"Kalau"

"Kalau"
Part 28 - Kehidupan Tidak Berhenti Disana


__ADS_3

Disuatu hari liburku.


Aku datang ke Bandung untuk menemui Arlin, sebelum kerumahnya aku menyempatkan datang kecafe, dan tidak sengaja ternyata aku melihat Arlin dikejauhan sedang berpelukan dengan seorang laki - laki. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki - laki itu. Dan, beberapa detik setelahnya.


Kutahu itu Sandi.


Saat itu, aku memilih berjalan kembali ke mobilku dan menuju kerumah Arlin, tidak jauh dari rumahnya itu aku terdiam dimobil dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya, aku menelpon Arlin. Kukabari Arlin kalau aku sedang dalam perjalanan menuju kerumahnya.


"Kamu ada dirumah gak?" ucapku


Kutatap lurus kedepan, dan bertingkah seakan tidak apapun yang terjadi, "Setengah jam lagi kayaknya aku sampai dirumahmu" ucapku, tersenyum tipis


"Ini aku mau pulang. Tadi keluar bentar" ucap Arlin


"Yaudah aku tutup" ucapku


"Iya" ucap Arlin


Tidak jauh dari rumahnya, kulihat Arlin melintas dengan motornya itu dan barulah aku menghidupkan mesin mobilku, lalu mendekat kerumahnya itu. Aku membunyikan klaksonku. Arlin membuka gerbang rumahnya dan kuparkirkan mobil, kemudian aku berjalan masuk kerumahnya, rasanya tidak ada siapapun. Beberapa waktu setelah aku duduk diruang tamunya, Arlin datang membawakanku sirup, serta roti yang dibuatnya sendiri.


Arlin memang suka membuat berbagai makanan, termasuk juga roti. Kumakan satu rotinya itu.


"Kamu tadi dari mana?" ucapku


Arlin langsung menoleh kearahku dan menatapku lekat, "Ada urusan bentar tadi dikantor. Pas udah selesai, terus aku langsung pulang. Biar bisa ketemu sama kamu" ucap Arlin, tersenyum manis


"Kebetulan kamu nelpon" ucap Arlin

__ADS_1


"Aku juga tadinya ada kerjaan gitu, mau ketemu klien. Masa udah di Bandung gak ketemu kamu, yaudah aku mampir kerumahmu aja sebentar" ucapku


"Untung aku langsung cepet pulang" ucap Arlin


"Bisa kebetulan gitu" ucapku


"Iya" ucap Arlin


Aku hanya mampir sebentar saja, sebelum aku membuka pintu mobilku. Tiba - tiba Arlin memelukku erat dan kubeli rambutnya itu, kemudian saat aku sudah berada dimobilku, kulihat Arlin melambaikan tangannya padaku. Setelah itu aku bergegas pulang. Aku masih tidak tahu harus bagaimana. Diperjalanan pulang aku terus membuyarkan lamunanku, karena aku sedang berkendara pasti akan berbahaya, kalau aku terus memikirkan itu.


Sesampainya diapartemen, aku tidak langsung kekamarku tapi berjalan menuju rooftop, disana aku bisa melihat indahnya kota Jakarta yang dipenuhi banyak gedung tinggi, serta banyak lampu yang berwarna - warni. Aku terus melamun saja dirooftop. Tempat yang bisa membuatku tenang, dibandingkan dibalkon kamarku itu. Kupikir seperti itu.


"Ndre" ucap Tania


"Kamu ngapain disini?" ucap Tania


"Aku yang nanya malah dapet pertanyaan balik. Aku juga sering kesini" ucap Tania


"Berarti kita diwaktu yang gak tepat terus, makanya kayak gak pernah ketemu" ucap Tania, tertawa kecil


"Bingung aku jawabnya. Bagus aja disini pemandangannya" ucapku


"Iya emang sih, bagus" ucap Tania


Tania itu kamarnya bersebelahan denganku. Biasanya aku bertemu dengannya saat dipagi hari, kita sama - sama berangkat kerja, selebihnya pada saat - saat tertentu saja, seperti saat pulang kerja, ataupun saat Tania ingin pergi keluar. Intinya aku jarang bertemu dengannya. Misalkan bertemu juga, kita hanya sekedar saling menyapa, atau mengobrol kecil. Tidak pernah aku ditempatkan dalam suatu keadaan dimana aku bisa menghabiskan waktu mengenalnya lebih dekat.


"Mikirin cewekmu pasti" ucap Tania

__ADS_1


"Bentar. Cewekmu tuh yang mana sih, ada dua lho. Iya, kan?" ucap Tania


Aku menyipitkan kedua mataku, kemudian mengangkat telunjukku saat itu juga, "Satu. Yang terakhir kali kamu lihat itu temenku" ucapku


"Temen masa masuk kamar gitu" ucap Tania


"Gak percaya aku" ucap Tania


"Gak percaya yaudah. Tania kamu cantik gitu, tapi kok selama ini aku gak pernah lihat kamu sama cowok ya" ucapku


"Kenapa nanya - nanya? Kamu suka sama aku?" ucap Tania, menatapku tajam


Lenganku langaung dipukul olehnya dengan cukup keras, "Udah punya dua cewek juga masih mau nambah. Dasar cowok" ucap Tania


"Dibilangin cewekku cuman satu. Itu aja lagi ada masalah" ucapku


"Tuh bener kan, emang ada masalah" ucap Tania


"Iya, bener" ucapku


Malam yang dingin, benar.


Kita berjalan menuruni tangga bersama, kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamar masing - masing, tubuhku masih saja terasa dingin. Kurebahkan tubuhku dikasur. Tanganku kujadikan sebagai alas bantal, kemudian aku terus melihat langit - langit kamarku.


Semuanya berubah menjadi rumit. Kalau saja dulu aku menyatakan perasaanku, mungkin tidak akan begini.


Aku harus bagaimana sekarang?

__ADS_1


Bingung


__ADS_2