"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 46


__ADS_3

GUBRAK!


"Akh...!!" Haechan merintih kesakitan saat tubuhnya menyentuh tanah dengan keras. Kursi yang tadi ia duduki jatuh akibat ulahnya sendiri. Pemuda itu menggeliat ke kanan-kiri mencari celah ikatan yang membelenggu tubuhnya.


Layaknya ulat yang lagi bergerak, bajunya pasti tak luput dari debu. Bisa dipastikan ketika seseorang menyaksikan aksinya ini pasti akan terpancar rasa kasihan dari matanya. Apalagi Haechan terlihat sangat menyedihkan.


"Ck... ck...!!" decak Yuta begitu masuk ruangan sudah disuguhi pemandangan tak biasanya. "Gue kira lo udah kabur dari sini. Sengaja gue ngajak Jaehyun ke tempat ini. Kirain bakal terjadi baku hantam begitu pintu gue buka"


Haechan berdecih. Dia mengangkat wajahnya yang menyentuh tanah dengan estetika. "Ngomong enak banget. lo kira gue ular bisa lolos dari sini dengan menggeliat. Lain kali kalo mau ngiket jangan kenceng-kenceng, engap nih dada gue. Eh Yuta, lo ja- puwahhhh...!!" sembur Haechan memuntahkan isi mulutnya yang penuh dengan tanah.


"Hoek! Iyuhhh. Yakh!!!" teriaknya membuat Yuta tersenyum geli. "Jaehyun lo jangan diem aja. Bantuin napa! Pegel nih!"


Tanpa ba-bi-bu lagi, setelah mendengar namanya dipanggil, Jaehyun segera bergerak mengangkat kursi Haechan yang langsung dapat ucapan terima kasih dari penunggu kursi tersebut.


"Thanks Jaehyun-ku tercinta" ucap Haechan sambil tersenyum manis. Namun segera luntur kala dirinya melayangkan tatapan ke pemuda bermarga Nakamoto. "Berhenti main-main dan cepet lepasin gue Yuta!" tuntut Haechan.


"Buat apa? Sebelum lo mengaku nggak akan gue biarin tubuh lo pergi dari tempat ini!" papar Yuta dengan wajah serius.


"Pengakuan apa lagi!? Ngaku kalau gue pembunuh teman-teman kita? Ngaco loh!" cibir Haechan sebelum membuang muka.


Jaehyun tersenyum singkat. "Lagian lo kenapa nggak maki-maki Yuta Chan? seneng lo di iket gitu?" Tanya Jaehyun heran.


Mendengar pertanyaan Jaehyun, Haechan hanya menghela napas lagi. Ia marah. Namun Haechan tidak mungkin bisa menyentuh Yuta barang seinci pun. Ia takut!!!


Tadinya Yuta berniat untuk mendekati Haechan, sekedar menakut-nakuti saja. Tapi semua ia urungkan ketika ponselnya berdering. Nampak dari layar itu panggilan dari Jaemin.


"Ya, halo" kata Yuta memutuskan untuk mengangkat panggilan Jaemin. "Penting nggak nih?" Yuta menyimak. "jadi?"


"Hah?" lanjutnya kemudian lalu panggilan tertutup.


Melihat raut muka Yuta berubah jadi lebih serius, Jaehyun berjalan mendekat. "Kenapa Yut? Jaemin nggak lagi dalam masalah bukan?" tanya Jaehyun ikut khawatir.


Yuta menggeleng pelan. "Nggak. Gue harus pergi dari sini. Titip Haechan ya Jae!" ucap Yuta lalu bergegas pergi secepat kilat.


Haechan yang tak tau menahu hanya mlongo kebingungan. Tak jauh berbeda dari Haechan, Jaehyun pun hanya terpaku melihat kepergian Yuta.


"Lah gue ditinggalin?" gerutu pemuda Jung tersebut.


Untung saja tadi Yuta memilih untuk membawa mobil, jadi ia tak harus bersusah payah mencari taksi buat ke rumah Jaemin. Namun namanya juga nasib sial pasti nggak bisa lepas.


Pengennya sih bisa cepat-cepat sampai ke rumah Jaemin sampai lewat jalan tikus biar cepet. Tapi apalah daya seorang Yuta kalau sudah ketemu sama yang namanya kesialan. Bahkan hotel bintang lima milik ayahnya tak bisa membantu sama sekali. Karena tiba-tiba dia mengalami sedikit kecelakaan di tengah jalan hingga membuat mobil mewahnya menabrak sebuah gundukan.

__ADS_1


"Ah, si*l!" umpatnya keras sambil memukul stir mobil mewah miliknya. Eh maaf ralat, milik ayah maksudnya.


Pemuda berambut panjang itu kemudian keluar dari mobil untuk mengecek seberapa parah kerusakan yang mobilnya dapat. Ternyata oh ternyata, itu tak separah yang ia kira.


Hanya ban depannya yang kempes serta lecet di beberapa bagian. Oh syukurlah kalau begitu. Dia pikir semua masalah bakal bisa teratasi karna itu tidak parah.


"Gue harus segera pergi. Jaemin mungkin nunggu gue" ucap pemuda itu lalu melirik ke kanan dan ke kiri.


Ingin rasanya Yuta berteriak, memaki dirinya yang udah berbuat bodoh dengan memilih jalan pintas supaya cepat sampai tapi nyatanya itu malah memperlambat.


"Bodoh! Kenapa harus mogok disaat seperti ini!?" maki Yuta sejadi-jadinya. Saking frustasinya dia sampai menendang mobil tak berguna itu.


Drrt...! Drrt..!


Ponselnya berbunyi membuat pemuda itu segera mencari benda pipih tersebut. Tadi ia sempat menyimpan ponselnya secara sembarang. Dan akhirnya setelah mencari diberbagai sudut mobil, ia bisa menemukan keberadaannya di jok belakang.


"Ya, halo" jawab Yuta begitu menemukannya.


"Yuta! lo harus dengerin gue! lo harus cepat keluar dari tempat itu, sekarang juga. Cepat pergi dari sana!" oceh pemuda Lee itu terdengar sedang ngelantur.


"Yut pelakunya sekarang ada disekitar lo. Cepetan pergi dari sana sebelum hal buruk terjadi sama lo!"


"Jaem, kalo ngomong yang jelas! gue nggak paham. Pelaku? Haechan kan?"


"Ok lo tenang dulu Jaem, pertama lo di sana baik-baik aja kan?" balas Yuta mencoba menenangkan pemuda di seberang. "Gue lagi nggak di sana. Gue lagi ke rumah lo"


Terdengar helaan nafas cukup keras setelahnya. Yuta pikir itu suara Jaemin yang mencoba berpikir tenang. Namun setelah itu, dia mendengar suara aneh disekitar Jaemin. Seperti suara orang yang tengah dilanda ketakutan.


"Jaem? lo aman kan?" tanya Yuta mulai merasa khawatir. Dia mendengar suara ketakutan itu lebih keras lagi.


Tunggu. Itu bukan cuma satu orang saja. Melainkan dua atau bisa saja lebih.


"Jaemin jawab gue" panggil Yuta.


Prang!


"Jaemin!!!" teriak pemuda Nakamoto tersebut sambil berlari keluar mobil. " Jaem lo nggak papa, kan? Halo!!! Jaemin!!!"


Dari suaranya saja Yuta bisa menebak kalau Jaemin lagi nggak baik-baik aja. Pemuda kelinci itu pasti dalam bahaya sekarang. Yuta bisa jamin itu karna tadi dia mendengar ada suara benda jatuh dan beberapa tembakan setelah itu.


Apa mungkin Jaemin benar-benar dalam bahaya?

__ADS_1


"Halo Jaemin, lo bisa denger suara gue, kan?"


Tak ada jawaban dari seberang. Hanya terdengar suara napas memburu seperti orang yang tengah ketakutan. Yuta menggeram. Giginya bergemelatuk dan pandangannya menelisik ke sekeliling. Si"l, tak ada kendaraan yang melintas.


Dia berdecih kecewa. Kenapa disaat genting seperti ini bantuan tak datang?


"Gue harus cepetan datang kesana" geramnya sambil meremat baju sekolah miliknya. "Jaemin, lo masih di sana kan? Gue bakal datang secepatnya. Tungguin gue!" kata Yuta penuh tekad.


Sekarang pemuda Nakamoto itu sudah bertekad untuk pergi ke rumah Jaemin apapun yang terjadi. Dengan cara apapun ia bakal kesana. Walau harus berlari bakal ia lakuin.


"Jaemin gue datang"


"Nggak Yut!!!" balas Jaemin. "Jangan datang kesini. Gue perintah in jangan datang kemari, JANGAN!!!"


"Kenapa?" langkah Yuta terhenti. Jaemin baru saja membentak nya dengan keras. "lo pasti lagi dalam bahaya. Gue harus cepet datang kesana. Jaemin tunggu aja!"


Yuta berlari sekuat tenaga menuju rumah Jaemin yang jaraknya lumayan jauh. Jaemin dalam bahaya. Dia harus segera mungkin sampai disana sebelum hal buruk terjadi. Pelaku pembunuh itu mungkin saja sedang mengincar Jaemin. Tapi tunggu, bukankah pelakunya itu Haechan? Lalu, siapa yang ada di rumah Jaemin saat ini?


"Jangan Yut, jangan datang kesini Yuta!"


Yuta menggeram marah. Dia menghentikan langkahnya sejenak "Bukannya tadi lo nyuruh gue datang. Tapi kenapa sekarang malah larang gue kesana. Jaemin! lo pasti dalam masalah besar, gue denger tadi ada suara tembakan. lo baik-baik aja, kan?"


"Jangan Yut, jangan datang kesini Yuta!"


"Jaem... gue nggak mungkin salah. lo dalam bahaya. Pelakunya pasti ada di sana saat ini. Dia pasti ngincar lo kan ?" tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.


"Jangan Yut, jangan datang kesini Yuta!"


"Ah, si*l!" teriak pemuda itu setelah mengumpat kasar. "Gue tau itu pasti rekaman suara, siapa lo? Balikin hp-nya. Balikin sekarang nggak? Gue mau bicara sama Jaemin!" bentak Yuta setelah menyadari suara Jaemin yang berulang-ulang itu adalah rekaman.


Tak ada jawaban setelahnya yang membuat pemuda Nakamoto itu harus mengeluarkan beberapa kata kasar untuk memancingnya. menurut keyakinan Yuta ponsel Jaemin sedang dipegang oleh seseorang.


"Yakh!! Gue tau itu lo. Pasti lo, kan? Cepet balikin hp Jaemin. Dasar sial*n!" umpat Yuta lagi.


Umpatan itu nyatanya cukup berhasil. Sang lawan bicara akhirnya mau membuka suara.


"Hahaha"tawanya terdengar sangat renyah. Sedangkan Yuta terus menyumpahinya dalam hati. "I am waiting for you here. Please come as fast as lightning. There is a little surprise. Jaemin, hmm?"


" He was sleeping soundly. So don't make him wait too long. I love you Yuta" cibir sang lawan bicaranya.


"Sial, rekaman suara lagi" keluh Yuta setelah sambungan terputus. Padahal, jika itu bukan rekaman suara, Yuta pasti bisa menebak orang itu dengan mudah. Andai saja orang itu bicara langsung padanya.

__ADS_1


Tapi sekarang yang terpenting adalah keadaan Jaemin. Yuta harus segera datang dan menyelamatkannya. Kali ini dia tak boleh kecolongan.


"Jaemin, gue mohon bertahan sebentar lagi"


__ADS_2