
Setelah melalui perjalanan yang tak bisa dibilang mudah. Finally, tubuh Yuta pada akhirnya bisa tiba di rumah Jaemin. Tak ada yang lebih penting sekarang selain Jaemin. Yuta harus cepat memeriksa keadaannya.
Tadi, setelah melewati gerbang Yuta bisa merasakan ada hal buruk yang sudah terjadi di rumah ini. Apalagi saat dia berjalan melewati pos satpam tak ada siapapun di sana. Biasanya rumah pemuda Lee itu selalu tertutup dan dijaga penuh oleh satpam.
Tidak. Yuta tidak bisa membiarkan pikiran kotor terus membayanginya. Masih ada harapan. Masih ada kemungkinan kalau semua akan baik-baik saja. Tapi, semuanya hilang sudah. Keyakinan yang Yuta pegang hancur sudah.
Belum juga memasuki rumah, dia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tak mengenakan. Dimana terdapat banyak sekali pecahan kaca berserakan di depan rumah Jaemin.
Oh tidak!
Semua tampak lebih mengejutkan lagi ketika pemuda Nakamoto itu memutuskan untuk membuka pintu rumah Jaemin. Begitu tiba, dia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tak mengenakan. Dimana terdapat banyak sekali pecahan kaca berserakan di depan rumah Jaemin.
"Jaemin" panggilnya Lirih
🌱🌱🌱
Beberapa jam sebelumnya ~
Jaemin heran ini dia mau dibawa kemana sih sama Hyunjin?
Masa iya dia harus menerobos semak belukar yang terletak tak jauh dari sekolah. Menghindari sawah, kebun pisang, menyebrangi sungai tapi lewat jembatan. Dan berujung di sebuah gubuk dekat jalan yang searah dengan rumahnya.
Kalo gini ceritanya kenapa nggak naik taksi aja? Toh ujung-ujungnya juga bakal sampai.
"Lah, kok disini? Kenapa-pft !!" kesal Jaemin terhenti karna mulutnya disumpal dengan tangan Hyunjin secara tiba-tiba. Sedangkan pemuda itu celingukan kesana-kemari.
"Sssttt-" bisik Hyunjin masih celingukan. "Gue tau lo pasti mau protes kenapa kita jalannya memutar bukannya langsung aja"
"Ya itu tau. Lantas kenapa hah!?" brutal Jaemin setelah lepas dari belenggu tangan Hyunjin. "Btw, kok tangan lo wangi sih. Habis nyolek sabun ya?"
Jaemin memalingkan wajahnya kala gurauannya malah dibalas dengan tatapan sengit oleh Hyunjin. Pemuda berambut panjang seperti Yuta itu terlihat sangat kesal.
"Tadi gue mampir ke rumah lo dan nyuri sabun cukur lo" balas Hyunjin dengan nada datar. Tak ada tanda-tanda ingin membalas gurauan Jaemin yang membuat pemuda kelinci itu menghela nafas pasrah.
__ADS_1
"Ha"balas Jaemin sama datarnya. "lo lagi ngajak gue petak umpet ya? Ngapain jalan muter-muter kesini?"
"Ternyata lo nggak ada bedanya sama Jeno, nanya mulu. Bisa diem nggak? Gue mau nunjukin sesuatu ke lo"
"Sok!"
Jaemin berjalan masuk mengikuti Hyunjin yang sudah duluan masuk ke gubuk tersebut. Begitu sampai didalam, ternyata keadaan di dalam gubuk tak seperti dalam benak Jaemin.
Rapi dan bersih. Sungguh tertata dengan cantik. Seperti ada orang yang tinggal di gubuk reok ini.
Jaemin berdecak ketika melihat kursi di bagian tengah bangunan terlihat sungguh bersih. Tercium juga sedikit wewangian membuatnya tambah yakin kalau disini memang ditinggali seseorang.
"Woah....jadi ini rumah lo Hyunjin ? Nggak disangka bersih juga. Rajin juga ternyata lo!" puji Jaemin dengan embel-embel nada menyindir. Pemuda itu mengelilingi rumah yang ia sangka sebagai tempat tinggal Hyunjin.
Tepat setelah ruangan tengah, terdapat dapur serta meja makan yang minimalis. Di atas meja makan ada beberapa makanan yang tersaji menandakan bahwa gubuk ini benar-benar ditinggali.
Ceklek!
Pintu salah satu kamar terbuka yang otomatis membuat keduanya menengok.
Yap betul sekali, pemuda yang baru saja keluar dari salah ruangan tak lain adalah Kun. Sontak hal itupun membuat Jaemin bingung. Kenapa Kun bisa ada di rumah Hyunjin? Apa dia sudah kenal Hyunjin?
"lo kenal Hyunjin?" tanya Jaemin kemudian.
Hyunjin melirik Jaemin yang sama-sama sedang dilirik Kun. Kini pusat perhatian beralih pada pemuda Kim.
"Kan tadi malam-"
"Oh ya gue lupa" sela pemuda kelinci tersebut. "Sorry, gue masih kaget dengan semua keadaan yang terjadi. Jadi, lo ngapain ada disini?"
Mendengar pertanyaan dari Jaemin membuat Hyunjin kembali mengalihkan pandangannya. Dia melirik Kun dengan tanda tanya.
"Apa ada masalah?" tanya Hyunjin langsung pada intinya.
__ADS_1
Kun terdiam. Pandangannya merunduk. Hyunjin yang menunggu jadi cemas begitupun dengan Jaemin.
"Winwin... dia nggak ada" ucap Kun singkat namun sangat membekas di pikiran seorang Lee Jaemin.
Tunggu dulu, Winwin nggak ada? Bukannya Winwin emang udah meninggal karna tenggelam?
"Kok bisa?" tanya Hyunjin tanpa tau kalau sedang terjadi perang dalam pikiran Jaemin.
"Tadi gue dapat E-mail milik Renjun yang dia kirim ke Jeno sebulan yang lalu. Isinya tentang rekaman cctv dari tempat Winwin tenggelam. Gue langsung aja datang kesini mau nanyain Winwin tentang kebenaran rekaman itu. Tapi begitu sampai, Winwin udah nggak ada. Kamarnya terlihat begitu berantakan. Gue cemas banget, Hyunjin"
"Apa mungkin pembunuhnya udah tau kalau kita punya bukti kuat? Gimana kalau dia celakain Winwin. Kita nggak boleh biarin itu. Winwin satu-satunya saksi di kasus ini. Kita harus segera cari Winwin!" ungkap Kun terlihat sangat cemas.
Tanpa menunggu lama lagi, Hyunjin segera menyuruh Kun serta Jaemin untuk pulang saja mengamankan bukti yang ada di kamar Jeno. Sementara dirinya akan pergi mencari Winwin.
"Emangnya lo tau dimana Winwin berada?" tanya Kun.
Hyunjin tertegun. Pemuda itu lalu pergi ke kamar yang tadinya Winwin tempati. Ia melirik ke segala arah mencoba mencari petunjuk sekecil mungkin yang bisa ia temukan. Jaemin dan Kun ikut dibelakangnya. Keduanya pun ikut membantu.
"Hyunjin!" Panggil Kun sesaat setelah menemukan sebuah kertas di tempat sampah. Dengan cepat Hyunjin merebut kertas tersebut. Dia meneliti secara seksama.
Itu adalah sebuah kertas yang dipenuhi dengan coretan serta gambar emoticon tersenyum di sepanjang pinggiran kertas. Tidak hanya ditulis dengan tinta hitam saja, ada juga tinta warna lainnya.
"Ini maksudnya apaan? Emoticon? Bukannya emoticon kayak gini pertanda Jx-Man? Kerjaan dia pasti!" simpul Jaemin.
"Pasti ada surat tersembunyi disini yang mengarah ke tempat Winwin berada. Orang itu, dia pasti tengah menunggu Winwin. Dia mau menjebak Winwin!" ungkap Hyunjin masih setia melihat kertas tersebut.
"Ini..." kata Kun menggantung. Dia seperti sudah tau saja akan maksud dari semua coretan itu. "Kuncinya ada di Emoticon. Kalian ingat kan kalau setiap korban dia selalu ada gambar emoticon. Itu artinya pembunuhan ini berhubungan dengan Emoticon" Kun terdiam sejenak. "Tapi kenapa harus emoticon?"
"Lihat di tulisan ini ada banyak kata yang berhubungan dengan emosi" Tunjuk Jaemin.
"Emoticon melambangkan emosi. Jika kita ambil satu huruf dari setiap kata disini yang menggambarkan emosi, kita bisa tau letak Winwin sekarang"
"Itu artinya, M untuk muak, J untuk Jenuh, A untuk angkuh, E untuk Empati, B untuk bohong, A untuk amarah, dan T untuk takut. Jika semua digabungkan akan membentuk kata jembatan. Itu dia" Tutur Hyunjin. Pemuda gondrong ini sudah terbiasa menyusun kata acak dan menjadikan nya sebuah kata yang benar.
__ADS_1
"Jadi dia mau bawa Winwin ke tempat itu. Gue harus cegah secepatnya!" tandas Hyunjin bersiap untuk segera meluncur.
Jaemin tadinya mau ikut Hyunjin mencari Winwin, tapi Kun mencegahnya. Dia bilang mengamankan bukti milik Jeno lebih penting saat ini. Untuk urusan Winwin, Kun rasa Hyunjin pasti bisa mengurusnya sendirian.