
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, rata-rata orang pasti sudah bersiap untuk melelapkan tubuhnya setelah lelah beraktivitas seharian. Namun hal itu tak Winwin lakukan. Pemuda itu justru tengah bersiap-siap pergi ke suatu tempat malam-malam begini.
"Win, lo mau kemana di jam segini?" sambar Kun masuk ke kamar Winwin. Sang lawan bicara hanya bergumam sebagai balasannya. Dia masih sibuk mengenakan jaket hitam kesukaannya.
"Gue ikut ya!?"
"Nggak" balas Winwin cepat.
"Loh kok nggak boleh? Ini udah malam loh, Win. Gue takut hal buruk terjadi. Gue bakal nemenin lo dari belakang" bujuk Kun.
"Nggak usah Kun, Winwin bisa pergi sendiri"
"Jangan batu deh jadi orang. Pokoknya gue mau ikut titik!" paksa Kun tak mau mengalah. Winwin menghela nafas pasrah.
"Ok, lo boleh ikut. Tapi pake jaket dulu" ucap Winwin mengalah. "Tuh ambil aja di belakang, tadi habis dijemur!" titah Winwin lalu mengikuti Kun ke belakang.
Tapi sebelum Kun benar-benar keluar dari ruangan itu, secara cepat Winwin langsung mengunci pintu dan meninggalkan Kun didalam sendirian.
" WN, WINWIN BUKA NGGAK! WINWIN! INI SAMA SEKALI NGGAK LUCU. CEPET BUKA NGGAK!WINWIN!!!" teriak Kun dari dalam.
"Sorry Kun, Gue kunci lo demi kebaikan lo juga. Gue pergi dulu ya!" paparnya kemudian pergi meninggalkan Kun yang tak berhenti minta dibukakan.
"WINWIN BUKA! CEPET BUKA PINTUNYA!!!"
π±π±π±
Ditempat lain tepatnya di dalam kamar Jaemin, pemuda kelinci itu kini tengah tertunduk lesu bersama laptop miliknya. Dia menatap nanar sebuah video yang memperlihatkan Jeno yang tengah sibuk mencoret-coret dinding rumah Chenle.
Ngomong-ngomong, sekedar info aja, sekarang Jaemin sedang melihat sebuah video dari flashdisk yang pernah Chenle beri padanya. Kalau kalian ingat, flashdisk itu seharusnya Jaemin serahkan ke Jeno karna dia yang meminta. Tapi karna Jaemin orangnya kepo'an, jadilah flashdisk itu ia tonton lebih dulu sebelum diberikan ke Jeno.
Namun setelah menonton isi dari flashdisk itu, mendadak kepala Jaemin berkunang-kunang. Apa karna alasan ini Jeno minta rekaman cctv rumah Chenle?
"Sungguh mengejutkan" Jaemin mengeluh.
__ADS_1
Kejadian kemarin masih belum terpecahkan, sekarang sudah terbongkar satu kejadian lagi. Jaemin benar-benar marah, kesal dan tidak percaya jika kembarannya itu terlibat dalam teror ini.
Pertanyaan terbesar disini bukan mengenai alasan Jeno melakukan semua itu. Tapi apakah Chenle sudah menonton video ini atau belum? Jika sudah, apakah dia menganggap kalau peneror selama ini tidak lain yakni Jeno?
"Yaaaa! Zhong Chenle kenapa lo pergi begitu cepat hah? "maki Jaemin dalam hati.
Ia tak rela kalau Chenle harus pergi dengan meninggalkan ribuan pertanyaan dalam benaknya. Sebenarnya dia itu benar-benar mati bunuh diri atau tidak?
Ting!
Satu buah chat masuk ke nomor Jaemin. Itu dari nomor tak dikenal. Buru-buru ia melihat isi chat tersebut.
Alangkah terkejutnya Jaemin setelah melihat isi chat tersebut. Pemuda itu bahkan melempar ponsel miliknya ke kasur saking terkejutnya.
"Woah....woah....woah....!" pekik Jaemin mencoba menutupi rasa terkejutnya.
Ting!
Chat dari nomer tak dikenal kembali masuk. Dengan cepat Jaemin mengambil ponselnya di kasur. Dia membuka isi chat tersebut dengan hati-hati.
Bersamaan dengan itu diperlihatkan sebuah foto yang menampakkan keadaan kedua orang tersebut. Winwin yang tengah berjalan disebuah jembatan dan Jisung yang tengah duduk di halte bis dengan sebuah todongan pisau dari si pengambil foto.
Jaemin merasa bimbang harus memilih diantara keduanya. Jisung terlihat jauh lebih mengkhawatirkan. Tapi Jaemin tak boleh menyepelekan posisi Winwin saat ini. Pelaku itu pasti berencana menenggelamkan Winwin kapanpun itu.
π : "Waktu lo nggak banyak Kim Jaemin! Pilihan ada ditangan lo!"
π : "Keselamatan mereka bergantung sama pilihan yang lo pilih"
^^^"Yaaa, lo gila apa!?" Gue nggak bakal kena tipuan murahan lo!"^^^
π : "Oh jadi begitu"
π : "Gue tanya sekali lagi"
__ADS_1
π : "Siapa yang lo pilih "
^^^"Nggak bakal. Gue yakin lo nggak akan bisa. lo nggak mungkin ada di dua tempat sekaligus "^^^
π : "Oh, jadi itu pilihan lo. Kalo gitu siap-siap denger kabar buruk Lee Jaemin"
Pesannya berhenti. Dengan cepat Jaemin langsung mencari kotak nama Jisung dan memencet tombol panggilan disana.
"Halo?" jawab seseorang diseberang sana. Bukannya membalas, Jaemin segera mematikan telponnya dan langsung beralih mencari kontak telpon Winwin. Ia lakukan hal yang sama seperti Jisung tadi.
"Ada apa Jaem?" balas Winwin.
Jaemin menghela nafas dengan lega. Dia kemudian mengajak Winwin berbincang sebentar memastikan kalau pemuda itu beneran aman.
"Gue nggak papa. Emangnya kenapa?"
"Nggak. Gue cuma mau ngobrol aja" balas Jaemin. " Ya udah kalo gitu. lo aman kan?"
"Iya. Emang kenapa sih?"
"Nggak ada. Gue tutup ya, selamat malam Winwin!" tandas Jaemin lalu menutup telpon tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya.
Namun tanpa Jaemin sadari, tepat setelah telpon darinya terputus, tiba-tiba ada orang asing yang menghampiri Winwin. Orang itu datang dan langsung mendorong tubuh Winwin ke pinggir jembatan.
Dia dengan cepat mengunci tubuh pemuda putih itu dengan sebuah rantai. Winwin mencoba memberontak namun sayang ia kalah tenaga.
Dalam hitungan detik saja tubuhnya telah sukses di ikat. Mulutnya disumpal lakban dan matanya ditutup dengan sebuah kain hitam.
"Ada pesan terakhir sebelum menyelam ke dasar sungai?" desis si pria misterius sambil mencengkeram tubuh Winwin.
"Gue rasa enggak. Selamat bertemu Mark, Lucas, Ten dan Chenle kita Winwin hehe!" ungkapnya lalu mendorong tubuh Winwin ke sungai.
Seandainya saja Jaemin bicara lebih lama. Mungkin saja hal ini bisa dihindari.
__ADS_1
Benarkah begitu?
Tubuh Winwin berdebur jatuh ke dalam air. Suara nya sangat keras karena jatuh dari ketinggian. Winwin menangis dalam kuat nya ikatan rantai.