
Yuta menundukkan kepalanya dengan lesu. Dia baru saja mendengar alasan Jaehyun melakukan semua pembunuhan itu.
Tak ada alasan selain kasih sayang. Pemuda itu ternyata butuh kasih sayang dari orang-orang disekitarnya. Dia mendambakan sebuah kasih sayang yang sudah direnggut darinya.
Pertama ibunya dan kedua keadilan untuk ibu Taeyong. Jaehyun hanya mau dimengerti. Dia butuh sebuah perhatian yang nyatanya tak ia dapatkan selama ini.
"Bunuh gue aja Jae. Gue nggak pantas buat hidup. Gue nggak pantes jadi sahabat lo. Gue nggak berharap buat lanjutin hidup gue setelah ini. Nggak ada yang berarti lagi" pasrahnya terus menundukkan kepalanya.
"Ada nilai tinggi dalam setiap nyawa seseorang Yut. Gue nggak mungkin nyingkirin kalian sesuka hati gue. Satu nyawa sama aja dengan satu emosi!" ungkap Jaehyun mengukir senyum kecut di bibirnya.
Yuta menengadahkan kepalanya menatap pemuda Jung itu. Dia tersenyum miris seraya berkata. "gue bahkan nggak punya harga. Kehadiran gue selama ini serasa hama saja. Lo pasti merasa rugi ya kalo lenyapin gue?" ucapnya terdengar sangat putus asa.
Yuta sadar kalo selama hidupnya diapun kurang kasih sayang. Dia juga mendambakan hal yang sama. Semua orang yang ia sayangi telah pergi. Mereka yang ia anggap sangat berarti meninggalkannya tanpa pamit.
__ADS_1
"Beri satu gue satu emosi, lalu gue bakal bunuh lo. Beri gue sebuah alasan Yuta!" tuntut Jaehyun.
Yuta menghela nafas jengah. Pemuda itu membuang muka menatap hutan didepannya dengan lesu. "Nggak ada. Gue bahkan nggak punya alasan buat hidup atau mati sekalipun"
"Kenapa?" tanya Jaehyun penasaran. "Bukannya hidup lo enak? Bergelimang harta dan kuasa. Elo bisa aja ngelakuin yang lo mau hanya dengan perintah saja. Lalu mengapa lo bersikap seolah-olah hidup lo paling menderita disini?"
Sebuah senyum mengembang dibibir pemuda Nakamoto. Bukan sebuah senyuman senang, melainkan sebuah senyuman yang mengisyaratkan akan keputus-asaan. "Siapa bilang hidup gue bahagia?"
"Gue nggak jauh berbeda dari kalian Jae. Anak konglomerat yang menderita. Seorang anak yang gila akan kasih sayang?"
"Nyokap gue kabur asal lo ingat. Gue juga ditinggalkan orang paling berharga dalam hidup gue, yaitu nyokap gue"
Pemuda Nakamoto itu melangkah menjauh. Dia berjalan mendekati bom yang beberapa waktu lalu ditunjukkan oleh Haechan padanya.
__ADS_1
"Winwin. Dialah orang yang berarti di hidup gue selain nyokap gue. Dialah satu-satunya orang yang selalu ada disekitar gue. Bukan orang lain, hanya dia seorang. Saat gue sakit, hanya dia yang bersedia nemenin gue. Hanya dia yang mau ngantar gue ke rumah sakit dan nungguin gue sampe sembuh. Hanya dia yang bahagia saat gue meraih sesuatu. Hanya dia yang sedih saat gue terluka. Hanya dia yang sakit hati saat gue tersakiti. Dan hanya dia selalu punya waktu buat gue" seru Yuta.
Tanpa perintah dari siapapun Yuta segera menekan tombol pengaktif bom. Bom itu segera menyala dan akan meledak dalam waktu dua menit.
Meski sama-sama mengetahui kalau bom sudah aktif, baik Yuta maupun Jaehyun tetap tak bergeming dari tempatnya masing-masing. Keduanya sama-sama mematung menatap satu sama lain seakan mengisyaratkan- Mari - untuk mati bersama.
Waktu pun terus berlalu. Detik terus berputar. Kini tersisa satu menit saja untuk keduanya kabur tapi dua pemida itu masih tak beranjak dari tempat semula. Keduanya seperti sudah sepakat untuk mengakhiri hidupnya di tempat ini.
Keempat bola mata itu terus saja mendelik. Menatap sang lawan, menunggu salah satu diantara mereka untuk membuka suara. Hingga detik ke tiga puluh keduanya masih setia ditempat.
Ajakan untuk meledak bersama nyatanya akan mereka lakukan. Yuta menggulirkan senyum kecilnya sambil menatap Jaehyun.
"Berani" ucap Yuta memecah keheningan. Akhirnya setelah beberapa waktu bergulir tanpa suara, Yuta angkat bicara."Hanya itu yang bisa gue tawarkan. Gue rasa itu cukup "
__ADS_1
Yuta tersenyum manis. Sangat manis. Itu mungkin adalah senyum termanis sebagai penutup hidupnya.