
"Ka Jaehyun tunggu!" panggil Jeno muncul dari balik pohon dekat sekolah. Pemuda Lee itu datang dengan membawa sebuah paper bag besar ditangan kanannya.
"Nih!" serah Jeno memberikan paper bag tersebut pada Jaehyun.
Jaehyun yang tak tau apa-apa langsung mengerutkan dahinya kebingungan. "Buat gue?" Jeno menggelengkan kepalanya ambigu. Jaehyun benar-benar tak tau apa maksudnya.
" Buat Jaemin. Dia minta dibawain itu. Elo aja yang nyerahin itu sama dia, sekalian masuk ke kelas" pungkas Jeno lalu membelokkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dari kelas.
"Elo mau kemana? Emangnya nggak bisa nyerahin ini sendiri?" cegat Jaehyun.
Tanpa membalikkannya badannya lebih dulu. Jeno segera menanggapi ucapan Jaehyun. "Gue ada urusan, ini penting. Nggak ngrepotin kan?"
"Nggak sih, tapi kan lo saudaranya. Kenapa mesti di serahin ke gue?" tanya Jaehyun kembali.
Jeno membalikkan tubuhnya menghadap Jaehyun yang tengah diliputi rasa kebingungan. Sementara Jaehyun, dirinya malah memasang senyum simpulnya sebagai pemanis keadaan. Ia rasa suasana di sini terlalu kaku. Entah mengapa ini terasa sedikit canggung. Mungkin karna keduanya jarang berbicara empat mata.
"Buat lo!" ucap Jeno menyodorkan sebuah plester. Kedua bola mata Jaehyun membulat dengan sempurna lantaran tak mengerti tujuan pemuda dihadapannya itu. Dia mengangkat bahunya kebingungan.
"Itu!" tunjuk Jeno ke arah lengan Jaehyun yang tergores. "Mungkin nggak terasa sakit, tapi kalo dibiarin bisa infeksi. Obatin dulu!"
Jaehyun menganggukkan kepalanya paham. Dia segera mengambil plester pemberian Jeno dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Jeno segera pergi dari tempat itu begitu Jaehyun selesai menempelkan plester tadi ke lukanya. Dia pergi meninggalkan Jaehyun yang tengah kebingungan mencari keberadaannya yang menghilang dengan cepat.
"Jen...Ya elah udah kabur aja tuh anak. Padahal gue mau ngomong sesuatu" keluh Jaehyun melirik sekitarnya.
Kepergian Jeno begitu cepat hingga jejaknya tak bisa ditemukan. Ini berita bagus dong bagi Jaehyun. Pemuda itu bisa dengan mudah melepas plester yang baru ia pasang tanpa ketahuan.
Tanpa menunggu lama lagi dia segera mengelupas plester yang melekat di kulitnya dengan cepat. Tak lupa ia buang ke tempat sampah sekalian.
__ADS_1
"Beres, dah bersih sekarang" puji Jaehyun tersenyum senang. Pandangannya tampak begitu senang melihat tangannya yang sudah terbebas dari plester.
Namun selang beberapa detik kemudian, senyumnya langsung sirna dan berganti dengan wajah dingin. Jaehyun lalu memandang luka di tangan kanannya dengan serius.
"Nggak berasa, luka sedalam ini bahkan nggak ada apa-apanya. Mau di plester atau enggak, apa bedanya?" kata Jaehyun lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Jaehyun menatap lagi ke depan. "Lo berubah Jen, seolah lo dan gue nggak pernah punya hubungan. Lo dingin banget sekarang sama gue kalo di sekolah".
🌱🌱🌱
Bagi Jaemin, hari ini bisa dibilang sebagai hari paling berkabung. Dalam sehari saja ia dapat tiga kabar yang mengejutkan.
Hasil tes DNA dari jasad yang terbakar di rumah Winwin sudah keluar dan menurut dokter itu jasad dari Jisung. Ya, itu Jisung bukannya Winwin.
Jaemin pun tak tahu bagaimana bisa Jisung ada didalam rumah itu dan ikut terbakar. Ia masih menduga kalau rumah Winwin memang sengaja dibakar oleh seseorang. Jaemin tak mau terlalu yakin sebab hasil penyelidikan polisi belum keluar.
Dan kabar ketiga mengenai Renjun meninggal karena overdosis infus.
Jangan tanya lagi gimana reaksi Jaemin begitu mendengar semua ini. Sungguh. Semua diluar pemikiran Jaemin. Dia tak pernah menyangka akan mendapat kabar se-mengejutkan ini dalam satu hari yang sama.
Apalagi ayah Jisung, dia sampai menyewa para detektif handal buat menangani kasus ini. Tak hanya dari Korea, ia bahkan menyewa detektif dari USA yang dikenal hebat. Ia tak mau pelaku pembunuh anaknya berkeliaran dengan bebas.
Pak Park juga menganggap bahwa kasus ketiganya dilakukan oleh satu orang yang sama. Sebagai info saja, tak jauh dari tempat kematian Renjun dan tempat kebakaran ditemukan sebuah kertas emoticon tersenyum begitupun jembatan tempat Winwin jatuh juga ditemukan gambar emoticon.
Hal inipun membuat para polisi tambah yakin bahwa ketiga memang dilakukan oleh satu orang yang mungkin saja teman dekat ketiganya. Benarkah seperti dugaan kalian?
Jangan lupakan juga kasus kematian Lucas, Chenle dan Mark. Bukankah itu patut dimasukkan dalam list. Ketiganya merupakan teman satu sekolah dan meninggal dengan cara yang berbeda-beda. Namun selalu ada kertas emoticon di tempat kejadian.
Sepertinya yang Jaemin duga, pelakunya pasti salah satu teman sekelasnya. Dia yang mengetahui seluk beluk tentang teman-temannya. Dia yang tahu tempat dan kapan waktu yang tepat buat beraksi.
__ADS_1
Pelakunya pasti salah satu dari mereka. Atau dirinya sendiri bisa saja. Siapa yang tahu?
Selama ini Jaemin bekerja keras mencari siapa pelakunya. Dia dan Renjun bahkan sering pulang malam demi mendapatkan sedikit petunjuk yang mungkin bisa mereka dapatkan demi menguak misteri ini.
Sudah berbagai tempat kedua orang itu datangi. Mulai dari tempat yang sepi, ramai sampai penjara mereka datangi. Namun disaat semua mulai mendapatkan titik terang, pelaku itu kembali beraksi untuk memakan korban. Tidak tanggung-tanggung tiga sekaligus.
Jaemin muak. Kalau terus dibiarkan bisa-bisa ia mati karena stres. Baru saja ia dapat sebuah info penting dari Renjun, tapi pelaku malah melenyapkannya. Atau jangan-jangan dia tau kalau sebenarnya Renjun itu sudah tau siapa dirinya?
Makanya ia bunuh Renjun supaya identitasnya tidak terbongkar.
Tau gitu, seharusnya Jaemin minta Renjun semua info yang dia punya. Biar Jaemin pun tau siapa orang dibalik semua keributan ini. Supaya masalah ini cepat kelar dan kehidupan bisa berjalan normal kembali.
Dia baru lihat satu foto dari Renjun belum dengan foto yang lain yang berhasil pemuda Huang itu dapatkan. Andai saja malam itu Jaemin menginap lebih lama atau andai saja malam itu ia berinisiatif buat ngambil laptop Renjun yang tertinggal di rumah pasti masalah ini bakal cepat berakhir.
Dalam benaknya, begitu sampai di rumah Renjun pasti keadaannya ramai oleh sanak saudara yang masih berkabung. Orang-orang mungkin saja masih ada di sana menemani kedua orang tua Renjun.
Namun bukannya pemandangan itu yang Jaemin dapatkan, ia malah melihat keluarga Renjun tengah menangis melihat keadaan rumahnya yang berantakan karna dirampok. Semua harta bendanya tercecer. Hancur, pecah, tak beraturan. Pintu dan kaca rusak parah. Pot-pot tanaman pecah semua.
Semua keluarga Renjun tanpa terkecuali menangis histeris. Begitupun Jaemin yang tak tega menyaksikan semua nasib sial yang mereka alami setelah ditinggal anak tercinta. Jaemin bahkan sampai tak kuasa untuk menemui kedua orang tua Renjun. Dia rasa kedatangannya kemari hanya akan menambah beban mereka. Jadi ia memutuskan untuk diam saja dan pergi secara diam-diam.
Langkahnya perlahan menjauh meninggalkan kediaman keluarga Huang yang tengah diliputi duka. Pandangannya tak sanggup ia angkat. Begitu berat beban yang harus ia tanggung. Jaemin rasanya tak akan sanggup buat berdiri dengan tegap. Memikirkannya saja bisa buat kepalanya meledak.
Tapi tunggu, sepertinya ada yang mencurigakan. Secara samar-samar, mata Jaemin menangkap sebuah keanehan di salah satu sisi pagar rumah Renjun. Ia memutuskan buat melihatnya secara dekat.
Dan setelah tiba, Jaemin melihat ada sebuah kertas emoticon dan sebuah bandul bertuliskan nama Taeyong.
Setelah diingat lagi, Jaemin ingat siapa pemilik bandul itu. Ia ingat kalau itu punya Jeno.
Apakah ingatannya benar?
__ADS_1