"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 57


__ADS_3

Taeyong POV...


Terlahir dari keluarga yang bisa dikatakan cukup, nyatanya tak membuat gue bahagia. Bergelimang harta ternyata membawa petaka bagi hidup gue. Gue justru amat menderita bisa terlahir dari keluarga macam ini.


Gue yang awal nya cuma anak dari penjaga kantin sekolah, ternyata punya bokap kaya raya. Dan beg* nya gue nggak tau itu sampe usia gue remaja. Tapi semenjak ibu gue bunuh diri karena kebakaran sekolah itu gue jadi harus tinggal sama bajing*n yang harus gue sebut ayah.


Orang-orang selalu menganggap gue berlian yang sangat berharga. Mereka sangat memuja gue. Eits, tapi tunggu, bukannya gue sok tau. Tapi gue rasa mereka cuma mengagumi kekayaan bokap gue.


Buktinya saja, disaat mendekati ulang tahun gue banyak banget orang yang tiba-tiba deketin, gue. Entah untuk alasan apa. Tapi gue berani jamin, mereka pasti mau uang bokap gue. Secara kan bokap gue kalo ngadain pesta itu mewah. Nggak pelit-pelit amat lah.


Atas tindakan yang gue nilai berlebihan membuat kepribadian gue perlahan berubah jadi dingin dan cuek. Sederhananya sih gue cuma mau mereka menjauh dari gue. Risih banget kalo harus dekat-dekat orang yang ada maunya doang.


Kepribadian gue yang pendiam juga bukan karena hal itu saja. Kepribadian itu tak lantas terbentuk begitu saja. Ada hal lain, salah satunya semenjak kematian nyokap gue.


Semenjak kejadian itu, gue merasa hal paling berharga dalam hidup gue telah pergi begitu saja. Gue merasa kalau semua orang yang gue sayangi bakal pergi dari hidup gue. Mereka pasti akan meninggalkan gue suatu saat nanti.


Dan satu hal yang selalu menghantui pikiran gue. Apakah mereka tulus menyayangi gue? Atau cuma karena uang bokap gue aja?


Entahlah. Gue nggak mau berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan lelaki bejad kayak dia. Bahkan lelaki kapar*t itu tak pantas gue panggil sebagai ayah.


Oh ayolah, lelaki mana yang tega bermain dengan seorang wanita seminggu setelah istrinya meninggal. Ralat, bahkan itu belum seminggu setelah kepergian nyokap gue. Gue rasa itu tepat lima hari dan dia udah beraninya makan siang dengan para ****** itu.


Ohhh ibu, kenapa ibu bisa jatuh cinta pada bajing*n seperti itu?


Sungguh ironi. Disaat bocah sekecil gue merengek minta permen, gue malah dihadapkan dengan pemandangan tak masuk akal. Dimana gue melihat lelaki yang menyandang sebagai ayah gue tengah bermesraan dengan wanita yang gue kenal sebagai sekertaris pribadinya.


Pantaskah gue panggil dia ayah? Gue bahkan nggak sudi buat pulang ke rumah setelah kejadian itu. Rasanya sesak aja. Tapi gue nggak punya pilihan lain. Tak ada tempat tujuan selain pulang.

__ADS_1


Hari-hari gue di per buruk kala lelaki itu sudah berani membawa para wanita hiburan itu pulang ke rumah. Dan selanjutnya kalian pasti tau apa yang terjadi.


Tak jarang juga gue dijadikan pelayan mereka. Mengantar aneka makanan serta minuman yang gue sendiri benci melihatnya. Itu produk kebanggaannya. Produk yang mengantarkannya menjadi miliarder.


Lama kelamaan semua terasa amat memuakkan. Tak ada ada kebahagiaan yang gue dapatkan. Hanya ada kata-kata kasar yang gue denger. Lelaki itu selalu marah karena hal sekecil apapun. Rasanya gue mati rasa.


Gue lupa bagaimana rasanya bahagia. Gue lupa bagaimana rasanya sedih. Gue lupa bagaimana rasanya marah. Hampa. Hanya ada kehampaan yang gue dapatkan. Semua emosi itu perlahan hilang.


Sampai gue bertemu lagi dengan Jung Jaehyun. Yeahhh... teman satu grup. Selain Haechan, cuma dia yang tau gimana keadaan gue yang sebenarnya. Gue bahkan rela hidup sembunyi-sembunyi karena dendam.


Gue yang awal nya hiperaktif mulai menjauh dari keramaian. Semuanya hilang sudah dan rasanya amat memuakkan. Kecuali itu, ya hanya muak saja yang gue tau.


Namun semuanya berubah sejak gue tau penyakit Jaehyun. Dengan sifat psycho nya gue bisa jalanin rencana yang udah gue dan Haechan diapain. Perlahan tapi pasti hidup gue kembali membaik. Dialah penyelamat gue dari keterpurukan.


Jung Jaehyun...


Gue sering ngajarin Jaehyun banyak sekali emosi. Dia juga yang mendukung setiap perubahan gue.


Dia bakal senang kalo berhasil mengenali suatu emosi. Dia juga ngajarin satu hal sama gue. Sesuatu yang awalnya gue tolak keras karena gue nggak yakin bisa. Kita berdua saling menguntungkan. Gue ngajarin Jaehyun emosi dan dia ngajarin gue cara membunuh tanpa ragu.


Kalau kalian pikir gue orang yang cerewet, gue bakal setuju. Karena gue emang awalnya orang cerewet. Hingga hal-hal kecil aja gue omongkan.


"Jaehyun jangan datar mukanya!"


"Jaehyun senyum dikit!"


"Jaehyun naikkan alis lo kalo lagi marah!"

__ADS_1


"Jangan cuma sekali, hentakkan dua kali kaki lo kalo lagi ngambek!"


"Mereka pasti akan kabur kalo senyum nyeremin kayak badut"


"Jaehyun jangan bungkuk in badan lo!"


"Jaehyun coba senyum dikit aja!"


Dan Jaehyun bla bla bla bla...


Tapi gue suka itu. Jaehyun selalu suka kalo gue udah cerewet begitu. Rasanya menggemaskan aja, pengen gue cubit pipinya. Tapi gue inget kalo dia lebih tua dari gue.


Orang-orang menyebut hubungan kita sebagai hubungan pertemanan yang kuat. Best friend forever lah!!! Nggak akan kepisah sampai kapanpun.


Tapi nyatanya, sekali lagi gue dikhianati. Seandainya saja Jaehyun tetap jadi boneka gue, gue bakal ngomong kalo gue sayang sama dia, melebihi apapun itu. Gue sayang dia sebagai saudaranya. Bukan cuma hubungan pertemanan biasanya. Gue sayang dia melebihi sayang gue ke siapapun. Bahkan nyokap gue sekalipun.


Yap, Jaehyun adalah orang istimewa gue. Gue yang udah mengajarkan dia semua emosi dan tindakan. Gue yang udah ajarin dia caranya berekspresi. Dan dia yang udah menanamkan rasa di hati gue. Rasa yang orang-orang sebut sebagai rasa sayang. It's love.


Tapi semua itu nggak berpengaruh buat Jaehyun. Rasa itu cuma gue sendiri yang ngalamin. Si*l!!!! Benar kata orang bahwa "Hewan buas punya insting nya sendiri, mereka akan mengeluarkan taring dan cakar nya ketika merasa terancam"


Jae...


Lo seharusnya berterima kasih sama gue...


Lo tempat berpulang gue dari semua rasa sakit ini Jae...


Tapi kenapa lo malah hancurin rumah itu?

__ADS_1


Taeyong POV end...


__ADS_2