
Masih dirumah Jaemin, Yuta yang kini sudah tau kisah tentang Haechan dan Taeyong serta alasan dendam mereka menjadi geram. Dia tak rela kalau Taeyong yang ia kenal bisa berbuat setega itu.
Fly, perlu diingat juga, selain menceritakan masa lalunya pada Yuta dia juga memberitahu tentang perannya disini. Dimana dialah yang bertugas untuk membuang seluruh bukti atas semua aksi yang Taeyong dan Jaehyun lakukan. Tak lupa dia juga yang sudah meletakkan semua kertas emoticon didekat para korbannya. Katanya untuk seru-seruan.
"Dasar bajing*n tak beradap kau Lee Haechan!" umpat Yuta sejadi-jadinya.
Mendengar kata tersebut membuat Haechan melengkungkan bibirnya sinis. Tatapan matanya berubah lebih tegas. Pemuda Lee itu sekali lagi mendekati tubuh Yuta yang tengah diliputi emosi.
"Gue suka! ayo Yuta tunjukkin ke gue seberapa kesalnya lo. Lampias-in semua, gue mau lihat gimana caranya lo membalasnya!" tantang Haechan begitu memancing emosi.
Yuta mengerang. Tangannya dengan cepat memukul sudut bibir Haechan hingga terkoyak. Darah segar mulai mengalir dari sana. Namun oknum bernama Lee Haechan malah tertawa girang.
Memang sudah gila mungkin. Meski dihujani berulang kali pukulan yang cukup keras, nyatanya tak membuat Haechan kapok. Pemuda itu terus saja tertawa sambil menatap Yuta yang kesetanan.
"Kenapa? Belum puas-kan? Gue tau lo itu lemah Yuta. Pukulan lo cemen!" desis Haechan.
BUG !!
BUG !!
BUG !!
"MATI SAJA KAU LEE HAECHAN!!!" teriak Yuta sambil mengayunkan pukulannya tepat ke rahang lawannya.
Haechan tersungkur untuk kesekian kalinya. Dia menatap Yuta dengan sengit. Sedangkan Taeyong dan Jaehyun masih mematung di tempatnya dan sepertinya tak punya keniatan untuk memisahkan pertengkaran ini.
__ADS_1
"Hahaha" tawa Haechan sungguh tak meng-enakan. "Elo sama cemennya sama Chenle. Orang itu, bahkan pemuda itu rela menyerahkan nyawanya secara percuma ke Jaehyun. Dia pengecut! Orang paling tak waras!" cibirnya.
"Oh ya, lo pasti kepo dengan kisah akhir mengenaskan seorang Chenle. Mau gue ceritain, Yuta?" tawar Haechan menatap Yuta. Dia belum berubah dari posisinya.
Yuta terdiam. Dia tak menjawab iya maupun tidak. Tapi Haechan malah memulai kisah Chenle yang menurut Yuta itu terlalu sakit bila diceritakan.
Flashback kematian Chenle...
Setelah kepergian Jaemin guna menyelamatkan pertengkaran antara Jisung dan Hyunseok. Chenle masuk ke rumahnya dengan perasaan sedih. Pemuda itu terus menundukkan pandangannya.
Chenle lelah. Hidup dalam bayang-bayang peneror sungguh membuatnya kewalahan.
Ingin rasanya ia menyerah dan pergi dari sini sejauh mungkin. Mencoba untuk menghindari semua orang yang dia kenal. Dia takut. Saat ini tak ada yang bisa dia percayai. Bahkan anggota Treasure sekalipun.
Ingin sekali dia membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk beristirahat sejenak. Mungkin besok pagi keadaannya akan membaik. Dia berdoa agar Jisung baik-baik saja.
Srat!
"Akh!!" pekik Chenle saat tiba-tiba sebuah tali ditarik melewati lehernya. Pemuda itu langsung terpojokkan ke dinding mengikuti arah tali yang ditarik.
"Akh....akh sakit....!" rintih Chenle sembari mencoba merenggangkan tali yang membelenggu lehernya. Nafasnya terlihat mulai tersengal. Mungkin efeknya.
Pemuda itu terus memberontak. Melonggarkan tali merupakan jalan satu-satunya. Dia terus saja mencoba meski nafasnya semakin lama semakin sulit.
"Sstttt!" seru seseorang lalu.
__ADS_1
Bruk!
Jangan membayangkan hal buruk dulu. Ini tak seperti dipikiran kalian. Chenle masih baik-baik saja. Bahkan pemuda itu masih selamat dan bernafas dengan lebih baik.
Suara itu nyatanya bukan hal buruk. Itu adalah suara seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk tubuh Chenle dari belakang. Dia juga mengendurkan tali yang membelenggu leher Chenle hingga pemuda Zhong itu kembali bernafas secara normal.
"Siapa?" tanya Chenle mencoba membalikkan pandangannya. Ia mencoba membuat kontak mata dengan orang dibelakangnya. Namun langsung dicegah.
"Sstttt!" orang itu kembali berbisik tepat di samping telinga Chenle. Dia lalu meminta Chenle untuk diam sementara dirinya terus saja menahan tubuh Chenle.
Chenle terdiam. Pemuda itu hampir saja meneteskan air matanya saking takutnya. "Elo siapa? Kenapa nahan gue? Gue punya salah apa sama lo?" tanya pemuda Zhong itu mencoba berinteraksi.
"Apa lo datang buat bunuh gue?"
"Hmm" hanya deheman yang terdengar. Namun hanya dengan itu saja, Chenle bisa dengan mudah mengenali siapa pemilik suara itu. Dia bisa tau siapa sosok dibelakangnya.
Dengan suara bergetar, Chenle menyebutkan nama orang itu. "Jae-jaehyun. Itu lo? Tapi kenapa?"
Jaehyun sontak melepaskan pelukannya pada tubuh Chenle. Dia melangkah mundur saking kagetnya. Bagaimana Chenle bisa tau kalau ini dirinya ??
Sedangkan Chenle masih mematung ditempatnya. Tali yang tadi membelenggu lehernya masih ada tapi tak menjeratnya dengan keras.
Sunyi. Keadaan meredup untuk beberapa saat. Baik Chenle maupun Jaehyun saling terdiam. Mereka bahkan tak bercakap-cakapan. Apalagi melakukan kontak mata.
Namun tiba-tiba...
__ADS_1