
Livia menghilang selama seminggu, semua itu karena ibu dan neneknya meninggal ditabrak saat perjalanan pulang, kedua orang yang sangat dicintai olehnya. Sekembalinya dari masa berdukanya itu, semakin hari Livia bertambah parah dan tiap malamnya sering pergi ketempat hiburan malam, kuliahnya juga pastinya berantakan, seringkali tidak masuk kuliah. Seburuk apapun Livia seperti yang banyak orang bilang. Bagiku, Livia tidak berubah. Livia sering datang kekamarku, walaupun tidak melakukan apapun, terkadang Livia juga bercerita, tidak ada yang berubah darinya.
Disuatu hari. Saat aku berada ruang kelasku, ada seorang perempuan cantik yang berdiri didepan pintu, padahal diruang kelas itu hanya ada aku. Semua orang sudah pergi. Aku berjalan menghampiri perempuan itu. Aku melihat lingkungan sekitarku yang tidak ada satupun orang.
"Hai" ucapku
"Kamu nyari siapa? Udah gak ada orang lho" ucapku, kebingungan
Perempuan itu menatapku dengan begitu lekatnya, "Aku gak lagi nyari siapa - siapa, Kak. Orangnya udah disini" ucapnya, tersenyum manis
Aku melihat kebelakang dan tidak ada orang, "Siapa?"
"Kakak, siapa lagi" ucapnya
"Aku" ucapku, menunjuk diriku sendiri
Perempuan itu mengangguk pelan, kemudian mengulurkan tangannya padaku, "Kenalin, Kak. Namaku, Arlin" ucapnya, tersenyum simpul
"Andre" ucapku
"Aku sering lihat kakak dicafe. Ternyata satu kampus" ucap Arlin
"Kamu ngapain pengen ketemu aku? Kirain kamu lagi nunggu siapa gitu" ucapku
"Pengen kenal Kakak lebih deket" ucap Arlin
__ADS_1
"Ini kita udah deket" ucapku
Arlin menatapku lekat.
Seiring berjalan waktu, aku dan Arlin mulai dekat, hubungan yang bukan lagi hanya sekedar teman, setelah sering bercerita dengannya ternyata aku baru tahu, kalau Arlin mulai menyukaiku saat hari dimana aku pertama kalinya sebagai vokalis pada malam itu. Saat dimana, aku melihat juga Livia dan pacarnya itu. Aku tidak pernah menceritakan apapun tentang Livia pada Arlin, aku hanya sekedar memberitahu kalau tepat didepan kamarku itu, Livia. Sudah itu saja.
Arlin memang tidak pernah mengatakan padaku juga, tapi saat Arlin bertemu dengan Livia, rasanya ditatapan matanya itu ingin aku tidak dekat - dekat dengan Livia, semua itu terpancar dimatanya. Hari demi hari berlalu. Akhirnya, aku berpacaran dengan Arlin, dan semenjak itu, Arlin sering datang kekosanku, hari itu Livia langsung saja membuka pintu kamarku, lalu berjalan masuk kekamarku tanpa melihat ada Arlin sedang duduk dipinggir kasurku.
"Hai, Arlin" ucap Livia
Arlin hanya tersenyum simpul.
Livia memegang pundakku, lalu menatapku lekat, "Aku pinjem laptopmu ya, laptopku gak tau tuh lagi bermasalah" ucap Livia
"Ambil aja sana, gak usah lama - lama" ucapku
"Cuman bentar" ucap Livia
"Iya" ucapku
Bukan hanya Arlin yang merasa, kalau aku dekat sekali dengan Livia, bahkan penghuni kosan lainnya malah menganggapku dan Livia berpacaran, karena terlalu dekatnya sampai tidak mungkin hanya sekedar teman. Saat Livia mengembalikkan laptopku, Arlin memalingkan wajahnya. Arlin mengajakku dibalkon. Livia berjalan pergi, setelah mengerjakan tugas dengan cepat itu, seperti biasanya Livia pasti akan langsung pergi ketempat hiburan malam entah dengan siapa yang menjemputnya, terlalu banyak sampai aku tidak bisa menghafalnya.
"Aku kayak gak suka gitu lihat kamu deket sama Livia" ucap Arlin
Arlin menoleh kearahku seakan meminta penjelasan dariku, "Tapi, gak ada hubungan apa - apa kan kamu sama Livia? Cuman temen kan ya?" ucap Arlin, tersenyum penuh artian
__ADS_1
"Iya cuman temen" ucapku
"Yaudah" ucap Arlin
Arlin tidak kalah cantik dengan Livia, hanya saja entah mengapa bagiku tetap saja lebih menarik Livia dibandingkan dengannya, walaupun begitu Arlin lebih tenang dan lembut. Kulihat jam dihandphoneku. Aku tidak bisa membiarkan Arlin pulang sendiri kekosannya itu, akhirnya kupinjam motor penghuni kosan dilantai bawah dan kuantarkan Arlin pulang sampai digerbang kosannya itu. Arlin tidak bergegas masuk kekosannya itu. Arlin terus berdiri diam didepan gerbang kosannya.
Sampai pada akhirnya, Arlin melambaikan tangannya lalu masuk kekosannya, sedangkan aku langsung pulang setelahnya dan ditengah perjalanan, handphoneku berdering terus menerus. Kuarahkan motorku kepinggir jalan. Saat aku ingin menerima panggilannya itu, malah menjadi panggilan tidak terjawab dan beberapa waktu setelahnya aku menerima panggilan darinya lagi. Aku langsung menerimanya.
"Ndre, jemput aku" ucap Livia, lirih
"Emang kamu dimana? Aku jemput sekarang nih" ucapku
"Liv, kamu dimana?" ucapku
Kuterima lokasinya berada itu dihandphoneku dan kuhidupkan motorku, "Tunggu ya, ini aku mau kesana" ucapku, khawatir
"Iya" ucap Livia, lirih
Sampainya disana, kulihat Livia yang terduduk ditrotoar tidak jauh dari tempat hiburan malam itu, dan kubantu Livia berjalan naik kemotor, disepanjang perjalanan tangannya itu memelukku dengan eratnya, rasanya Livia menangis pelan dipunggungku itu. Sampai dengan dikamarnya, Livia terus menangis dan kucoba menenangkannya, Livia memeluk kembali dengan eratnya, lalu kubiarkan air matanya itu mengalir deras dilenganku itu, aku tidak tahu berapa lama Livia memelukku. Aku hanya bisa membelai rambutnya itu. Karena terlalu lelahnya terus menangis, pada akhirnya Livia tertidur dan seperti biasanya aku menyelimutinya, serta menutup pintu kamarnya itu dengan rapat.
Kuhidupkan laptopku. Aku harus menyelesaikan tugasku yang kurang sedikit lagi, tapi sepanjang waktu itu aku malah terus memikirkan Livia, lenganku juga belum mengering. Setelah tugasku selesai. Aku menghela nafasku, dan inginku segera tidur walaupun begitu aku tidak bisa, padahal aku sudah mengantuk sekali. Semua yang dihadapi oleh Livia itu sangat berat, aku tidak bisa membayangkan diriku yang harus menerima kenyataan orangtuaku bercerai sejak kecil, setelah dua orang yang sangat dicintainya itu meninggalkanku. Mungkin saja aku juga akan sama sepertinya.
Livia sedang berada dititik terendah dalam hidupnya.
Aku hanya bisa terus berada disampingnya, menemaninya. Selain itu, aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.
__ADS_1
Maafkan.