
Semakin bertambahnya semester. Aku akhirnya memilih untuk keluar dari bandku, walaupun begitu sesekali aku diminta menjadi tamu dibandku itu, dan pertemuan dengan Arlin juga tidak dicafe itu lagi. Livia mulai sedikit serius dalam mengerjakan tugas - tugas kuliahnya, tadinya hanya yang penting mengerjakan saja, setelah itu pergi ketempat hiburan malam, sekarang Livia sedikit mengalami perubahan yang lebih baik. Hidupku terasa baik - baik saja. Hal yang tidak berubah dari Livia, kupikir itu kebiasaannya yang sering masuk kekamarku, hanya beberapa kali saja Livia mengetuk pintu kamarku. Sisanya Livia membuka pintu kamarku dengan tanpa bersalahnya.
Livia duduk bersandar didinding atas kamarku, kemudian membaca novelnya itu dengan tenang, aku dilempar bantal olehnya karena terlalu berisik saat bermain game dilaptopku. Aku berjalan keluar kamarku, lalu pergi dari kosan untuk membeli makanan. Sekembalinya, aku melihat penghuni dilantai bawah yang sedang duduk diteras kosan, kutaruh sandalku dirak, lalu berjalan kearah penghuni itu. Namanya itu Nadira. Aku berkenal dengannya dihari kedua aku dikosan, setelah itu aku jarang bertemu dengannya, karena Nadira sibuk diorganisasi mahasiswa.
"Aku gak dibeliin" ucap Nadira
Aku berjalan mendekat kearahnya, "Kamu tuh ya sama Livia deket banget udah kayak pacaran, terus yang sering dateng kesini itu siapa, Ndre?" ucap Nadira, tersenyum simpul
"Arlin, pacarku" ucapku
"Gak cemburu tuh Arlin sama Livia? Kalau aku jadi Arlin, udah aku suruh pindah kosan. Aku saranin gitu kali ya kalau pas ketemu Arlin" ucap Nadira
Aku memegang dadaku, kemudian menggelengkan kepalaku itu pelan, "Mending aku putus sama pacarku aja daripada pindah kosan" ucapku, tertawa lepas
"Sekalian aja bilangin kalau kamu selingkuhanku, Nad" ucapku
"Gak gitu juga dong, Ndre" ucap Nadira
"Udah sana keatas. Ada yang nunggu pasti" ucap Nadira, tersenyum simpul
"Yaudah. Padahal aku pengen ngobrol lebih lama sama kamu" ucapku
"Alah bohong banget" ucap Nadira
"Cepet pergi sana" ucap Nadira
__ADS_1
"Iya. Ini" ucapku
Kuletakkan martabak yang kubeli diatas meja belajarku. Kumainkan plastik itu agar terus berbunyi, sampai pada akhirnya menarik perhatian Livia dan aaat itu juga, Livia langsung beranjak dari kasur menghampiriku. Kubuka kotak martabak itu lalu berjalan menjauh darinya. Terlihat wajahnya yang sedikit kesal itu, kubawa martabak itu kebalkon dan Livia masih berjalan mengikutiku, sampai pada akhirnya kita makan martabak dibalkon.
Aku dan Livia sama - sama menyukai martabak cokelat keju.
Aku selalu bersyukur bisa menempati kosan yang ada balkonnya, karena aku bisa melihat pemandangan yang indah disetiap waktunya, terlebih bisa mempunyai teman depan kamarku yang cantik seperti dirinya. Hidupku yang penuh dengan keberuntungan. Selama berpacaran dengan Arlin, aku juga tidak pernah mempunyai masalah yang besar dengannya, walaupun perdebatan kecil sering terjadi itu tidak apa - apa, karena memang itu tidak bisa dihilangkan.
"Ndre" ucap Livia
"Tadi aku denger kamu kayak ngobrol gitu dibawah? Sama siapa itu?" ucap Livia, mengambil sepotong martabak
"Aku ngobrol sama Nadira. Kamu pasti gak kenal sama dia, orang kamu pergi terus gak tau kemana. Hiburan terus" ucapku, tersenyum simpul
Livia menatapku lekat
"Aku pernah. Beberapa kali, disana aku cuman ngobrol aja, minumnya juga air mineral" ucapku
Livia menalingkan wajahnya, lalu menutup mulutnya itu, "Udah pergi ketempat gitu harusnya ya minum atau gak ngapain gitu gimana sih. Disana banyak cewek cantik lho kamu gak kenalan gitu?" ucap Livia
"Ngapain? Orang aku udah kenal satu. Ceweknya didepanku sekarang" ucapku
"Aku gak bisa ngomong apa - apa lagi" ucap Livia
"Martabaknya habisin" ucapku
__ADS_1
"Iya" ucap Livia
Aku tidak pernah bosannya saat melihat pemandangan dibalkon. Entah itu pagi, siang ataupun malam. Bagiku semuanya itu sama, indah. Pemandangan yang tidak aku lihat saat berada dikota asalku. Tersisa satu potongan martabak, kemudian aku dan Livia saling bertatapan, kemudian kita membaginya menjadi dua bagian, setelah itu Livia sengaja merentangkan tangannya diwajahku.
"Rentangin boleh, tapi tangannya gak usah sampai wajahku juga" ucapku
Livia tidak peduli itu dan justru semakin merentangkan tangannya itu, "Liv, kamu pernah tau diberita orang bunuh temen depan kamarnya gak? Kalau belum mau aku bikin beritanya sekarang nih" ucapku, tersenyum simpul
"Belum pernah denger. Emang bunuhnya gimana?" ucap Livia
"Bunuhnya dipanah cinta" ucapku
Kurentangkan tanganku juga sampai kewajahnya itu, "Kesel aku lama - lama digituin" ucapku, tertawa kecil
"Udah ah capek" ucap Livia
"Kamu lupa? Orang kamu yang mulai duluan" ucapku
"Aku ngelawan karena gak mau kena panah cinta itu gimana sih" ucap Livina, tersenyum simpul
Livia berjalan pergi meninggalkanku, "Buang itu sampahnya" ucap Livia
"Tidur udah malem" ucap Livia
"Dialogku diambil. Harusnya aku yang ngomong gitu balikin" ucapku
__ADS_1
"Seneng aku buat ngelihat kamu kesel" ucap Livia
"Akunya yang gak seneng" ucapku