[Drop] Another Life In Ragnarok System

[Drop] Another Life In Ragnarok System
Another Life In Ragnarok System Chapter 4 (Revised)


__ADS_3

...Chapter 02. Kehidupan Abad Pertengahan....


Saat Riz bersama Agitta dan Nenek Eva sedang berada di kereta kuda sedang menuju Ibukota Prontera. Setibanya didepan kota, Riz pun terkejut disaat melihat dinding baju yang tinggi dan besar.


“Inikah kota Prontera?” ucap kaget Riz.


“Benar, Riz. Selamat datang di kota Prontera! Kota terbesar di Midgard,” ucap Agitta.


“Begitu, ya,” jawab santai Riz.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di pintu gerbang dan beberapa penjaga kota yang berpakaian coklat serta bertopi panjang bergaya seragam militer swiss menghentikan laju kami.


“Bisa periksa identitas anda?” seru penjaga kota.


Nenek Eva yang mendengar itu, dia pun membuka jendela kaca dan menunjukan identitasnya.


“Aku Eva Claire, pedagang keliling Claire corporation!” ucap Nenek Eva.


Tanpa menunjukan dokumen, Nenek Eva memperkenalkan dirinya. Penjaga itu pun langsung terkejut melihat Nenek Eva.


“Oh, iya. Maaf, Nenek Eva! Saya tidak tahu. Silahkan masuk!” ucap penjaga kota.


“Terima kasih,” ucap Nenek Eva.


Sesudah mendapatkan izin, kereta kuda melanjutkan langkah kedalam. Riz menduga bahwa popularitas Nenek Eva sangat terkenal di kota sehingga penjaga kota mengenalnya.


Setibanya didalam, Riz lagi-lagi dikejutkan dengan pemandangan yang tidak asing didalam kota. Riz pun bersikap seperti anak kecil dengan melihat kesekeliling kota dari jendela kereta kuda.


“Ini benar-benar kota prontera!” ucap kaget Riz.


Agitta dan Nenek Eva pun menatap heran dan bingung.


“Nak, Riz. Apa kamu mengingat kota ini?” tanya Nenek Eva.


“Sepertinya aku sedikit mengingatnya!” jawab Riz yang langsung tersadar bahwa dirinya lupa ingatan.


Tidak lama kemudian, kereta kuda berhenti disalah satu gedung yang cukup besar dan kusir membuka kan pintu.


“Kita sudah sampai!” seru kusir.


“Ayo, Nak Riz. Kita turun!” seru Nenek Eva.


“Baik, Nenek Eva!” jawab Riz.


Agitta, Nenek Eva dan Riz pun turun dari kereta kuda nya.


Saat turun, Riz masih melihat sekelilingnya.


“Ini kota prontera sungguhan!” batin kagum Riz disaat melihat sekelilingnya.


“Riz, kamu sedang apa?” tegur Agitta yang sudah berada di depan pintu gedung.


Riz pun tersadar dari lamunannya dan melihat kearah Agitta.


“Oh! Iya,” jawab Riz yang langsung melangkah kearah Agitta.


Saat Riz melangkah, dia melihat papan tulisan yang digantung dekat pintu masuk bertuliskan [Penginapan Claire].


“Entah kenapa aku bisa memahami tulisan serta ucapan di kota ini?” batin heran Riz disaat menganalisa ucapan serta tulisan bahasa Indonesia disekitarnya.


Riz menenangkan diri dan mengabaikan hal itu. Dia pun masuk kedalam penginapan.


“Selamat datang, Nenek Eva!” seru beberapa pelayan penginapan.


“Kalian berikan satu kamar untuk pemuda ini!” seru Nenek Eva yang menunjuk kearah Riz.


“Aku mengerti!” jawab beberapa pelayan sambil membungkukan badannya.


Seusai mengatakan itu, Nenek Eva menghampiri Riz.


“Nak Riz, sekarang kamu membersihkan badan lalu, kita makan malam bersama!” seru Nenek Eva.


“Iya, Nenek!” jawab Riz.


Riz pun tersadar bahwa waktu sudah sore dan matahari sudah akan terbenam.


Salah satu pelayan wanita menghampiri Riz.

__ADS_1


“Tuan Riz, mari saya antarkan!” ucap pelayan.


“Baik,” jawab Riz.


Lalu, Riz diantarkan oleh pelayan ke kamar yang ditunjukan oleh Nenek Eva. Lokasi kamar itu berada di lantai tiga.


Krekk!


Pelayan membuka pintu.


“Tuan, silahkan masuk!” seru pelayan.


“Iya,” jawab Riz sambil masuk ke kamarnya.


Setibanya didalam, Riz pun tersenyum melihat perabot-perabot yang berbahan kayu bergaya klasik eropa.


“Wow, perabot diabad pertengahan tidak begitu buruk,” gumam sendiri Riz.


“Iya, ada apa?” ucap pelayan yang mendengar gumaman dari Riz.


“Bukan, apa-apa? Terima kasih, ya … Siapa namamu?” ucap Riz.


“Saya Anna, Tuan,” ucap pelayan bernama Anna sambil membungkukan badannya.


“Jangan panggil aku Tuan, panggil Riz saja! Salam kenal ya, Anna!” ucap Riz.


“Iya, selamat beristirahat Tuan Riz! Saya akan mempersiapkan air mandi anda!” ucap Anna sambil menundukan kepala dan membalikan badannya lalu, dia pergi meninggalkan Riz.


“Ehh?! Masih saja memanggilku, Tuan!” ucap pelan Riz.


Setelah itu, Riz pun masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya ke kasur.


Buu!


“Wuaahh, Empuk juga kasur ini!” ucap Riz sambil berguling-guling di kasur.


Beberapa saat kemudian, seseorang pun mengetuk pintu kamar Riz.


Tok! Tok! Tok!


“Tuan Riz, airnya sudah siap!” suara Anna dari balik pintu.


Lalu, Riz pun bangun dari rebahannya dan pergi menuju kamar mandi. Lagi-lagi Riz tersenyum saat melihat sebuah kamar mandi kayu dengan bak yang besar serta air yang sudah di isi.


“Wuaaa … inikah kamar mandi abad pertengahan!” gumam senang Riz.


Seusai mengatakan itu, Riz mengunci pintu dan dia membuka seluruh pakaiannya. Saat itu Riz menyadari bahwa dirinya membawa sesuatu.


“Apa ini?” ucap Riz sambil mengambil barang yang ada di kantong celananya.


Lalu, didapatilah ponsel pintar serta dompet.


“Ternyata aku membawa barang ini!” ucap pelan Riz.


Riz pun memeriksa ponsel pintarnya dan mencoba menelepon namun gagal.


“Sudahku duga ini tidak bisa dipakai,” ucap Riz dan dia pun terkejut saat melihat wajahnya dilayar, “Eh? Ada apa ini?”


Riz pun menyadari keanehan yang terjadi kepadanya. Lalu, dia pun membuka aplikasi kamera selfie dan memotret dirinya sendir.


Cekrek!


Suara kamera yang berbunyi dan gambar Riz pun tertangkap yang membuat dirinya terkaget kembali.


“Wajahku seperti saat Sekolah Menengah Atas,” Riz pun menghela nafasnya, “Ahufuu … sungguh memusingkan!” ucap Riz.


Setelah Riz pun mengabaikan itu semua dan melanjutkan membasuh diri.


Byur! Byur! Byur!


Riz pun membasuh diri dengan ember kayu dan menjatuhkan air ke arah badannya.


“Iyaa … mandi seperti ini lebih segar dibandingkan aku harus berendam!” ucap Riz.


Riz yang terbiasa mandi dengan gayung atau shower maka itu, dia melakukan hal yang sama namun Riz mengunakan ember kayu.


Sesudah mandi, Riz pun keluar dan dia melihat Anna kembali yang sedang menunggu dirinya.

__ADS_1


“Anna, kamu menungguku disini!” ucap Riz.


“Iya, Tuan Riz. Saya diperintahkan untuk mengantarkan anda ke ruang makan keluarga untuk makan bersama dengan Nenek Eva dan Nona Agitta,” ucap Anna.


“Oh, begitu. Ya! Padahal kamu cukup beritahu aku saja tidak perlu menungguku!” ucap Riz yang merasa direpotkan oleh Anna.


“Tidak, Tuan Riz. Sudah kewajiban saya untuk menjalankan tugas! Mari ikut saya!” ucap Anna.


Setelah itu, Riz diantar oleh Anna ke ruang makan keluarga yang berada dilantai dua sedangkan dilantai pertama terdapat kedai makan yang kecil yang biasanya di isi oleh para pengunjung yang ingin sarapan atau makan malam.


Setibanya di ruang makan keluarga, Nenek Eva dan Agitta sudah menunggu di ruang makan dengan beberapa makanan yang sudah disiapkan.


“Riz, kamu lama sekali! Ayo kita makan!” seru Agitta yang sudah duduk.


“Nak Riz, Mari!” seru Nenek Eva.


“Iya,” jawab Riz.


Riz pun duduk di kursi yang kosong dan berada disamping Agitta.


“Maaf, jika makanan ini kurang berselera untuk nak Riz!” ucap Nenek Eva.


“Tidak sama sekali. Aku bersyukur Nenek Eva dan Agitta memberikanku tempat tinggal dan makanan!” jawab Riz.


Karena jawaban itu Nenek Eva, Agitta dan Riz pun saling bertukar senyum.


“Baiklah, ayo kita makan sebelum supnya dingin! Oiya, Nak Riz. Makanlah sup terlebih dahulu dan rasakan apakah enak?” seru Nenek Eva.


“Nenek! Apa yang nenek katakan?” ucap malu Agitta yang melihat nenek Eva.


Riz pun tersenyum saat melihat sikap dari Agitta tersebut.


“Iya, Nenek Eva,” jawab Riz dan dia pun mengambil sendok lalu, memakannya.


Disaat Riz memakan sup itu, matanya pun menjadi terbuka dan terasa kenikmatan didalam makanan yang di santapnya.


“Sup ini enak sekali!” puji Riz.


“Benar kan! Kamu tahu Nak Riz, sup ini adalah buatan dari Agitta dan terkenal enak!” ucap Nenek Eva.


“Wuahh … Nona Agitta pandai memasak!” puji Riz sambil melihat kearah Agitta.


“Tidak juga, Nenek saja terlalu berlebihan, Dasar!” ucap ngelak Agitta.


Nenek Eva pun tertawa kecil begitu pun Riz.


“Moo … hentikan tawa ledek kalian!” ucap kesal Agitta sambil membulatkan kedua pipinya.


“Iya. Ya … Nona Putri!” ucap ledek Nenek Eva yang menghentikan tawanya.


Riz pun juga sama dari tawa kecil menjadi senyuman lebar.


Seusai pembahasan itu, Nenek Eva pun mengajukan sesuatu kepada Riz.


“Nak Riz, apa kamu tidak ada rencana kedepannya?” tanya Nenek Eva.


“Masalah itu aku belum tahu. Yang jelas, aku ingin mencari informasi tentang diriku dan tempat yang aku tinggali,” jawab Riz.


“Begitu ya. Ini bagus!” ucap Nenek Eva.


“Apanya yang bagus, Nek?” tanya Agitta.


Nenek Eva pun tersenyum kepada Agitta lalu, dia mengajukan permintaan terhadap Riz.


“Nak Riz. Bagaimana kalau kamu tinggal saja dahulu disini sampai kamu memiliki tempat yang kamu tuju dan mengetahui identitas mu, Bagaimana?"


"Benar, nenek Eva juga sedang kekurangan karyawan," ucap santai Agitta.


"Agitta, jangan bersikap tidak sopan!" ucap Nenek Eva.


"Hehehe ..." tawa kecil Agitta.


Riz yang mendengar itu, dia pun juga tersenyum melihat sikap Agitta dan dia pun mengambil keputusan.


"Baiklah, Nenek Eva dan Nona Agitta. Mohon izinkan Aku tinggal di sini!" ucap Riz yang menunduk kepalanya.


"Dengan senang, nak Riz. Anggaplah rumah sendiri!" jawab Nenek Eva.

__ADS_1


"Selamat bergabung, Riz!" sambung Agitta.


Riz, nenek Eva dan Agitta pun saling bertukar senyum.


__ADS_2