"DREAMS" Area

"DREAMS" Area
Dream 22


__ADS_3

"Ini beneran!? Nggak boong kan?" tanya Renjun sekali lagi. "Bisa dipercaya kan?"


Jaemin menganggukkan kepalanya pasti. "Iya! Gue dapet pesan suara dari Winwin. Gue yakin banget"


"Mana? Gue mau denger dong!" pinta Renjun. Jaemin segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih tersebut. Dia lalu memberikan rekaman suara yang Junghwan kirimkan tadi siang.


Renjun mendengarkannya dengan serius. Setiap kata, setiap kalimat dia ingat dengan betul. Setelah rekamannya selesai, dia baru percaya dengan ucapan Jaemin tadi.


"Jadi Chenle atau Jisung? Kok dua sih nggak satu? Terus kita jagain mereka gimana? Masa mau bolak-balik ke tempat mereka berdua?" tanya Renjun.


Jaemin kembali menyimpan ponselnya ke saku. "Kita bagi dua aja. Lo ngawasin Jisung gue Chenle. Kita pulang nggak boleh malam-malam. Inget, besok sekolah!" jelas Jaemin.


"Kenapa lo yang harus jagain Chenle? jangan-jangan mau makan nih" Tebak Renjun sambil memicingkan matanya. Jaemin yang di tuduh pun tersenyum. "Nah kan, fokus dong jangan perut mulu yang dipikirin!" omel Renjun.


"Kok tau sih" jawab Jaemin cengengesan.


"Gue kan cerdas. Tau lah jalan pikiran Lo!" balas Renjun menyombongkan diri. "Tapi terserah lo deh Jaem, gue nurut" putus Renjun tak mau berdebat. Kalo ia terus mempermasalahkan ini bisa-bisa waktunya habis.


"Gue berangkat sekarang aja ya!" pamit pemuda bermarga Huang tersebut sembari masuk mobil.


Sekedar info aja, tempat Jaemin dan Renjun ketemuan itu ada di depan supermarket. Jadi mobil yang Renjun tumpangi diparkir tak jauh dari sana. Mungkin cuma beberapa langkah.


Renjun kemudian pergi. Tinggal Jaemin saja. Pemuda itu ikutan pergi tak lama kemudian.

__ADS_1


🌱🌱🌱


Sungguh tak terbayangkan. Pikiran Jisung bahkan tak pernah sampai disini. Dia sama sekali tak menyangka bakal ada ditempat ini malam-malam. Sekarang ia ada disebuah pabrik terbengkalai bersama seorang teman sekelas. Ah tidak, akan lebih pantas kalau kita sebut dia lawan. Karna emang tujuannya kesini untuk bertarung bukan bersenang-senang, melanjutkan pertandingan yang sempat terhenti tadi pagi.


Kalau saja ayah Jisung tak sampai mengurung dia dikamar, pasti Jisung sekarang ada ditempat les pribadi. Menghabiskan waktu hingga tengah malam datang.


Tapi bagi seorang Park Jisung ia tak akan menyesali apapun. Ia memang berniat datang kesini. Rasanya ada yang mengganjal dipikirannya. Seperti ada rasa tak puas. Apalagi lawan di hadapannya ini telah mengejek habis Jisung, keluarga, beserta teman-temannya, yaitu anggota Dream karena rumor kemarin. Jelas Jisung nggak terima akan hal itu.


Dan disinilah dia sekarang. Menghadap sang lawan dengan keyakinan penuh. Kali ini tak akan ada orang yang bakal menghentikan aksi ini kecuali salah satu pihak menyatakan kalah. Ya, seserius itu masalahnya.


"Wah, gue nggak nyangka kalo Lo bakal datang sendirian. Atau jangan-jangan ada yang sembunyi dibalik semak-semak. Wkwkwk!" ejek sang lawan dengan muka cengengesan.


Jisung terdiam. Yang ia lakukan hanya berdiri sambil menatap sang lawan. Sementara Hyunseok, sang lawan masih tetap mengeluarkan berbagai lelucon sampah.


"Gue yakin Lo pasti bawa Haechan kesini. Ya kali Lo nekat datang tanpa persiapan apa-apa. Dasar anak papi!" ejek Hyunseok.


Melihat Jisung yang balik menghinanya, Hyunseok menggeram. "Sok banget sih, mentang-mentang anak orang kaya- "


"EMANG KENAPA KALO GUE ANAK ORANG KAYA!!!? MASALAH !?" teriak Jisung ujung-ujungnya jengkel juga." Oh atau....Lo iri ya terlahir jadi miskin. Dasar orang miskin!"


Hyunseok tanpa ba-bi-bu lagi langsung menarik kerah Jisung.


"Napa, ngerasa ya? Duh susahnya jadi orang miskin! Mau beli buku aja nggak bisa, boro-boro mikir refreshing. Makan aja nggak ada. Gue kasihan deh" sambung Jisung.

__ADS_1


"Lo sama temen-temen lo emang bangs*t!" ucap Hyunseok semakin mengeraskan eratannya. Tangan kanannya terangkat dan bersiap memukul wajah mulus Jisung.


Jisung sedikit melirik ke arah tangan Hyunseok yang sepertinya sudah siap melayang ke wajahnya. Oh tenang, tidak akan semudah itu Ferguson. Ini Jisung loh. Si anak petakilan yang otaknya dipenuhi banyak akal.


"Kalau mau mukul tinggal mukul, jangan ditahan. Mari kita persingkat aja, gue nggak sabar ngalahin Lo!" kompor Jisung.


Mendengar hinaan barusan, Hyunseok segera melayangkan pukulannya ke arah wajah Jisung. Namun sayang tangan pemuda Park itu sudah lebih dahulu mendaratkan kepalannya ke perut Hyunseok. Alhasil Hyunseok langsung meringis kesakitan.


Tak berselang lama, Jisung kembali memukul Hyunseok dan begitu pun sebaliknya. Dan begitulah pertarungan itu dimulai. Tak ada yang tau kapan itu berakhir. Tapi ada satu orang yang menginginkan itu berakhir dengan cepat. Seseorang yang kini sibuk menonton dibalik semak-semak sambil memencet layar ponsel miliknya.


Ia terlihat amat khawatir menyaksikan semua pertarungan itu. Mau melerai mereka sorang-sorang takut kalah dan berakhir dengan babak belur. Kan dia juga yang bakal rugi.


"Tolong kesini secepatnya. Jisung, dia berkelahi sama Hyunseok sekarang. Plis cepet dateng!" ungkapnya.


"Hah apa!? Jisung? Seriusan?" balas orang diseberang ikut khawatir.


"Iya, masa gue boong sih!"


"Ok, gue bakal kesana secepatnya. Gue juga bakal bawa Haechan"


"Jangan! Elo aja Jaem. Udah nggak usah bawa siapa-siapa! Cepet!"


"Gue otw, Njun"balas Jaemin cepat lalu sambungan telpon terputus.

__ADS_1


Kini hanya ada Renjun seorang menunggu dengan cemas. Beruntungnya ia bisa bertemu Jisung waktu pemuda Park itu kabur dari rumah. Kalo sampe Renjun nggak berpapasan atau datangnya telat, entah apa yang akan terjadi pada Jisung. Renjun sih berharap kalau Jaemin bakalan cepat dateng supaya perkelahian itu cepat berakhir. Ia tak tega, sungguh tak rela melihat wajah Jisung terluka. Ia sedih melihat Jisung terluka.


"Sial! Tahan dulu Jie..." Gumam Renjun masih terus memperhatikan Jisung. Ia sebenarnya bisa saja muncul dan melerai perkelahian ini, namun itu akan merusak rencana nya dan Jaemin. Renjun harus bersabar sekarang.


__ADS_2