"Kalau"

"Kalau"
Part 9 - Kekhawatiran


__ADS_3

Semenjak Livia mempunyai pacar, Livia jarang ada dikosannya. Kabar kembali beredar tentang Livia, kadang aku heran dengan banyak orang dikampus, kenapa selalu saja membicarakan tentang dirinya? Apa Livia sebegitu menarik perhatiannya, sampai banyak orang tahu informasi tentangnya? Aku yang sekosan dengannya saja tidak mengetahui apapun.


Dari yang kudengar, pacarnya itu membawa pengaruh buruk kepadanya, Livia menjadi sering pergi ketempat hiburan malam. Livia sering tidak masuk kuliah. Aku juga bisa menemuinya saat disepertiga malam, atau bahkan dipagi harinya, Livia saat pulang juga jalannya sempoyongan. Waktu itu, pukul 3 pagi saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, kulihat Livia yang kesusahan membuka pintu kamarnya dan kuberjalan kearahnya, kubantu membuka pintu kamarnya.


"Liv" ucapku


"Kamu mabuk lagi?" ucapku


Livia memegang kepalanya, setelah itu tangannya memukul dadaku, lalu berjalan melewatiku masuk kekamarnya itu.


Dikeesokan harinya. Livia berjalan masuk kekamarku, kemudian berjalan menuju kaca dekat lemariku dan merapikan rambutnya itu, setelahnya Livia menempelkan dagunya itu dipundakku. Aku tidak memperdulikannya. Aku terus saja bermain game. Livia mencium pipiku dengan lembutnya, kuhentikan jariku dijoystick saat itu juga, dan aku langsung menoleh kearahnya.


"Kamu masih mabuk ya?" ucapku


"Aku sadar gini" ucap Livia


Kutepuk pipinya itu cukup keras, "Sakit tau dipukul" ucap Livia, memegang pipinya


"Dibilangin aku sadar gak mabuk" ucap Livia


"Kirain" ucapku


"Kok aku gak percaya ya" ucapku


Kusentuh kedua pipinya itu, kemudian aku goyangkan kepalanya sampai pada akhirnya wajahnya terlihat kesal, dan tangannya itu melepas tanganku, sedangkan aku langsung memalingkan wajahku kearah langit - langit kamarku. Livia menyipitkan matanya. Dan, Livia mengambil bantal dikasurku, lalu memukulkannya tepat dikepalaku, setelahnya aku merasakan pusing dikepalaku.


"Duh kamu sih" ucap Livia


"Kamu sih gak percaya aku, maaf ya jadi pusing gitu" ucap Livia

__ADS_1


Livia memijat - mijat kepalaku, "Aku mukulnya kurang kuat, harusnya sampai pingsan gitulah. Nyesel aku kurang kuat mukulnya" ucap Livia,


tersenyum simpul


"Heran aku, cewek kayak kamu kenapa bisa banyak yang suka, kejam banget gini" ucapku


"Aku kalau jadi pacarmu ya gak bakalan ginilah. Bakalan aku sayang, kepalamu aku pijet - pijet, habis itu baru aku pukul" ucap Livia, tertawa bahagia


"Sama aja, tetep dipukul juga" ucapku


Kupegang tangannya itu, dan menjauhkannya dariku, "Udah. Pijetanmu malah bikin kepalaku tambah pusing" ucapku, kesal


"Kamu sakit, Liv? Tangan kamu panas" ucapku


"Panas sedikit" ucap Livia


Kusentuh dahinya dengan punggung tanganku. Aku langsung pegang pergelangan tangannya itu, dan kuajak kekamarnya, kuperhatikan wajahnya itu sedikit pucat. Livia sakit. Livia duduk dipinggir kasurnya. Kusentuh lagi dahinya untuk meyakinkanku. Livia malah tersenyum simpul.


"Kamu sakit gini. Udah makan belum?" ucapku


Livia menggelengkan kepalanya pelan,


Aku mengambil mangkuk yang ada dimeja belajarnya itu, kemudian aku menyuapkan kepadanya dengan perlahan, "Kamu duduk aja ya, susah aku nyuapinnya kalau kamu tiduran" ucapku


"Maaf ya aku ngerepotin kamu" ucap Livia


"Gaklah. Udah sekarang habisin bubur ini dulu, apasih orang aku gak ngerasa direpotin" ucapku, tersenyum simpul


"Ambilin teh" ucap Livia

__ADS_1


"Bentar" ucapku


Setelah menyelimutinya, saat aku ingin pergi meninggalkannya, tangannya itu memegang tanganku dan akhirnya kutemani Livia dengan duduk dipinggir kasurnya, kutemani sampai tertidur. Aku beranjak dari tempatku, lalu mengambil mangkuk dan gelasnya itu, setelahnya aku mengembalikkannya didapur, dan kubersiap berangkat kuliah. Aku kunci pintu kamarku. Aku menutup gerbang kosan dengan ragu - ragu, karena meninggalkan Livia yang sakit dikamarnya itu, mau bagaimana lagi. Aku harus pergi kuliah.


Disepanjang perkuliahan, aku terus memikirkannya. Dan, saat perkuliahan selesai, aku langsung bergegas pulang, aku takut Livia disana terjadi apa - apa, sampainya dikamarnya kulihat Livia yang sedang duduk menonton film dihandphonenya itu. Livia melambaikan tangannya kepadaku. Syukurlah. Aku duduk dikursi meja belajar, sembari mengatur nafasku yang tidak beraturan, sedangkan Livia saat itu menatapku dengan heran.


"Kamu kenapa?" ucap Livia


Aku masih mengatur nafasku, "Gakpapa. Tadi aku diajak kumpul sama temenku, terus aku kabur" ucapku, tersenyum simpul


"Kamu khawatirin aku ya, makanya langsung pulang?" ucap Livia


"Ngapain aku khawatirin orang yang udah mukul kepalaku pakai bantal coba" ucapku


"Masih diinget aja, aku belum dimaafin nih" ucap Livia


"Udah. Cuman masih keinget" ucapku


Livia menunjukkan film dihandphonenya itu kepadaku, "Aku bosen tidur terus, yaudah nonton film aja, sekali nunggu kamu pulang" ucap Livia


"Ngapain kamu nungguin aku pulang?" ucapku


"Kangen" ucap Livia, tertawa kecil


"Kirain biar bisa disuruh - suruh gitu. Gak percaya aku, kalau kamu kangen" ucapku


"Susah banget sih buat kamu percaya" ucap Livia


"Yaudah aku percaya" ucapku

__ADS_1


"Gitu dong" ucap Livia


__ADS_2