"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 34


__ADS_3

Rumah Winwin tiba-tiba kedatangan tamu tak diundang. Seseorang datang dengan membawa sebuah karung berisi jasad manusia. Dia melemparkan karung tersebut dengan kasar.


Sebuah korek listrik lalu ia keluarkan. Orang tersebut menatap rumah Winwin yang sepi tak berpenghuni. Dia lalu menyiramkan bensin ke berbagai sudut rumah Winwin dengan hati-hati.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali pada karung yang tadi ia bawa. Senyumannya kemudian terurai dengan indah.


"Kasus kebakaran sekolah SMP 98 yang menewaskan 95 siswa dan guru, 125 orang luka-luka, dan lebih dari 500 orang menderita trauma itu ulah lo. Sekarang gue bakal tunjukkin apa artinya balas dendam yang sesungguhnya. Satu orang bahkan dihukum atas kesalahan yang lo perbuat dan dia mati bunuh diri. Melihat lo bisa hidup dengan damai rasanya nggak adil banget. Jadi gue tunjukkin arti dari kalimat mata dibalas mata, gigi dibalas gigi"


Orang itu lalu menghela napas kasar. "Lo bahkan nggak tau betapa menderitanya gue setelah kejadian itu. Dan sekarang saat nya lo membayar kesalahan fatal itu"


Dia kemudian menyalakan korek listrik tersebut lalu melemparkannya ke sembarang arah. Api langsung berkobar dengan hebat menyambar semua yang ada didalam. Si jago merah itu tak membiarkan satu barang pun terlewat.


Sebelum semua mengganas, orang itu sudah lebih dahulu pergi dari tempat itu meninggalkan bungkusan karung yang tadi ia bawa. Meninggalkan orang yang mungkin masih hidup didalam.


Dia tak sadar atau mungkin saja sengaja membakar rumah itu tanpa mengecek fakta apakah ada orang lain didalam sana selain dirinya dan orang yang tadi ia bawa.


Ia tak tau kalau Kun telah berhasil selamat dari kebakaran ini dan satu orang yang mungkin tak akan selamat. Ia melupakan satu fakta kalau akan ada dua orang yang bakal mati terbakar didalam sana. Karna setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia segera kabur meninggalkan rumah Winwin yang mulai hangus dilahap api.


"Uhuk! si*l!!!" maki Kun yang terbaring lemas di halaman rumah Winwin yang tengah terbakar. "Siapa itu? seenaknya aja bakar rumah orang lain"

__ADS_1


Kun beranjak berdiri. Ia menghembus kan napas lega. "Untung gue selamat, dan yang lebih penting... Winwin juga nggak ada di rumah, dia pasti selamat" Kun melangkah menjauh. Tanpa tau bahwa Winwin terbakar bersama rumah nya.


🌱🌱🌱


Renjun mengucek kedua matanya dengan pelan. Ia menangkap satu objek yang terasa asing. Sepertinya sepuluh menit yang lalu kedua temannya sudah pamit pulang tapi kenapa juga ada yang kembali?


"Loh? bukannya tadi udah pulang? Kok balik lagi?" tanya Renjun kebingungan.


Pemuda di hadapannya Renjun tersenyum canggung. "Iya nih Njun. Tadi ada yang ketinggalan. Gue nggak enak bangunin lo jadi gue ambil sendiri. Udah ketemu kok. Kalo gitu gue pamit ya!"


Pemuda itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Renjun yang masih diliputi rasa penasaran.


"Barang gue kan ketinggalan dekat situ Njun. Apaan sih lo!"


Mulut Renjun sukses membulat setelahnya. "Tapi yang gue inget lo tadi nggak kesini. Elo kan duduk di seberang sana" papar Renjun mulai meragukan.


Pemuda itu kemudian melebarkan senyumnya yang sukses membuat bulu kuduk Renjun berdiri. Senyum itu sungguh menakutkan bagi Renjun.


"Kalo gitu gue bawa hadiah buat lo"

__ADS_1


"Hah, hadiah? Maksudnya?"


"Tunggu aja" ucapnya. Renjun yang masih kebingungan.


Tak lama dari itu nafas Renjun mendadak sesak. Dadanya serasa panas dan detak jantungnya jadi tak beraturan. Ia merasa ada yang mencabik kulitnya secara paksa. Keringat dingin bermunculan beserta kepalanya yang terasa begitu berat.


Renjun mencoba meraih tombol darurat yang ada di nakas. Tangannya mencoba meraih dengan keras namun semua aksinya terhenti kala tubuhnya mulai kejang-kejang dengan hebat.


"T-ttol... long"


Renjun membuka mulutnya lebar-lebar mencoba menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Tubuhnya mulai memberontak dan menggeliat. Ia tau ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi tak tau apa penyebabnya.


Pemuda yang baru beberapa menit yang lalu mengunjungi nya itu hanya diam memperhatikan. Tidak ada tanda-tanda ingin membantu Renjun dan tidak berniat memanggil dokter.


Pandangan Renjun mulai meremang. Mengambil nafas serasa sangat sulit. Perlahan, Renjun telah pergi setelah berjuang dengan keras melawan racun dalam tubuhnya. Dia telah mencapai batas dan memilih tuk istirahat dengan tenang.


Malangnya dia, disaat-saat penting ini bukannya menolong, pemuda yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya malah diam melihat Renjun berjuang. Dia hanya terpaku menatap Renjun kesakitan.


Setelah napas Renjun benar-benar hilang, pemuda itu langsung menelpon seseorang untuk memanipulasi kematian Renjun. Ia tidak mungkin membiarkan dokter tau jika ia telah memasukkan racun ke selang infus itu.

__ADS_1


"Dia udah mati, lo bisa ke sini sekarang" Telpon pun mati. "Lo terlalu ikut campur Njun, sorry karena lo emang pantes mati"


__ADS_2