"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 39


__ADS_3

"Nana makan dulu, bibi udah buatin sup kesukaan Nana. Dimakan mumpung masih anget!" tawar bibi berdiri didepan kamar tidur Jaemin.


Ngomong-ngomong ini udah ketiga kalinya bibi nawarin makanan tapi selalu ditolak dengan alasan udah kenyang padahal Jaemin belum makan semenjak pagi tadi.


Padahal kegiatan yang Jaemin lakukan sedari tadi hanya duduk saja. Semua buku pelajaran pun ditutup. Hanya ada satu yang terbuka yaitu laptop miliknya yang memperlihatkan foto dirinya bersama Jeno.


"Nana mau bibi buatin bubur? Bibi buat sekarang ya? Nanti kalo laper ambil aja ke dapur "tawar bibi.


"Nggak perlu Bi. Bibi pulang aja, udah malem" tolak Jaemin lemas.


Terdengar suara helaan nafas cukup keras dari luar. Itu pasti asalnya dari bibi. Jaemin langsung memandang pintu kamarnya dengan sedih. Ia tak suka kalau membuat bibi kecewa. Tapi sekarang ia benar-benar tak bernafsu buat makan.


Jaemin bangkit dari kursi. Niatnya tadi mau bilang ke bibi supaya pulang saja dan tak usah mengkhawatirkan dirinya karna ia pasti akan makan jika lapar. Jaemin tak mau jika bibi terus memikirkannya.


Namun semua itu tak jadi Jaemin lakukan karna bibi memilih untuk pergi. Jaemin pun bernafas lega setelah mengetahuinya.


Setelah kepergian bibi tinggal dia seorang dirumah ini. Ayah dan ibunya masih pergi buat berkerja sementara Jeno, kalian tau sendiri kemana dia.

__ADS_1


Kesepian? Tentu saja. Pada awalnya Jaemin merasa kesepian. Tapi untuk sekarang dia mau mencoba tuk beradaptasi.


Ting!


Ponsel Jaemin berbunyi. Pemuda itu kemudian melirik layar ponselnya. Ternyata itu dari Yuta. Buat apa juga tuh anak ngirim pesan malem-malem? Jaemin aja males buat baca. Ia lebih memilih tuk membaringkan tubuhnya ke kasur.


Rasanya berat. Kelopak matanya hampir saja terpejam. Hingga tiba-tiba sebuah bunyi pecahan kaca membuatnya bangkit kembali.


Prang!!!


Apa mungkin itu tikus?


Jaemin mencoba untuk mengacuhkan suara tersebut. Masa bodoh dengan tikus atau semacamnya. Toh ini udah malam. Kalaupun itu maling ada pak satpam nanti yang tangani. Canda. Jaemin tak mungkin secuek itu.


Buktinya saja, pemuda itu segera bangkit begitu mendengar suara langkah kaki yang begitu mencurigakan. Ia mengendap, mencoba mencari celah di pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Memang sengaja dibuka sedikit, supaya maling itu tak menemukan keberadaannya.


Mata Jaemin menelisik. Mencoba meraup gambar dari sekitarnya secepat mungkin. Rupanya gelap. Tak ada apapun yang bisa dia temukan. Namun telinganya selalu menangkap suara langkah kaki seseorang.

__ADS_1


Dalam suasana yang bisa dikatakan genting, laptop Jaemin tiba-tiba berbunyi. Pemuda itu gelagapan setengah mati saat menyadari suara langkah kaki tersebut mulai mendekat. Dia segera menyembunyikan tubuhnya dibalik lemari.


Oh ingin rasanya Jaemin memaki benda tak berguna itu. Disaat genting seperti ini kenapa laptopnya tidak mau berkompromi.


"Heh berhenti nggak! Berhenti sekarang juga!" maki Jaemin pada laptop miliknya yang terus menerus berbunyi.


Ting!


Ting!


Ting!


Laptop tersebut terus menerus berbunyi yang membuat Jaemin mau tak mau harus segera bertindak. Kakinya melangkah dengan pelan mencoba mendekat. Namun baru beberapa langkah saja tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan lebar.


Tepat di sana seseorang dengan jaket hitamnya tengah menatap Jaemin dengan pandangan berbinar. Orang tersebut mendekati Jaemin dengan cepat dan langsung meraih tubuh pemuda Lee itu ke dalam pelukannya.


Jaemin melotot tak percaya...

__ADS_1


__ADS_2