
Setelah mengantar Jaemin ke UKS, Winwin tidak langsung pergi ke kelas melainkan pergi ke rooftop. Tadi dia sempat melihat keadaan ruang seni yang ricuh akibat pertengkaran Jisung dan seorang siswa. Meski tak berlangsung lama sebab semua yang terlibat pertengkaran itu disuruh pergi ke ruang BK. Winwin sedang tidak mood untuk belajar. Alhasil dirinya berakhir disini.
Tiba-tiba pintu rooftop terbuka dengan pelan. Secara cepat dia melirik ke arah seseorang yang kini tengah menatapnya dengan serius. Pemuda itu melangkah mendekati Winwin dengan cepat.
Winwin terdiam. Ia tak bergeming sama sekali. Yang ia lakukan hanya menggenggam erat ponsel yang ada ditangan kanannya.
"Malam ini, dia sudah nentuin siapa targetnya " ucapnya. Winwin masih diam. "lo harus gerak dengan cepat. lo nggak mau kan ada kesalahan kayak kasus Lucas!" omel pemuda tersebut.
"Siapa?"
Pemuda itu menghela nafas pendek. Dia sempat melirik ke arah lain sebelum kembali fokus pada Winwin. "Chenle atau Jisung. Malam ini mereka target kita!"
Winwin tersenyum kecut sambil menatap pemuda dihadapannya itu. Namun secara tiba-tiba tangan pemuda itu mengambil ponsel Winwin yang ia jaga sedari tadi. Sontak saja Winwin marah menyadari kalau ponselnya telah dirampas.
"Eh lo mau ngapain, balikin nggak!!!" paksa Winwin. Sedangkan pemuda dihadapannya malah sibuk menggeledah isi ponsel yang berhasil dia rampas.
"lo jangan main-main sama gue, balikin nggak!" perintah Winwin mencoba mengambil kembali. Namun sayang usahanya hanya sia-sia.
Untung saja tak butuh waktu lama, ponsel Winwin akhirnya kembali pada pemiliknya. Si empu ponsel yang tak lain yaitu Winwin langsung mengeceknya. Siapa tau ada hal penting yang hilang.
Setelah membuat Winwin ketar-ketir pemuda berambut hitam panjang tersebut malah duduk di bangku rooftop. Winwin sendiri masih stay berdiri ditempatnya meski sempat ditawari beberapa kali.
"Napa lo ngirim pesan suara ke Jaemin? lo nggak percaya ya sama gue?" tanyanya sambil melirik Winwin santai. Sementara itu Winwin malah melirik dengan sinis.
__ADS_1
"Suka-suka gue!" jawab Winwin sinis.
Pemuda tersebut membetulkan posisi duduknya setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Winwin. Kini ia tengah menatap Winwin yang tengah asik melihat murid-murid berolahraga.
"Lagian buat apa juga gue percaya sama orang yang muncul dan ngilang secara tiba-tiba. Nggak jelas banget!" sambung Winwin kesal.
"Jadi lo lebih percaya sama Jaemin ya?" tanya pemuda itu terdengar getar. Hal ini pun lantas membuat Winwin meliriknya dengan heran. Biasanya orang dihadapannya ini selalu ngegas kalo ngomong. Tapi kok ini, terdengar kayak orang putus asa.
Setelah perdebatan yang cukup cepat berlangsung, pemuda itu akhirnya pergi meninggalkan Winwin yang masih kebingungan.
"Orang itu... gue bisa percaya dia nggak ya?"
🌱🌱🌱
Flashback malam di mana Mark jatuh...
Pada awalnya aksinya berjalan dengan lancar, namun tiba-tiba Jaehyun muncul dan mengehentikan aksi tersebut. Meski sempat terjadi aksi percekcokan di sana, Jaehyun berhasil menggagalkan aksi nekat Taeyong. Dia bahkan sukses buat pemuda Lee itu pergi dari tempat itu.
Sementara Jaehyun sendiri masih terdiam ditempat. Pandangannya lalu beralih ke arah gerbang sekolah yang bisa terlihat jelas dari atas. Terlihat jika Mark baru saja masuk kesana dengan wajah yang cemas. Jaehyun lantas mendekati ujung rooftop untuk melihat lebih jelas. Namun sial, karna habis diguyur hujan beberapa jam lalu lantai rooftop jadi licin. Dan karna tak hati-hati Jaehyun terpeleset dan jatuh ke bawah. Untung saja ia mampu menggapai ujung rooftop. Hal ini pun mengakibatkan tubuhnya terombang-ambing.
"Aish sial... nggak ada orang lagi! OY!!! ADA ORANG NGGAK DISINI!?" teriak Jaehyun kepada siapapun yang mampu mendengarnya. Kalo gini, Jaehyun akan jatuh dari rooftop.
Namun nasib baik ia alami. Doanya terkabul sudah. Secara tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya.
__ADS_1
"Jaehyun!?" Pekik Jisung kaget. Dengan segera, Jisung membawa tubuh Jaehyun ke atas dan menyelamatkan nya. "Kenapa lo bisa ada di sini?" Tanya Jisung was-was.
Jaehyun terdiam kebingungan. Mereka adalah sahabat lama yang sudah jarang berkomunikasi. Jaehyun merasa canggung pada Jisung. Belum lagi jawaban apa yang harus di berikan Jaehyun. Ia tidak mungkin bilang bahwa ia mengikuti Taeyong yang ingin bunuh diri di sini.
"Lo? kenapa juga malam-malam ada di sini?" Jaehyun belik bertanya. Mendengar pertanyaan Jaehyun, Jisung mengerutkan dahi nya. Kedua nya menatap satu sama lain dengan penuh tanda tanya besar. Sebenarnya siapa yang aneh disini?
Akhirnya Jisung mengalihkan pandangan. "Lo nggak perlu tau." Jawab Jisung. Jaehyun hanya mengangguk mengiyakan.
Mau tak mau Jaehyun harus mengesampingkan perasaan kepo nya akan pemuda tadi dan lebih memilih buat mencari Mark dulu. Dia menuruni tangga secara cepat takut Mark sudah pergi.
Tapi lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan munculnya sebuah suara. Suaranya seperti sesuatu jatuh dari atas. Kali ini pikirannya tak mau membayangkan hal-hal lain. Yang penting sekarang yaitu ia harus cepat-cepat tiba di sumber suara tersebut.
Buru-buru Jaehyun berlari menggiring tubuhnya menuju asal suara tersebut.Dan dirinya dibuat kaget ketika sampai di sana. Ia lihat Mark yang tadi ia cari tengah berbaring di lanta dengan lautan darah disekitarnya.
Dengan cepat, Jaehyun tiba di sampingnya dan segera merangkul tubuh Mark yang sudah lemah tersebut.
"Mark!!!" Teriak Jaehyun histeris. "Mark liat gue!!! jangan tutup mata lo!!! MARK!!!"
Napas Jaehyun sesak ketika melihat Mark yang batuk dengan napas memburu. Jaehyun menggeleng kan kepala takut.
"Jae... uhukkk! to-long. Jangan ben-ci dia. Dia- nggak sa-lah. To-long ja-ngan salahin dia" Mark merintih kesakitan. Dia kemudian menyerahkan sebuah surat pada Jaehyun.
"Nggak Mark! Lo nggak boleh pergi secepat ini hikss... Gue mohon lo tahan sebentar lagi Mark! Mark!!!"
__ADS_1
Jaehyun terlalu terkejut, yang ia lakukan hanya lah duduk di samping tubuh Mark yang sekarat dan terus menggumamkan kata-kata dengan suara yang bergetar. Tapi setelah itu kesadaran Mark langsung menghilang.
Jaehyun menangis sejadi-jadinya kala menyadari kalau Mark sudah tidak bernafas lagi. Tangis Jaehyun berhenti. Ia memandang tubuh Mark yang mulai mendingin dan segera membawa tubuh Mark ke rumah sakit untuk di bersihkan.