
Kehilangan memang meninggalkan banyak trauma. Tidak ada satupun manusia yang sanggup ditinggal oleh orang-orang tercintanya. Terlebih semua temannya.
Ya, bagaimanapun juga Jaemin tak rela. Tak akan merelakan kepergian semua teman-temannya. Meski ia tak punya kuasa sedikitpun. Setidaknya biarkan dirinya berharap. Mengharapkan jika suatu hari nanti mereka akan datang menemuinya meski itu terdengar sangat mustahil.
Salahkah dia berharap? Salahkah Jaemin menginginkan hal itu?
Dia tak salah. Takdir lah yang salah. Kenapa juga ia harus diberi takdir se-menyakitkan ini? Kenapa dia harus berlapang dada? Kenapa harus dia orangnya yang menanggung semua penderitaan ini?
Mungkinkah Jaemin sudah melakukan dosa besar di kehidupan lamanya?
Persetan dengan itu. Jaemin sendiri tak yakin dengan yang namanya reinkarnasi. Dia tak mempercayai hal-hal gaib seperti itu. Tapi jika itu benar, jika dia adalah seorang pendosa besar di kehidupan lalu, Jaemin berharap sekali jika jiwanya bisa diampuni.
Dia meminta dengan kesungguhan hati akan kiranya penderitaan ini bisa hilang secepat mungkin. Dia bukanlah manusia yang kuat yang bisa menahan semua cobaan ini dengan hati lapang. Dia hanyalah makhluk lemah.
"Nak Jaemin" panggil seorang wanita paruh baya.
Jaemin mengerjab kan matanya dua kali. Mencoba mengenyahkan segala pikiran buruk. Matanya dia buat fokus pada objek didepannya.
Jaemin tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum canggung ke arah wanita paruh baya yang berdiri disampingnya sedari tadi. Ah, dia sampai melupakan keberadaan dirinya sendiri karna terlalu fokus menyelami pikirannya sendiri.
"Bisa ibu antar ke ruangan kepsek sekarang? Kau sudah menyiapkan semuanya,bukan?" tanya wanita itu lembut.
Jaemin mengangguk ramah. Dia membiarkan tubuhnya berjalan mengikuti arahan wanita didepannya. Sesekali pemuda itu bakal tersenyum melihat bangunan yang ia jelajahi ini.
Rasanya baru beberapa bulan yang lalu ia menganggap tempat ini sebagai tempat yang asing. Dan sekarang dia akan meninggalkannya.
"Pasti berat bagimu untuk berpindah-pindah sekolah. Mengingat kau baru beberapa bulan disini dan sekarang harus berpindah lagi. Ibu harap kau betah di sana Jaemin!"
"Terimakasih kasih Bu!" balas Jaemin sekaligus menghentikan langkah keduanya.
Kini mereka sudah tiba di depan ruang kepsek. Tempat dimana terdapat seseorang dengan kekuasaan tertinggi di sekolah ini.
Ibu guru yang tadi mengantar Jaemin segera pergi begitu terdengar intrupsi yang menyuruh pemuda Lee itu untuk masuk.
Jaemin berjalan dengan pelan. Menjelajahi ruangan itu secara seksama. Tepat ditengah sana, ada раk Park tengah duduk bersanding dengan yang berkas-berkas. Apakah dia sedang banyak pekerjaan? Mungkin Jaemin datang diwaktu yang salah.
"Duduklah Jaemin, aku sudah menunggu kedatangan mu!" perintah pak Park tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas penting miliknya.
__ADS_1
Jaemin jadi tak enak hati. Tidak seharusnya dia datang dan mengganggu ayah temannya itu. Dia terlihat begitu sibuk.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu anda, pak. Jika hari ini tak bisa, saya akan datang lain waktu saja" sergah Jaemin cepat.
"Ah tidak-tidak" balas pak Park tak kalah cepat. Pandangannya kini beralih menatap pemuda dihadapannya yang bisa kita sadari tengah gugup. "Duduklah Jaemin, aku tak sesibuk seperti yang kau lihat"
Jaemin pada akhirnya memilih untuk duduk dihadapan pak Park yang kini sudah meninggalkan setumpuk berkas miliknya. Pria itu lebih fokus pada pemuda Lee tersebut.
"Jadi kau datang untuk meminta tanda tangan ku untuk surat permintaan perpindahan sekolah?" tanya Pak Park membuka perbincangan.
Jaemin mengangguk pelan. Suaranya terlalu lemah untuk ia keluarkan.
"Apakah keperluannya se-mendesak itu hingga kau mau pindah sekolah?"
Jaemin sempat terdiam untuk beberapa saat. Hal inipun dimanfaatkan oleh pria dihadapannya untuk lanjut membujuk Jaemin supaya tak jadi pergi.
"Kejadian itu bahkan berlangsung dalam waktu dekat, apa kau-"
"Satu bulan berlalu pak!" ucap Jaemin menginterupsi. Dia tak mau jika pak Park menanggap semuanya baru terjadi. Dalam kenyataannya semua sudah berlalu lama. Bahkan bulan sudah berganti. Dan Jaemin amat tersiksa dalam waktu tersebut.
"Sudah!" putus pak Park tak sanggup lagi. Dia menghela nafas pelan. Tangannya ia kepalkan dengan kuat. Bukan marah, dia tak marah dengan Jaemin. Dia hanya emosi setelah diingatkan pemuda itu tentang putranya.
"Tapi tak bisakah jika kau tinggal disini?" pinta pak Park. "Tak bisakah jika kau tak pindah?" Ucapannya terdengar sangat parau.
Jaemin menundukkan kepalanya menatap lantai marmer hitam dibawahnya. Itu terlihat indah berbanding terbalik dengan kehidupannya yang amat suram.
Jaemin menggelengkan kepalanya pelan. Ada luka yang terlihat jelas di sana. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya saat memori-memori kelam itu datang.
"Jaemin kau..-"
"TIDAK!" teriak pemuda itu sambil menggeser kursi dibawahnya. Tangan pak Park yang tadi terulur segera dia balikkan. Dia menatap pemuda kelinci dihadapannya dengan gelisah.
Melihat pemuda itu tersiksa menginginkannya akan sosok putra yang selama ini dia buat menderita. Melihat Jaemin sangat mengingatkan pa Park akan sosok Jisung yang selalu menderita.
Pak Park menyesal sudah membuat putra semata wayangnya menderita selama hidupnya. Dia menyesal karna sering memaksa Jisung untuk menuruti semua kemauannya. Dia menyesal sudah membuat hidup anaknya tak bahagia. Dia menyesal karna anak yang ia cintai meninggalkannya.
Jika saja waktu bisa diputar kembali. Pak Park berjanji kalau dia tak akan memaksa Jisung untuk mengikuti les malam. Dia janji tak memaksa anaknya untuk menuruti semua kemauan dirinya. Dia berjanji tak akan membuat anaknya sedih. Dia berjanji tak akan memarahi Jisung dan lebih sering menghabiskan waktu bersama sebagaimana dulu.
__ADS_1
Namun semuanya itu hanya berdasarkan kata 'jika'. Pada kenyataannya putra pak Park yakni Jisung memang sudah pergi. Jisung meninggal dan menyisakan banyak luka dihatinya.
Jaemin beranjak dari duduknya. Tangannya tampak gemetar. Meski sering mendapati tubuhnya yang bergetar dengan hebat, pemuda itu masih tak bisa mengatasinya.
"Kau baik-baik saja, Jaemin?" tanya paknPark menyadari keanehan yang Jaemin tunjukkan. Dia bermaksud untuk menolong Jaemin. Menenangkan pikiran pemuda itu yang kacau balau. Namun semuanya gagal, saat dengan tiba-tiba Jaemin memilih untuk kabur dari tempat itu.
Pemuda itu pergi meninggalkan pak Park beserta berkas yang sengaja ia bawa tadi. Jaemin pergi meninggalkannya begitu saja. Sedangkan pak Park hanya bisa pasrah melihat kepergian Jaemin.
Fly, sekedar info saja. Setelah kejadian sadis itu berakhir, tak hanya pak Park saja tapi hampir seluruh orang tua teman-temannya sering mengunjungi rumah Jaemin. Entah itu ada kepentingan atau hanya sekedar ingin melihat Jaemin saja. Mereka mengunjungi rumah Jaemin hampir setiap hari. Dan hal itupun membuat Jaemin tak nyaman.
Jika saja kedatangan mereka hanya untuk menjenguk Jaemin, maka pemuda itu tak akan menolak. Tapi sebagian dari mereka datang untuk membujuk Jaemin supaya tinggal bersama mereka.
"Kau mengingatkan kami dengan putra kami Jaemin. Jadi, kau bersedia tinggal bersama kami, bukan?"
Lalu bagaimana dengan orang tua Jaemin sendiri? jawabannya tentu saja sibuk bekerja. Mereka seolah tak merasa sedih dengan kepergian Jeno.
Ya, hampir semuanya menawarkan hal itu. Jelas saja Jaemin marah besar. Bisa-bisanya dia disamakan dengan anak mereka yang sudah tiada. Bisa-bisanya mereka menganggap Jaemin sebagai pengganti mereka.
Jaemin tentu menolak dengan keras. Dia bukan anak mereka. Dia tak bisa disamakan dengan mereka meski mereka adalah teman-teman Jaemin.
Jaemin berhak menolak kan? Walau ia tau hampir setiap temannya itu anak tunggal. Jadi kepergian mereka amat berbekas.
Oleh karena itu, demi kehidupannya Jaemin memutuskan untuk pergi dari kota ini. Dia mau menghilang dari semua orang yang ia kenal dan melupakan semuanya. Dia mau memulai kehidupan yang baru.
Jeju. Itu adalah tempat tujuan Jaemin. Selain jauh dari jangkauan, dia memilih tempat itu karna dulu dia dan kembarannya sempat tinggal di sana beberapa waktu.
Dan keputusan Jaemin untuk pindah itu sudah bulat. Dia akan pergi apapun yang terjadi. Meskipun surat perpindahannya tak disetujui. Meskipun semua orang tua teman-temannya mencoba untuk menghalangi. Jaemin akan tetap pergi.
Kehidupannya jauh lebih penting ketimbang keinginan semua orang.
"Semua barang-barangnya udah dibawa semua, kan?" tanya ibu Jaemin mengiringi kepergian anaknya menuju bandara.
"Sudah, bu" ucap Jaemin.
"Jaga diri baik-baik,ya! Jangan telat makan ! Awas kalo bandel di sana ibu akan nyuruh nenek buat pulangin kamu" ancam Bu Lee, ibu Jaemin yang kebetulan mengantarkan Jaemin bersama sangat ayah.
Jaemin terkekeh senang. "Iya, aku janji bakal jadi anak yang penurut" kata Jaemin lalu meninggalkan ibu serta ayahnya yang diam sedari tadi.
__ADS_1