar Rendra.


"Kenapa?"tanya Zola.


"Gue titip ini, tolong kasih ke Sinta"ucap Rendra seraya menyodorkan susu kotak dengan secarik kertas.


"Oke, gue duluan"pamit Zola karena takut dosen sudah masuk. Rendra pun mengangguk dan segera berlalu menuju kelasnya.


Zola berlari kecil menuju kelasnya karena takit telat. Namun saat sampai di kelas Zola bisa bernafas lega karena sang dosen belum datang. Dengan segera Zola duduk di bangku yang berada didepan Sinta.


Zola menghadap kebelakang berniat memberikan titipan dari Rendra tadi. Namun niat itu urung karena Zola melihat wajah Sinta yang begitu murung.


"Kenapa lo pagi pagi udah asem gitu"ujar Zola.


"Males gue bahasnya"kesal Sinta.


"Soal Rama"tebak Zola dan diangguki oleh Sinta.


"Kenapa lagi sih?"tanya Zola penasaran.


"Nggak tau gue harus gimana lagi, Rama terus terusan ngejar gue, dan bokap gue tadi pagi bilang mau majuin acara tunangannya, gimana gue nggak kesel"sungut Sinta.


"Ya lo tolak dong"enteng Zola.


"Gue udah berkali kali nolak dan hasilnya sama aja, bokap gue tetep kekeh bakal jodohin gue sama Rama"lirih Sinta.

__ADS_1


"Nggal usah sedih, gue punya sesuatu buat lo, gue jamin lo nggak bakalan sedih lagi"ucap Zola.


"Alahh, paling lo cuma mau pamer barang baru"kesal Sinta.


"Wait, gue jamin lo bakal happy"ucap Zola. Sinta yang penasaran pun melihat apa yang dilakukan Zola. Ternyata Zola mengambil susu kotak kesukaannya.


"Ini"ucap Zola seraya meletakan susu kotak rasa stroberi dihadapan Sinta.


"Eh Zola, gue kasih tau ya, meskipun nih susu kesukaan gue, nggak bakal bikin mood gue baik"ucap Sinta kesal.


"Ehh, jangan salah, ini susu bukan sembarang susu"ucap Zola misterius.


"Ini susu dari Rendra"lanjut Zola setengah berbisik. Seketika mata Sinta membola mendengar bisikan Zola.


"Beneran lo?"tanya Sinta memastikan.


"Beberan lah, tadi pas gue mau masuk kelas gue ketemu sama Rendra, terus dia titip ini buat lo, sama ini juga"cerita Zola seraya memberikan kertaa kecil pada Sinta.


Dengan segera Sinta membuka kertas kecil itu. Seketika senyum mengembang dibibir kecil miliknya.


"Gimana? udah seneng kan lo"goda Zola.


"Uu, makasih Zola"ucap Sinta manis. Zola hanya mengangguk saja. Dia senang karena sahabatnya itu sudah baikan. Untung saja bangku mereka agak jauh dari Rama, jadi masih aman.


Katika mata kuliah sudah selesai, Sinta segera mengemas buku bukunya. Bahkan ketika teman temannya masih mengobrol santai, Sinta sudah bersiap keluar kelas dengan tas dipunggungnya.


"Gue duluan"pamit Sinta pada Zola.


Dengan segera Sinta melenggang keluar kelas. Bahkan dengan sedikit berlari. Dia takut jika Rama akan menghadangnya. Tidak tau saja kai Sinta, jika Rama sudah curiga dengan gerak gerik mu.


Hahh, lupakan Rama sejenak. Sinta berlari kecil menyusuri lorong lorong kelas yang masih sepi. Sampai di ujung lorong, Sinta segera berbelok kekiri dan segera duduk di meja taman yang tersedia. Ya, Rendra menuliskan surat ingin bertemu Sinta ditaman samping kampus.


Sinta melihat kekanan kiri mencari keberadaan Rendra.


"Mungkin belum keluar kelas"gumam Sinta.


Dan benar saja, tak selang lama Rendra sudah sampai di taman dan duduk disampingnya. Sinta pun tersenyum manis melihat Rendra yang duduk disampingnya.


"Maaf telat"ucap Rendra.


"Nggak kok, gue juga baru sampai"sahut Sinta.


"Udah diminum susunya?"tanya Rendra.


"He'em, makasih ya"ucap Sinta tulus.


"Sama sama"jawab Rendra.


"Sinta"panggil Rendra.

__ADS_1


"Ya"singkat Sinta.


"Ada yang mau gue tanyain sama lo"ucap Rendra.


"Soal apa?"tanya Sinta.


"Perasaan lo"jawab Rendra. Sinta terdiam sesaat. Dia tau arah pembicaraan Rendra ini.


"Maaf Ren"lirih Sinta.


"Kenapa Sin? apa karena lo udah jatuh cinta sama Rama?"tanya Rendra.


"Gue nggak cinta sama Rama"lantang Sinta.


"Terus kenapa lo nggak mau sama gue"ucap Rendra.


"Maaf Ren, gue nggak bisa nolak permintaan papa"lirih Sinta.


"Kenapa nggak bisa? jelas jelas lo nggak suka sama Rama"ucap Rendra lembut.


Sinta dia tanpa bisa menjawab. Karena yang diucapkan Rendra memang benar. Seharusnya dia menolak perjodohan itu karena memang dirinya tak pernah mencintai Rama.


"Sin, gue tanya sama lo, apa lo cinta sama Rama?"tanya Rendra yang dijawab gelengan oleh Sinta.


"Apa lo seneng dengan perjodohan ini?"lagi lagi dijawab gelengan oleh Sinta.


"Oke gue ngerti, sekarang biarin gue berjuang, gue beneran sayang sama lo"ujar Rendra menggenggam tangan Sinta.


"Apa yang mau lo perjuangin Ren, lo nggak bakal bisa batalin perjodohan itu"sahut Sinta.


"Gue nggak butuh itu Sin, yang gue butuhin sekarang lo"ucap Rendra.


"Lo mau kan berjuang sama gue buat dapetin restu papa lo?"tanya Rendra.


"Gue bakal hadapin om Wisnu, gue bakal buktiin kalau gue pantas buat lo"lanjut Rendra.


"Lo mau kan berjuang sama gue?"tanya Rendra lagi.


Sinta masih diam menunduk tanpa menjawab. Air mata yang dia tahan pun sudah mengalir saat ini. Dia bingung harus menjawab apa. Dia merasa senang saat Rendra mau memperjuangkanya. Namun dalam hatinya dia ragu dan takut jika sang papa murka pada Rendra.


"Sin, lo mau kan berjuang sama gue?"tanya Rendra lagi.


"Iya, gue mau"jawab Sinta seraya mengangguk kecil.


"Makasih Sin, makasih, gue janji bakal perjuangin lo apapun yang terjadi"ucap Rendra seraya memeluk Sinta.


Sinta pun membalas pelukan Rendra erat dengan air mata yang masih menetes. Namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikan keduanya dengan tangan terkepal kuat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2