
Hyunjin berlarian menuju jembatan tempat Winwin jatuh. Wajahnya tampak sekali khawatir. Pemuda itu tak henti-hentinya merapal kan permohonan supaya Winwin selamat. Dia sama sekali tak mau hal-hal buruk terjadi.
Setelah menyadari Winwin yang pergi tanpa pamit, pikiran Hyunjin sama sekali tak bisa berpikir positif. Ia amat ketakutan.
Bagaimana jika perkataan orang itu benar? Bagaimana jika ia gagal di sini sama seperti ditempat itu? Bagaimana jika semuanya memang percuma? Bagaimana jika mereka semuanya mati seperti dalam ucapan orang itu?
"Winwin memang ditakdirkan untuk mati. Entah itu karna kecelakaan, dibunuh, atau ketidaksengajaan. Dia memang ditakdirkan untuk lenyap. Bahkan dia bisa saja mati karna berkorban!"
Sungguh memikirkannya saja sudah membuat Hyunjin frustasi apalagi jika semuanya benar-benar terjadi. Hyunjin tak tau ia akan bertindak seperti apa. Mengingat ia sudah bekerja keras mencegah semua kejadian ini. Tapi hasilnya sama saja.
Pemuda berambut panjang itu akan sangat menyesal jika ia tidak berhasil menyelamatkan Winwin. Cukup satu kali Hyunjin ceroboh dan berakhir kehilangan Jeno. Kali ini ia tidak mau lagi kehilangan.
Dari tempatnya berdiri dia dapat melihat orang yang tengah ia cari sedang berada di depan zebra cross dengan pandangan kosong. Pemuda putih itu tampak sekali tak berkonsentrasi.
__ADS_1
Mulutnya terus saja mengucapkan kata-kata yang Hyunjin sendiri tidak tau apa itu. Tangannya bergetar dan pandangannya tampak kosong. Satu langkah kecil saja mungkin tubuhnya akan tertabrak kendaraan yang melintas.
"Winwin? anak itu selamat!" gumam Hyunjin lega menatap Winwin mengangkat salah satu kakinya bersiap untuk menyebrang jalan. Pemuda itu tak tau kalau dari arah kanannya ada sebuah truk yang melaju cukup kencang. Dan sepertinya truk itu tak ada niatan untuk berhenti sebab lampu lalu lintas masih menunjukkan warna hijau.
"WINWIN!!!" Teriak Hyunjin
Namun pemuda berambut panjang itu seketika terdiam. Darah Hyunjin mendadak berdesir dengan kuat. Pandangannya terbuka lebar kala penglihatannya menangkap sebuah momen yang akan ia ingat seumur hidupnya. Dimana pemuda bernama Winwin itu tengah berjalan menembus jalan dengan sebuah truk yang melaju ke arahnya.
Kata khawatir saja tak bisa menggambarkan bagaimana keadaan Hyunjin sekarang. Dia amat takut. Serius, seluruh badannya tiba-tiba membeku seluruh badannya tiba-tiba membeku kala menyaksikan kejadian tersebut.
Suasana mendadak berhenti sejenak. Bagai dihentikan sang waktu, Hyunjin bisa melihat tubuh Winwin yang ditarik seseorang ke trotoar. Jangan lupakan rintikan hujan yang turun menambah dramatis aksi penyelamatan itu.
Dari tempatnya, Hyunjin bisa melihat orang tersebut merintih kesakitan. Mengeluh sikap ceroboh Winwin.
__ADS_1
"Syukurlah gue masih bisa nyelametin lo" katanya mencoba bangkit. Dia lalu beralih menatap objek yang berhasil ia selamatkan." Loh elo? Winwin kok lo lagi sih!?"
"Hyunjin, gue butuh bantuan lo buat nyelametin teman-teman gue" ucap Winwin pada orang dihadapannya.
"Memangnya mereka kenapa?"
"Mereka semua bakal mati, Hyunjin harus bantuin gue selamatin mereka!"
Hyunjin hanya bisa mematung ditempatnya melihat Winwin yang tengah berbicara dengan orang yang dia anggap sebagai dirinya.
Winwin tak salah kok. Itu memang benar Hyunjin, tapi dari waktu yang berbeda. Dia dan orang itu datang kemari untuk sebuah misi. Yaitu menyelamatkan seluruh member yang tersisa.
Begitu lah cara Hyunjin mengungkapkan kasus teror pembunuhan berantai ini. Karena ia datang dari masa depan. Ia tau betul kejadian demi kejadian yang di alami oleh teman nya Jeno. Namun sayang, Lagi-lagi Hyunjin harus kehilangan Jeno walau ia tau kapan dan di mana Jeno meninggal. Itu yang ia sesali sebagai orang yang datang dari masa depan.
__ADS_1
Yang perlu dia lakukan adalah menunggu. Menunggu sampai dirinya menghilang. Hyunjin hanya bisa menunggu sampai itu terjadi.