
Yuta mengucek kedua matanya secara bergantian. Mencoba untuk memperjelas objek yang ada dihadapannya saat ini. Dia kesal, matanya terus saja buram.
Pemuda Nakamoto itu mengerutkan keningnya bingung. Rupanya dia tak salah lihat. Bayangan pemukiman warga dari jauh tampak terpampang dengan nyata. Ini bukan mimpi ataupun khayalannya.
Diam. Yang ia lakukan hanyalah memandangi pemandangan didepannya dengan perasaan was-was.
Tunggu. Sepertinya ini bukan tempat yang asing lagi bagi Yuta. Dia mungkin saja mengenali tempat ini. Tapi, dimana dia saat ini?
Yuta mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling. Dia dikelilingi banyak rumput liar yang menjalar. Keadaan disini sungguh tak terurus. Berbeda jauh dengan gubuk milik Hyunjin.
"Yah" lirih Yuta menatap keadaan. "Gue kayak kenal deh tempat ini. Tapi dimana ya?"
Yuta kembali ke tugas mengamatinya. Dia mengedarkan pandangannya selebar mungkin. Dan pada suatu titik, dirinya tiba-tiba menangkap sebuah tubuh yang kini tengah berdiri tegap di depan sana.
Bukan berdiri bersembunyi di belakang tiang yang bisa melindungi tubuh bongsornya itu. Melainkan berdiri sambil mencengkeram gagang pintu rumah Jaemin.
Yang jadi fokusnya saat ini yaitu kehadiran orang bertubuh bongsor itu. Yuta sepertinya mengenali siapa pemilik tubuh itu. Dia rasa ia kenal orang itu.
"Jaehyun. Itu elo kan?" tanya Yuta bicara lirih dengan nada sedikit ragu.
"Ouh...pangeran kita udah sadar rupanya "saut Haechan.
Yuta menengok ke arah yang berlawanan, dimana Haechan yang tengah berdiri di samping sebuah meja lusuh. Dia melirik ke arah Yuta berada dengan tatapan sengit.
"Kenapa? Pangeran kaget bangun-bangun udah diikat begini?" ucapnya dengan nada manis yang dibuat-buat. "Apa pangeran capek?"
Haechan mendekat dengan membawa segelas minuman yang entah asalnya dari mana. Dia acungkan gelas tersebut ke arah Yuta. Namun Yuta memalingkan wajahnya. Ia tak mau meminum minuman yang Haechan beri.
Yuta masih sangat bingung. Rumah Jaemin yang berantakan, Jaehyun yang berdiri di ujung pintu sana serta Haechan yang sudah ada di sini. Seingat Yuta, Haechan masih ia kurung sebelum ia pergi. Yuta merasa ini benar-benar keadaan yang sangat aneh.
Begitulah isi kepala seorang Nakamoto Yuta.
Karna Yuta tak juga mendekatkan mulutnya, Haechan jadi geram. Tangannya lalu menarik pundak pemuda Nakamoto itu dan meletakkan gelas ke mulut Yuta secara paksa.
__ADS_1
"Ish, dibilang nggak mau. Kok malah maksa!" protes Yuta meludahkan kembali minuman yang berhasil masuk ke mulutnya. "Berhenti nggak, Lee Haechan!!!"
Mendengar Yuta memanggil namanya dengan lengkap, tentu membuatnya tambah jengkel. Haechan tambah ketat mendekatkan bibir Yuta itu ke salah satu sisi gelas.
"Lee Haechan!!! gue nggak sudi. Cepet menyingkir minuman sial*n lo ini! Park Haechan" dongkol Yuta disela aksi berontaknya.
"Haechan udah. Gue rasa itu udah cukup!" saut Jaehyun tiba-tiba yang memaksa Haechan harus mengehentikan aksinya tadi.
Masih diliputi rasa marah yang berkecamuk. Haechan mulai melepaskan pegangan tangannya pada pundak Yuta namun beralih ke dagu pemuda berambut panjang itu.
Haechan mengangkatnya, membuat Yuta menatapnya dengan nyalang. Untung emosinya masih bisa di kontrol.
"Seharusnya lo nggak pantas hidup Yuta!" racau Haechan.
Yuta mengernyitkan keningnya bingung. "Emang lo tuhan!" balas pemuda itu datar.
"Dan mati bareng bokap lo!" sambung Haechan tanpa memperdulikan perkataan Yuta.
Yuta tersentak. Dagunya ia goyangkan sekencang mungkin hingga pegangan Haechan terlepas. Matanya masih menatap dengan nyalang. Dan itu semakin tajam lagi.
Haechan tersenyum sinis. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Yuta. Mendapatkan perlakuan aneh itu membuat Yuta refleks memalingkan wajahnya menghindar. Namun malah tubuh Jaehyun yang ia lihat.
"Gimana kalo dibalik? Gue tau batasan, jadi bisa berbuat macam-macam. Elo aja udah melangkah jauh dari batasan. Sebagai teman yang baik, gue mau narik lo balik Nakamoto Yuta" oceh Haechan.
"Brengs*k!!!" rutuk Yuta. Haechan tersenyum senang mendengarnya.
Tubuhnya perlahan menjauhi Yuta dan kembali ke meja tadi. "Gue bawa hadiah buat lo. Nih lihat, bagus kan?" tunjuk Haechan.
"Nggak sudi!" tolak Yuta cepat.
"Oh tenang, gue nggak minta persetujuan dari lo. Gue cuma mau nunjukin hadiahnya sama lo. Taraaaa!!"
Haechan menyingkirkan tubuhnya sehingga Yuta bisa dengan mudah melihat hadiah yang dimaksud.Itu sebuah bom yang namun belum diaktifkan.
__ADS_1
"Gila! Haechan beneran seorang psikopat"
Yuta menyipitkan kedua matanya guna melihat apa objek didepan itu beneran sebuah bom. Dan hasilnya memang iya. Itu sebuah bom yang ia yakini mempunyai daya ledak yang cukup tinggi.
"Sebenernya maksud lo apa ngelakuin semua ini? Elo bunuh temen lo sendiri secara sadis dan tinggalin tubuhnya dengan sebuah kertas emoticon. Psikopat mana yang tinggalin korbannya dengan sebuah kertas emoticon. Apa itu cuma keisengan lo!!!????" tanya Yuta.
"Nggak kok" sangkal Haechan. Pandangannya lalu beralih ke arah Jaehyun yang sejak tadi terdiam. "Itu semua perbuatan dia, Jaehyun. Dia yang udah bunuh semua orang termasuk hewan peliharaan. Terkecuali Renjun, gue yang bunuh dia, termasuk Jeno juga"
"Tapi kalo Jeno, gue lebih suka bilangnya sebuah kecelakaan. Ya, karna gue nggak sengaja dorong dia"jelas Haechan tanpa rasa ampun. Di wajahnya terpancar aura kesenangan setelah mengingat semua aksi keji yang sudah ia serta Jaehyun perbuat.
"Elo nggak nanya apa alasan kita lakuin itu? Apa jangan-jangan lo nggak mau tau kesalahan apa yang udah lo serta anggota Dream lakukan!?" usik Haechan membuat pandangan Yuta menyipit heran.
"Nggak ada alasan bagi seorang psikopat untuk bunuh korbannya. Mereka membunuh hanya untuk kesenangan. Buat apa juga gue kepo sama lo berdua!" sungut Yuta menatap Haechan sengit.
"Gue udah tau ya kalau sebenarnya Haechan itu saudara kandung Taeyong. Lo pasti mau balas dendam ke kita karna ibu kakak meninggal secara tidak adil. Udah deh Chan, lupain hal itu. Itu semua cuma kekeliruan. Lo nggak bisa tuntut kita buat tanggung jawab. Toh ibu lo juga meninggal karna bunuh diri. Jadi mau gimana lagi. Balas dendam nggak akan buat ibu lo balik lagi!" jawab Yuta.
Sementara pemuda Lee itu tampak pasrah mendengar jawaban dari Yuta. Nih anak minta ditampol rupanya. Tunggu aja nanti!
"Alexitymia pernah denger kata itu?" saut Jaehyun secara tiba-tiba. Dia melangkah mendekati Yuta dan segera melepaskan tali yang mengikatnya.
"Jae, lo apa-apaan sih!? Berhenti nggak! Jangan sekali-kali lo berpikir buat berhenti disini. Dendam kita belum terbalaskan. Masih ada yang harus kita lakuin!" komen Haechan terlihat tak senang saat melihat Jaehyun yang melepaskan Yuta secara cuma-cuma.
"Dendam lo Chan, bukan Jaehyun. Lo yang buat dia jadi monster. Jaehyun itu orang baik, dia nggak mungkin berbuat jahat tanpa alasan!" saut Yuta.
"Tau darimana lo. Elo nggak tau apa-apa Yuta!" ungkap Haechan.
"Gue kenal Jaehyun udah lama. Gue kenal dia seperti apa orangnya" balas Yuta tak kalah percaya diri. "Dia nggak mungkin lakuin hal bodoh itu demi dendam. Itu pasti bujukan lo Chan!" tuduh Yuta yang sukses buat Haechan naik pitam.
Pemuda Lee itu kemudian menarik kerah seragam Yuta kuat-kuat. Hingga menyebabkan tubuh Yuta terangkat sedikit dari tanah.
"Jaga ucapan lo Yuta! Elo sama sekali nggak kenal Jaehyun. Elo sama sekali nggak tau apa yang Jaehyun alami selama ini!" tekan Haechan.
Jaehyun mendengus kesal. "Udah lah Chan, gue males. Udahin aja yuk, kita pergi aja!" ajak Jaehyun sambil menempelkan tangannya di pundak Haechan. "Udah, biarin Yuta disini. Gue nggak bernafsu buat nyingkirin dia sekarang!"
__ADS_1
Tak menanggapi ajakan dari Jaehyun, Haechan terus saja menekan kerah Yuta tanpa ampun. Pemuda Lee itu juga menghimpitnya hingga membuat nafas Yuta sesak.
"Elo bahkan nggak tau kalau Jaehyun lagi sakit. Elo pasti nggak berpikir sampai kesitu. Karna yang ada dipikiran kalian hanya reputasi dan popularitas. Para anggota NCT hanya kumpulan sampah, kalian nggak akan peduli pada kita!" ungkap Haechan tersulut emosi.