
Renjun mendongakkan kepalanya kala mendengar suara pintu terbuka. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tak terdengar suara aktivitas orang diluar.
"Hai bro!" sapa Haechan memasuki ruang rawat Renjun. Dibelakangnya ada Jaemin yang membawa sekantong keresek hitam.
"Kok belum tidur sih? kirain dah molor" celetuk Haechan sambil menduduki kursi disamping ranjang Renjun. "Tuh gue bawa oleh-oleh buat lo. Masih anget buruan dimakan!"
"Kan gak diizinin makan makanan dari luar. Emang apa tuh?" jawab Renjun melongok kantong yang Jaemin beri.
"Popcorn?" Sontak Renjun mengerutkan dahinya kebingungan. "Kok popcorn sih njir! ? " protes Renjun heboh.
Haechan menyambar popcorn yang tadi ia bawa. Ia taruh makanan tersebut lalu melahapnya. "Terus apa? Martabak? Seblak? Bakso. Lo jadi orang nggak ada terima kasihnya. Untung aja kita bawain makanan"
"Tapi kan jangan popcorn. Yang lain bisa, buah kek atau roti. Yang buat kenyang aja"
"Nggak usah banyak protes tinggal makan apa susahnya sih!?" protes Jaemin ikut menyambar popcorn ditangan Haechan.
Renjun melirik kedua orang itu dengan sebal. Darimana ceritanya jenguk orang sakit bawa popcorn. Emangnya ini bioskop. Namun pada akhirnya ia mencoba menghempaskan semua rasa kesalnya.
"Kok berduaan aja? Yang lain mana?" tanya Renjun.
"Sibuk Njun" balas Haechan lalu mengambil ponsel dari saku jaketnya. "Kalo Yuta, biasa lagi ngikut bokapnya makan malam bisnis. Hendry lagi jaga bar, jadi cuma kita berdua yang sempet jenguk elo
"Jisung?"
Haechan melirik Renjun sesaat kemudian menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Pandangannya lalu beralih ke Jaemin yang mungkin tau perihal teman-temannya. Namun rupanya sama saja. Pemuda kelinci itu hanya mengangkat bahunya.
Renjun menghela nafas lemah. "Ada yang tau kabar Winwin nggak? Kok dia nggak masuk tadi pagi?"
"Sama. Gue juga belum dapat info apapun. Mungkin Winwin ada urusan mendadak" balas Jaemin. "Yang gue tau sih kabar Jeno. Dia lagi di rumah, rebahan mungkin"
"Yaelah Jaem! Kalo dia nggak perlu nanya, udah tau jawabannya" saut Haechan sewot. Jaemin cengengesan ngerasa bersalah. Namun setelah itu, senyum nya hilang mengingat kejadian Jeno malam itu.
Mencoba untuk mencairkan suasana yang dinilai terlalu kaku, Renjun berinisiatif untuk mengeluarkan jurus andalannya yaitu camilan enak nan lezat. Beruntungnya ibu Renjun membawa buat jaga-jaga saat sore tadi.
"Gue ada camilan enak loh!" tawarnya. Kedua temannya sudah pasti senang. Apalagi ini gratis.
Jadi lucu, disini bisa dilihat mana anak yang bener dan yang enggak. Pada umumnya, orang-orang yang datang menjenguk pasti bawa makanan beberapa buah misalnya. Tapi disini malahan Renjun yang ngasih makanan buat yang jenguk dia.
__ADS_1
Renjun segera mengambil bungkusan camilan yang dimaksud. Sedangkan kedua pihak yang tak tau malu itu, menunggu dengan sumringah.
Camilan ditaruh dan dalam waktu sekejap saja tinggal setengah. Memang rakus mereka. Kalo soal makanan aja semangat 45. Mirip-miriplah kayak gelandangan dijalan.
Renjun hanya mengecap bibirnya pasrah kala menyaksikan kedua temannya yang berubah jadi ikan piranha saat bertemu daging. Dia mencoba buat senatural mungkin menanggapi kerakusan dua manusia dihadapannya ini.
"Oh ya Jaemi gue ingat sekarang" ujar Renjun lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di laci. Dia kemudian memencet benda pipih itu lalu memencet ikon bernama galeri.
"Gue udah nemu siapa yang chat sama sherlock ke hp Ten pas Lucas meninggal " papar Renjun menunjukkan sebuah foto.
Jaemin segera mendekat guna melihat. Wajah orang yang Renjun maksud. Tak ketinggalan Haechan juga ikutan nimbrung karna kepo.
"Oh jadi dia Njun. Apa jangan-jangan dia yang udah-"
"Ekhem...!" sela Renjun mencoba mengingatkan kalo masih ada Haechan diantara mereka.
Jaemin yang belum peka langsung menatap Renjun bingung. Sedangkan pemuda Bang itu memberikan kode lainnya pada Jaemin hingga pemuda kelinci itu mengerti.
Jaemin membuka mulutnya lebar-lebar sambil bergumam cukup keras. Dan aksinya itu malah mendapat tanggapan keras dari Renjun. Pemuda Zhong itu langsung memukul punggung Jaemin hingga si empu berteriak dengan lebay.
"Aww!"
"Kalo gitu gue keluar sebentar dulu ya?" ungkap Haechan menegakkan tubuhnya. Kedua orang dihadapannya langsung menatap keheranan.
"Ke kantin" saut Haechan yang segera dapat tanggapan dari mereka berupa kata 'oh'.
Setelah mendengar kalimat yang cukup mengejutkan, Renjun dan Jaemin tak mengalihkan pandangannya pada Haechan hingga pemuda Lee itu menghilang dari ruangan tersebut. Baru setelah memastikan Haechan benar-benar sudah menghilang, keduanya mulai berdiskusi.
"Lo yakin dia orangnya? Bukannya itu Lucas sendiri?" tanya Jaemin membuka percakapan ini.
Renjun menganggukkan kepalanya yakin. "Seratus persen gue yakin. Gue juga punya rekamannya Jaem, tapi semua ada di laptop. Besok gue bakal tunjukin. Sebelum Chenle meninggal, dia dan gue udah nyelidikin beberapa kasus Jaem. Sorry nggak ngajak lo karena situasi nya nggak mendukung"
"Santai aja Njun, gue malah terimakasih karena kalian berdua segitu peduli nya sama teman-teman kita yang udah meninggal" senyum Jaemin. "Soal Taeyong, lo udah tau belum dia ada dimana?" tanya Jaemin.
Kali ini Renjun menggelengkan kepalanya malas. "Belum Jaem. Apa lo juga berpikir ini ada hubungannya dengan dia?"
Jaemin terdiam pandangannya beralih menatap jendela sementara Renjun menatapnya penasaran. Jaemin tak sadar kalau Renjun sedang menunggu dia bicara hingga pada akhirnya Renjun harus menyikut tubuh dia supaya sadar.
__ADS_1
"Oy? " panggil Renjun. "Ditungguin kok malah diem? Kenapa?"
"Menurut lo mungkin nggak sih kalo pelakunya itu bukan Taeyong tapi ada diantara kita?" duga Jaemin.
"Bisa jadi sih" balas Renjun menanggapi.
"Tapi alasannya apa?"
"Dendam! Kita kan nggak tau apa yang ada di pikirannya orang itu. Mungkin aja dia punya dendam sama kita "
"Kecuali lo dan Jeno" lanjut Renjun.
Jaemin tersenyum mendengar ucapan Renjun yang mengatakan kalau pelakunya mungkin tak punya dendam padanya. Namun sekarang ia tak yakin akan hal itu. Terlepas dari fakta dirinya yang saat ini sedang menyelidiki kasus ini. Ia yakin pasti pelakunya tau fakta kalau dirinya mulai terlibat.
Namun bukan itu yang Jaemin khawatirkan. Ia tak mengkhawatirkan pasal pelaku yang mungkin saja mulai menargetkan dirinya lantaran keikutsertaannya dalam kasus ini. Bukan itu, tapi foto itu. Foto yang Renjun tunjukkan tadi. Hal itulah yang tengah menggangu pikirannya sekarang.
Setelah mengingat lagi, Jaemin sadar kalau dia pernah bertemu dengan pemuda di foto itu. Dia pernah melihat orang itu berbicara dengan Jeno di halaman rumah beberapa kali. Yap bukan sekali saja. Bahkan itu bisa dibilang sering hingga Jaemin tak bisa menghitungnya dengan jari.
Sekarang ia mulai bertanya-tanya ada hubungan apa orang itu dengan kasus? Apa dia pelakunya? Tapi Jaemin rasa bukan. Jika dia pelakunya buat apa dia chat Renjun? Atau jangan-jangan dia itu yang namanya Taeyong? Jeno dan Taeyong saling kenal bukan?
Terlepas dari semua itu, ada satu fakta yang tak Renjun serta Jaemin tau. Fakta kalau Haechan tak benar-benar pergi dari sana. Nyatanya dia masih berdiri di balik pintu dan mendengarkan semua pembicaraan.
"Si*l!" Umpat Haechan lalu benar-benar pergi dari sana.
🌱🌱🌱
Jaemin duduk sendiri di ruang tunggu rumah sakit. Isi kepala nya sekarang di penuhi oleh Jeno dan Taeyong. Kedua orang yang menurut nya sangat misterius akhir-akhir ini. Jaemin yang notabene yang adalah kembaran dari Jeno pun merasa asing dengan saudara nya itu.
Jaemin menggigit kuku nya karena gelisah. Ia juga belum tau kabar tentang target kemarin. Jisung dan Winwin seolah menghilang dalam sehari.
"Chenle?" gumam Jaemin. "Haha... kenapa gue malah ingat Chenle di saat gue sendiri?" Jaemin mendongakkan kepala. Ia rindu Chenle. Biasanya Chenle akan berceloteh panjang lebar padanya. Menceritakan semua kisah tentang para sahabat mereka.
"Jaemin?"
Pemuda kelinci itu menoleh. Ia menatap sendu pada sosok manusia yang tengah berdiri tak jauh dari kursi nya.
Ditambah dengan sosok itu yang juga menatap nya dengan mata lelah dan napas memburu.
__ADS_1
"Jeno"
...