
Hyunjin membanting pintu mobilnya dengan keras. Pemuda itu segera berlari tunggang langgang begitu mendengar sebuah ledakan.
Pikirannya berkecamuk sudah. Ia tau betul jika Winwin akan pergi ke tempat ini. Dan Hyunjin sadar jika pemuda itu belum juga kembali serta memberinya kabar. Hal ini membuat Hyunjin panik bukan main.
Hyunjin berlari terus saja berlari tanpa tentu arah. Perumahan ini memang sudah sepi tapi jangan lupakan kalau dulunya ini perumahan yang megah. Jadi setelah memasuki gerbang, pemuda itu harus melewati taman yang cukup luas sebelum sampai ke bangunan utama.
Karna sudah lama tak dipakai, banyak pohon yang tumbuh secara liar. Mengingat tempat ini bahkan tak tersentuh lagi semenjak kejadian kebakaran itu menambah susah untuk menuju bangunan utama.
Hyunjin saja harus jatuh bangun melewatinya. Terhitung dua kali Hyunjin harus merasakan perihnya bertatap muka dengan tanah. Tangan dan kakinya mulai lecat di beberapa bagian. Namun itu semua tak menghalanginya untuk terus berlari.
"Aish sial..." umpat Hyunjin kesal pada sebuah ranting yang menyambar keluar hingga melukai kulit mulusnya. Tolong ingatkan pemuda itu kalau dirinya harus lebih berhati-hati lagi.
Dan jangan lupa, telpon polisi.
__ADS_1
Tenang, Hyunjin tak sebodoh itu dengan pergi sendirian tanpa menghubungi pihak berwenang. Dia tadi sudah menelpon polisi lewat hp Yuta yang ia pungut.
Lah kok pungut?
Habisnya tadi saat di pekarangan rumah Jaemin-Jeno, Hyunjin melihat ponsel Yuta tergeletak tak berguna. Ya dia pungut saja. Siapa tau berfungsi. Dan emang berfungsi sih.
"Ha.......ha.......ha " nafasnya hampir habis. Hyunjin akhirnya sampai juga. Pemuda itu segera mengamati sekitarnya.
Selain bangunan setengah runtuh dihadapannya, dia belum menemukan tanda-tanda kehidupan. Apa mungkin Winwin masih selamat?
Kan tujuan utamanya Hyunjin datang kemari adalah menyelamatkan orang-orang agar takdir berubah. Tujuan Hyunjin datang hanya untuk membantu.
Kembali ke kenyataan. Setelah berhasil mencapai tempat tujuan, Hyunjin kembali berlari saat melihat seseorang tergeletak tak jauh dari tempat reruntuhan.
__ADS_1
Mungkinkah itu salah satu mereka?
Dia berlari. Lagi-lagi berlari dengan tergesa-gesa. Wajahnya nampak sekali berseri-seri setelah melihat ada seseorang yang selamat dari insiden tadi.
Hyunjin senang? Tentu saja. Hati pemuda itu berbunga-bunga. Rasanya seperti ada yang memberinya pelangi. Namun sayang, semua itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba, dari arah yang tak terduga seseorang memukul tengkuk pemuda itu hingga menyebabkan sang empu terjatuh. BUG!
"Aww..." ringis nya memegang tengkuknya yang sakit bukan main. Pukulan barusan sukses membuat kepalanya pening saja. Sungguh itu tadi pukulan tersakit yang pernah menimpa Hyunjin.
"Srak..srak..!"
Hyunjin mendengar dengan jelas saat sebuah kaki melangkah mendekati dirinya dan berhenti tepat dihadapannya. Orang itu melambaikan tangannya dihadapan Hyunjin.
Sungguh, jika bukan karena pukulan tadi, Hyunjin pasti sudah melihat dengan jelas wajah orang dihadapannya ini. Namun pandangannya memburam sekarang. Matanya tak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya bisa melihat bayangan buram sang pelaku.
__ADS_1
Setelah berjuang selama beberapa detik, perlahan kelopak mata Hyunjin tertutup. Ini terlalu pusing. Pemuda itu tak bisa membukanya lagi. Gelap. Setelah itu hanya ada kegelapan yang menyelimutinya.
Hyunjin tau benar kalau seharusnya dia tak boleh pingsan begitu saja. Ada nyawa yang harus ia selamatkan. Tapi sayang, pertahannya tak sekuat itu. Nyatanya rasa sakit itu terlampau tinggi hingga membuatnya terlelap.