
Begitu sampai di rumah, tempat pertama yang Jaemin datangi adalah kamar Jeno. Ia mau mengecek semua isi kamar saudara kembarnya. Bukan lagi mengecek tapi menggeledah. Jaemin mau membuktikan semua keraguannya selama ini. Ia mau meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jeno bukan pelaku dibalik semua kejadian ini.
Beruntungnya dia, si pemilik kamar aliaa Jeno sedang tak ada di dalam jadi dia bisa dengan leluasa menggeledah.
Tempat pertama yang ia geledah adalah meja belajar Jeno. Dan seperti beberapa hari yang lalu, disana masih terdapat ukiran nama Taeyong serta buku Jeno.
Kertas di dinding Jeno juga masih tercoret-coret dengan nama-nama teman sekelasnya. Tapi bedanya kini ada tanda coretan di nama Lucas, Mark, Renjun, Winwin, Jisung, dan Chenle. Itu adalah nama-nama orang yang sudah mati.
Adapun juga nama yang dilingkari seperti nama Haechan, Yuta, dan Jaehyun. Sementara nama Jaemin di dibiarkan begitu saja tanpa ada coretan apapun.
Jaemin menghembuskan nafasnya jengah. Cukup lama ia memandang coretan tersebut. Apa ketiga nama yang dilingkari Jeno bakal jadi target selanjutnya? Karena seingat Jaemin, dulu nama Chenle dan Jisung yang dilingkari. Sekarang keduanya sama-sama sudah mati. Apa ketiga temannya itu akan bernasib sama seperti Chenle dan Jisung?
Ahhhhh....Jaemin rasanya mau menjerit dengan lantang sekarang juga. Rupanya Jeno yang kenal tak seperti yang Jaemin pikir. Ia tak mengerti kepribadian Jeno dengan baik. Rasanya ia sudah gagal menjadi saudara untuknya. yang baik
Mungkin saja Jeno sedang menyimpan luka dihatinya yang tidak Jaemin ketahui. Mungkin saja saudaranya itu tengah menderita.
Setelah mengetahui beberapa fakta, Jaemin kembali dibuat terkejut kala melihat sebuah foto lawas Jeno. Mungkin itu dipotret saat dia SMP.
Itu memanglah foto lawas. Bisa dibilang foto biasa tapi yang membuatnya tak biasa yaitu siapa orang yang foto bareng Jeno. Jaemin sampai melongo. Dia sampai-sampai meragukan penglihatannya. Mungkin saja ia menangkap orang yang salah. Tapi setelah dilihat dengan teliti. Itu sama seperti yang ia pikirkan.
"Balikin nggak!" paksa Jeno mengambil foto tersebut. Pemuda Lee itu kini tengah berdiri disamping Jaemin dengan mata elangnya. "Mau apa lo kesini? Pergi nggak!?" bentak Jeno
"I-itu Jen... foto itu beneran-"
"Gue bilang pergi nggak!" ucap Jeno mengusir.
Jaemin menggigit bibirnya risau. Ia ragu untuk menanyakan semua yang ada dipikirannya pada Jeno. Haruskah ia bilang kalau dirinya mencurigai Jeno sebagai pelakunya?
Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Jaemin perlu menyelidikinya kembali. Ia perlu membuktikan ini dahulu. Baru setelahnya ia akan tanya langsung pada Jeno.
Untuk sekarang, lebih baik jika dirinya pergi dari kamar Jeno secepatnya. Ia tak mau membuat Jeno marah. Namun ada satu hal yang sangat menganggu pikirannya dan itu harus ia tanyakan.
"Jen" ucap Jaemin menggantung. "Elo kenal Haechan sebelumnya? Apa kalian pernah satu sekolah? Kok gue nggak tau sih?"
Jeno terdiam. Jaemin pun mau tak mau harus pergi dari tempat ini. Ia tak mau berlama-lama di sini.
"Jaemin" panggil Jeno sukses menghentikan langkah Jaemin. "Kalo gue pelakunya lo percaya nggak? Kalo gue yang melakukan semua ini, lo bakal apain gue?"
"What!!!???"
Jeno mengalihkan pandangannya dari Jaemin. "Ck!" Lalu pemuda kekar itu menyeringai. "Lo bahkan nggak bisa percaya meski gue udah bilang kalo itu bukan gue".
🌱🌱🌱
Jam pelajaran seni sudah berakhir lima menit yang lalu. Para murid-murid lainnya pun sudah pergi ke kelas. Keadaan ruang seni mulai sepi secara perlahan.
Dalam kesunyian tersebut tertinggal lah Jaehyun, memisahkan diri sambil menekuni hobinya dalam kesepian. Waktu-waktu seperti inilah yang ia butuhkan. Tidak perlu banyak teman, yang terpenting adalah inspirasi.
Orang-orang sering menyebut kalau kegiatan melukis sebagai kegiatan yang membosankan namun tak sedikit juga yang menganggapnya menyenangkan. Bagi Jaehyun sendiri, melukis merupakan hal yang mengasikkan. Dengan melukis, ia bisa mencurahkan segala masalah lewat goresan kuas.
Ia begitu menyukai kegiatan seperti ini. Melihat guratan warna yang menyatu dengan indah terasa begitu menenangkan. Jaehyun rela meski harus bersanding dengan kesepian, selama kuas, cat, serta kanvas bersamanya. Dia bakal tenang duduk berjam-jam di suatu tempat.
Kali ini tema lukisan yang ia buat merupakan curahan pikirannya sendiri. Sebuah karya yang menceritakan tentang anak kecil berserta masalah hidupnya. Sebuah lukisan yang syarat akan kepedihan.
__ADS_1
Kegiatannya sempat tertunda beberapa saat setelah dirinya mendapati Jeno yang lewat depan ruang seni diikuti Haechan dibelakangnya. Jika dilihat dari langkah kedua orang tersebut, tampaknya mereka sedang terburu-buru.
Pada awalnya Jaehyun bermaksud untuk melanjutkan kegiatannya, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Begitu dibuka rupanya itu pesan dari Yuta. Pemuda bertubuh jangkung tersebut meminta Jaehyun supaya ke kelas.
Menyadari kalau itu bukan sesuatu yang penting, Jaehyun memilih untuk melanjutkan kegiatannya kembali. Tapi ia kembali dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Masih dari orang yang sama namun kali ini bukan pesan yang ia dapatkan.
"Halo Jae!" panggil Yuta dari seberang. Jaehyun segera mendekatkan benda kotak tersebut ke telinganya. " Hmm?"
"Jae! cepet balik ke kelas. Ada hal penting, buruan nggak pake lama!" seru Yuta dari kelasnya.
Jaehyun melirik lukisan buatannya yang hampir jadi. Bibirnya menekuk dengan ragu."Sorry sibuk"
"Nggak ada alasan, gue tunggu disini secepatnya. Pokoknya ini gawat!" ucap Yuta lalu mematikan sambungan.
Sesaat setelah telpon tersebut, Jaehyun langsung pergi meninggalkan lukisannya. Meskipun dia sedikit malas, akan lebih merepotkan lagi kalau dia harus berdebat dengan Yuta.
Dalam benak seorang Jung Jaehyun pasti telah terjadi kekacauan besar hingga ia repot-repot dipanggil. Mengingat, jika pada biasanya ada Jisung atau Chenle si biang masalah. Namun sekarang dua orang itu sudah tiada. Jaehyun jadi penasaran siapa kali ini.
Namun begitu sampai di tempat, hal yang terjadi diluar ekspetasinya. Bukannya kekacauan besar ia malah melihat Yuta yang duduk dipojokan kelas beserta Jaemin yang sibuk bersama laptop miliknya.
Amnesia. Itulah yang Jaehyun pikirkan. Rupanya ia sudah melupakan satu fakta kalau ia baru saja melihat Jeno serta Haechan pergi ke arah rooftop mungkin. Jika dua orang itu pergi otomatis dikelas hanya tersisa Yuta serta Jaemin yang mungkin aja pergi karna sekarang waktu istirahat berlangsung.
Jaehyun menghela nafas kesal. Dia melirik Yuta sesaat kemudian ke Jaemin sebelum akhirnya memilih tuk kembali ke ruang seni. Sempat terlintas dibenaknya untuk menegur Yuta tapi semua ia urungkan.
Lukisan itu jauh lebih penting ketimbang berdebat dengan Yuta. Jaehyun membalikkan badannya mencoba cuek. Tapi langkahnya terhenti kala Yuta menanyainya.
"Jaehyun! lo lebih percaya siapa. Jeno atau Haechan? Siapa pelaku diantara mereka berdua?" tanya Yuta kini memusatkan perhatiannya pada Jaehyun.
"Menurut gue Haechan, tapi Jaemin bilang itu Jeno. Kalo lo? curiga sama siapa?" tanya Yuta kemudian.
"Hm" jawab Jaehyun masih bergumam.
"Kenapa lo percaya itu Haechan? Emang elo punya bukti?" sambar Jaemin nimbrung.
"Ada. Dan lo sendiri emangnya ada?" tanya balik Yuta.
Jaemin tersenyum kikuk. Dia menatap ke lantai sebelum kembali fokus pada percakapan. "Banyak!" jawab Jaemin. "Gue nemuin banyak bukti"
Yuta sempat memeloyotkan kedua bola matanya saking kagetnya. Dia tak menyangka kalau Jaemin bakal bicara banyak. Dia kira Jaemin cuma punya satu bukti seperti dirinya.
"Haechan pasti pelakunya, gue yakin!" kata Yuta percaya diri. "Gue udah lihat sendiri dari rekaman cctv"
"Lo lihat sendiri dia bunuh temen-temen kita?" tanya Jaemin.
"Nggak bukan itu. Tapi gue lihat hal lain" jawab Yuta sambil menekuk lehernya.
"Itu bukan bukti kejahatan, bisa aja itu hal lain. Elo nggak bisa nuduh orang sebagai pembunuh hanya karna dia berbuat kejahatan" keluh Jaemin.
"Ya terus gue harus biarin dia lolos gitu aja?" papar Yuta. "Tapi karna aksinya itu, ayah nya Winwin meninggal. Gue nggak bisa. Haechan harus dihukum "
"Emangnya Haechan lakuin apa hingga ayah nya Winwin mati? Bukannya mereka mati terbakar? Jisung juga ikut terbakar bukan?" tanya Jaemin.
Sempat beberapa detik suasana sunyi hinggap akibat Yuta yang belum juga menjawab pertanyaan dari Jaemin. Pemuda Nakamoto tersebut menundukkan kepalanya dengan lemas seraya menghela nafas gusar.
__ADS_1
"Yut, apa yang udah Haechan lakuin hingga buat ayah nya Winwin?" tanya Jaemin untuk kedua kalinya.
"Dia udah nyuri mobil Ayah nya Taeyong yang buat ayah nya Winwin harus bertanggung jawab penuh"jawab Yuta. "Kalau aja malam itu Haechan nggak mencuri mobil Tuan Lee, ayah nya Winwin pasti masih hidup. Dia pasti masih bekerja bareng bokap gue"
Dengan kompaknya Jaemin serta Jaehyun melakukan gerakan yang sama dengan memalingkan wajahnya menatap halaman kelas. Keduanya tampak begitu terkejut mendengar pengakuan Yuta tentang Haechan barusan.
"Kalau lo Jaem, apa yang udah Jeno lihat hingga kakak percaya kalau dia pelakunya?" tanya balik Yuta.
Jaehyun mengalihkan pandangannya ke arah Jaemin. Dia juga penasaran dengan alasan yang Jaemin punya sehingga dia menuduh saudara kembarnya sendiri.
"Gue lihat Jeno bunuh siswa kelas sebelah yang mati beberapa hari yang lalu. Kalian pasti masih ingat kan?" ujar Jaemin. " Mesti gue nggak lihat dengan jelas karena keadaannya gelap, tapi gue bisa denger suara teriakan siswa itu. Dia nampak begitu kesakitan jadi gue datangi. Dan begitu sampai sana, yang gue lihat Jeno beserta mayat siswa itu"
Senyap. Akhir dari perkataan Jaemin juga mengakhiri percakapan diantara ketiga orang tersebut.
"Tapi, semua itu belum tentu kebenarannya" Jaehyun kini mulai beropini. "Tadi kata lo Jaem, lo mendekat karna lo denger teriakan siswa itu. Dan begitu tiba siswa itu udah mati. Itu artinya lo nggak lihat secara langsung kejadiannya. Itu cuma praduga lo doang Jaem. Lo cuma beranggapan kalau Jeno pelakunya hanya karena dia ada di TKP lebih dulu dari"
"Sekarang pertanyaannya, apa lo juga bakal curiga ke gue kalau suatu saat gue ada di TKP? Ingat Jaem, orang yang ada di tempat kejahatan belum tentu dia penjahat!!!" ungkap Jaehyun penuh arti mendalam.
Setelah mendengar perkataan Jaehyun barusan, Jaemin tak bisa berkata-kata lagi. Dia kaget kalau hal seperti itu tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Sebelumnya ia hanya menganggap Jeno sebagai pelaku hanya karna hal tadi serta hubungan antara Jeno dengan Taeyong. Jaemin masih merasa kalau saudara kembarnya itu memiliki ikatan dengan Taeyong serta anggota NCT lama.
"AAKKH!!!" teriak seseorang dari luar. Kompak ketiganya segera mengarahkan pandangannya ke luar.
Di luar sekolah, tepatnya depan ruang seni terdapat gerombolan siswa-siswi. Banyak dari mereka yang bergerombol jadi satu seperti ada yang menarik saja. Mereka mengerubungi sesuatu disana.
Berpikir kalau itu hal yang sangat penting, ketiga orang tersebut segera berlari ke tengah untuk mencari tau. Seingat mereka tadi ada suara aneh terdengar dengan keras. Seperti suara benda yang jatuh dari atas.
Belum juga sampai, ketiganya dikejutkan oleh bisik-bisik orang di sekitar yang mengatakan hal buruk telah terjadi.
Terdengar samar tapi Jaemin yakin kalau hal itu pasti buruk. Dia bisa tau itu karna orang-orang yang dia lewati sedang menatapnya dengan pandangan aneh. Seolah-olah ini bener-bener nasib paling buruk yang Jaemin alami.
Oh ayolah, nasib paling buruk apalagi yang bisa Jaemin terima setelah dia mendengar kabar kawan-kawannya mati dalam waktu berdekatan?Memang ada ya yang lebih buruk dari itu?
"Jaemin Jeno jatuh dari roftoop!" Suara itu tiba-tiba lewat ke telinganya. Langkah Jaemin pun terhenti pada detik itu juga.
Dia tak mau mempercayai hal tersebut. Jaemin sungguh tak akan percaya sebelum melihatnya secara langsung. Namun pikirannya tak sanggup untuk terus melangkah. Dirinya tak sanggup kalau harus berhadapan dengan sebuah kenyataan pahit.
"Jaem, Jeno !" panggil Yuta sudah dulu sampai di tengah gerombolan itu beserta Jaehyun. Jaemin masih saja berdiri di tempatnya. Sisa tenaganya hilang secara tiba-tiba.
"Jaemin!" panggil Yuta kembali namun terdengar samar-samar di telinga Jaemin.
Bukannya mendekat, Jaemin malah mengalihkan pandangannya ke arah rooftop. Dia mendapati seseorang di sana sedang menatap kebawah dengan pandangan ketakutan. Matanya seolah-olah berbicara kalau dia tengah dihadapkan dengan sesuatu yang bukan kapasitasnya.
Jaemin melongo begitupun orang tersebut kala kedua pandangan mereka saling bertemu.
"Haechan"
Tangan Haechan bergetar dengan hebat. Dia menggelengkan kepalanya pelan seolah mengisyaratkan pada Jaemin kalau dia bukan pelakunya. Tubuhnya perlahan mulai menjauh dari pinggiran. Sementara Jaemin masih terdiam ditempatnya.
Tak lama kemudian sebuah ambulans datang. Pada moment inilah Jaemin harus dihadapkan pada takdir yang mengatakan kalau kembarannya telah pergi untuk selamanya. Orang yang selalu menemani Jaemin sejak lahir telah mati.
Jeno yang ia sayangi telah meninggalkannya. "Jeno" rintih Jaemin menatap tubuh kembarannya yang mulai menjauh. Air matanya perlahan jatuh tanpa seizinnya sekalipun.
"Takdir macam apa ini?"
__ADS_1