
Yuta tersenyum sinis. Dalam situasi genting begini, dia sempat-sempatnya buat tersenyum ke arah Haechan. "Dasar iri. Seharusnya lo masuk lagi ke tim kita. Lihatlah sendiri, apa NCT itu cuma kelompok yang mengincar popularitas atau cuma kelompok biasa. Lo rindu kita semua, kan?" balas Yuta.
Bukannya melonggarkan cengkraman tangannya, Haechan justru semakin mengencangkannya yang membuat Yuta batuk-batuk.
"Rindu lo bilang?" ucap Haechan penuh penekanan. "Dengar ya Yuta, gue sama sekali nggak rindu kalian. Bagaimanapun caranya gue bakal habisin seluruh anggota Dream tanpa ampun!"
Haechan melepaskan cengkraman tangannya pada Yuta yang membuat pemuda Nakamoto itu terbatuk-batuk. Yuta merasakan sedikit sesak. Dia mengedarkan pandangannya menatap Jaehyun yang perlahan menjauh menuju pintu darurat.
"Gue tau lo orang baik Jae, jangan lo termakan hasutan busuk Haechan.. uhukkk" usut Yuta.
Jaehyun terhentikan langkahnya. Dia berbalik kembali menatap tubuh Yuta yang tengah terbatuk-batuk di lantai. Sedangkan Haechan melirik dengan kesal.
Yuta berdiri dengan sempoyongan. "Jaehyun, lo dendam karena Taeyong kan?" cerocos Yuta sambil menatap Jaehyun secara cermat.
"Lo nggak terima ya, mantan leader NCT itu ngilang? Jadi lo dendam sama member Dream?"
Haechan sudah siap baku hantam jika saja ia tak dihentikan oleh Jaehyun. Pemuda Jung itu melarang Haechan untuk bertindak.
"Dendam ya?" saut Jaehyun dengan senyum sumringah. Dia kemudian berjalan mendekati Yuta secara pelan-pelan.
__ADS_1
"Gue pasti bener!"
"Mau denger dongeng malam gak sebelum tidur?" tawar Jaehyun mengalihkan topik pembicaraan. Sontak Yuta berubah kebingungan. Raut wajahnya langsung berubah drastis.
Pada detik selanjutnya Jaehyun mengajak Yuta untuk duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari sana. Dia menuntunnya dengan sabar. Beruntungnya Jaehyun, sebab Yuta tak melawan sedikitpun.
Didudukkan Yuta dengan sopan. Sedangkan Jaehyun berdiri dibelakangnya. Pemuda Jung itu kemudian menyentuh pundak Yuta secara lembut.
"Dongengnya berkisah tentang seorang pangeran dan pembantu emosinya. Terdengar menarik bukan?" kata Jaehyun.
Yuta terdiam merenung. Dia menatap Haechan yang tengah mengamati kedua orang itu dengan bahagia.
Tapi Yuta juga tak punya alasan untuk menolak cerita Jaehyun.
Sang pangeran yang melihat aksi pertengkaran itu menjadi geram. Dia tak suka kalau istana miliknya dijadikan tempat untuk bertengkar. Oleh sebab itu, dia memanggil seorang pembantu untuk menghiburnya.
Tak lama kemudian, pembantu itu datang dengan tergesa-gesa. Nafasnya sungguh tak beraturan.
Sang pangeran bicara pada pembantu kalau dirinya sedang sakit dan butuh bantuannya. Si pembantu langsung berkata kalau dia bersedia untuk berbuat apapun asalkan pangeran bisa sembuh.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, sang pangeran langsung melancarkan aksinya untuk mendorong pembantunya itu. Sang pembantu jatuh dan mati ditempat. Tapi sang pangeran malah tertawa dengan senang. Dia amat menyukainya.
Dan nama pangeran itu adalah Alex, Alexithymia. Baguskan ceritanya?" tanya Jaehyun dengan senyum sumringah.
"Bodoh, cerita begitu dianggap bagus!" desis Haechan pelan.
Jaehyun melirik Haechan secara cepat membuat pemuda Lee itu sedikit gelagapan. Pada akhirnya, Haechan ikut tersenyum ketika pemuda dihadapannya itu tersenyum riang padanya.
"Yap, itu memang cerita bodoh Lee Haechan. But, i like it"
BRAK!!!
Ketiga pemuda yang tengah duduk itu pun menoleh ke dinding yang baru saja runtuh. Ada sosok manusia, pelaku robohnya dinding rumah Jaemin itu.
"Hehe... baru balik bang?" tanya Haechan sumringah.
Dia adalah kakak kandung dari Haechan, Lee Taeyong.
Taeyong yang penuh darah terdiam melihat Yuta yang terkejut melihat nya. Lalu Taeyong memutuskan kontak mata itu, ia beralih pada Jaehyun.
__ADS_1
"Kenapa belom di bunuh?" tanya Taeyong sambil menaikan sebelah alis nya.
Jaehyun dan Haechan saling pandang. Sepertinya Taeyong marah karena Yuta belum juga terbunuh dan mereka malah asik bercerita.