
Hari ini melelahkan.
Setelah pulang dari perkuliahan, aku harus pergi kecafe.
Sepulang dari cafe, aku berjalan menaiki tangga kosanku sembari membawa gitar dipunggungku, kukeluarkan gitarku dari tasnya dan kusetem semua senarnya, kulihat pintu kamar Livia terbuka. Aku berjalan kekamarnya itu dengan membawa gitar. Dikamarnya itu aku tidak melihat Livia. Dikamar mandi juga tidak ada orang. Entahlah Livia berada dimana.
Saat aku ingin kembali kekamarku, kusadari pintu balkon terbuka. Disana aku melihat Livia yang sedang duduk didinding pembatas balkon, tangannya itu direntangkan. Akupun langsung berjalan kesana dengan membawa gitarku. Tingkah lakunya itu sangat mencurigakan.
"Liv" ucapku
"Ngapain kamu disana? Mau bunuh diri ya, masa disini gak ditempat yang lebih bagus gitu lainnya" ucapku, khawatir
Livia hanya menoleh saja kearahku,
Aku berjalan mendekat kearahnya, kemudian Livia mengernyitkan dahinya itu, "Apasih orang aku disini lagi pengen nenangin pikiran. Kamu dateng - dateng main nuduh aja" ucap Livia, menggelengkan kepalanya itu
"Siapa tau nanti muncul pikiran gitu sekilas" ucapku
"Sini deh duduk" ucap Livia
Aku duduk disampingnya. Aku sedikit takut saat melihat kearah bawah, terlebih saat melihat kakiku yang menggantung, "Kamu dari kapan duduk disini?" ucapku, menoleh kearahnya
"Pokoknya udah lama, udah setengah jam kayaknya" ucap Livia
Livia melihat gitarku yang kusandarkan didinding pembatas balkon, "Kamu mau hibur aku gak? Lagi banyak pikiran nih aku sekarang" ucap Livia, tersenyum manis
"Main gitar sana" ucap Livia
Kuambil gitarku setelah itu kita bernyanyi bersama. Sekitar dua jam kita disana, setelah itu kita kembali kekamar masing - masing dan dikeesokan harinya, Livia masuk kekamarku tapi seharian itu terlihat begitu pendiam. Sesekali saat bermain game, aku melihat kearahnya dan kulihat Livia sedang menatap kosong. Kuselesaikan gameku, lalu kututup laptopku, setelah itu aku membuka jendelaku sedikit, agar udara luar bisa lebih masuk kedalam kamarku.
Dan, Livia masih tidak bergeming, walaupun begitu aku tidak ingin sedikitpun mengganggunya. Padahal aku sangat ingin menanyakannya, tapi kurungkan niatku itu. Kalau sampai sore, Livia masih saja begitu, aku akan benar - benar menanyakan apa yang dipikirkannya itu.
Livia menoleh kearahku dan terus menatapku. Tatapannya itu membuatku bertanya - tanya, semua itu terlihat jelas dimatanya dan saat itu, aku hanya bisa tersenyum tipis, karena tidak tahu harus bagaimana saat ditatap olehnya terus menerus. Setelah itu, Livia menatap lurus kedepan, kemudian tersenyum penuh artian sampai aku kembali lagi dibuat bingung oleh tingkahnya itu, sampai pada akhirnya Livia menepuk pahaku dengan pelan.
__ADS_1
"Aku mau berubah jadi lebih baik" ucap Livia
Aku menatapnya lekat, dan begitupun dengan Livia, "Yaudah. Bagus" ucapku, tersenyum simpul
"Masa cuman gitu sih reaksinya? Gak dukung atau bantu gitu apa?" ucap Livia
"Dukung gak harus ditunjukkin juga" ucapku
"Aku dukung kok" ucapku
Livia memalingkan wajahnya itu, "Sedikit demi sedikit aku mau berubah" ucap Livia, tersenyum manis
"Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin" ucap Livia
"Terlalu beratlah. Mending diganti jadi hari ini harus ada yang lebih baik daripada hari kemarin. Nah gitu kan gak berat banget. Kalau yang kamu tadi kan semuanya, kalau yang aku tadi cuman harus ada aja gak semuanya" ucapku
"Yaudah aku pakai yang punya kamu" ucap Livia
"Jangan dong. Nanti aku pakai apa, kalau dipakai sama kamu?" ucapku
"Kayak beneran mau berubah aja kamu" ucapku
Livia langsung mengarahkan wajahku menatapnya dengan kedua tangannya itu,
"Lihatin. Aku lagi bercanda gak sekarang?" ucap Livia, menatapku tajam
"Iya percaya aku" ucapku
"Sekarang lepasin tangannya" ucapku
"Proses" ucap Livia
Perlahan Livia melepaskan tangannya diwajahku itu, setelah itu kulihat Livia sedikit tersenyum, sedangkan aku beranjak dari tempatku dan saat itu juga tanganku dipegang olehnya, kemudian kulepaskan tangannya. Livia memegang lagi tanganku. Kulepas lagi tangannya, sampai pada akhirnya kita tertawa dengan semua itu, Livia tidak tahu kalau aku sedang ingin kekamar mandi. Lagipula apa lagi yang ingin dijelaskannya. Mendengarkan keinginannya untuk berubah itu sudah menjelaskan semua pertanyaanku, apalagi yang harus kudengarkan darinya? Aku pasti akan mendukungnya selama itu bisa membuat hidupnya itu lebih baik.
__ADS_1
"Liv" ucapku
"Ngapain sih, apalagi? Aku mau kekamar mandi nih" ucapku
"Dukung aku" ucap Livia
Aku yang tidak ingin menunda - nunda, akhirnya menganggukkan kepalaku pelan, "Udah ya. Seharian diem, sekalinya ngomong pengen berubah" ucapku, berjalan pergi melewatinya
"Susah tau bulatin tekad gitu" ucap Livia
"Beneran" ucap Livia
"Iya tau" ucapku
Kupikir Livia bercanda. Tapi, semenjak hari itu, Livia mulai mengurangi datang ketempat hiburan malam, dan juga menjauhi teman - teman yang membawa pengaruh buruk padanya, semua itu artinya Livia itu memang benar - benar ingin berubah dengan perlahan. Tidak ada kata terlambat dalam kehidupan. Tidak ada waktu yang tepat dalam kehidupan, mulailah apapun dari sekarang karena kalau menunggu waktu yang tepat, artinya itu akan berlangsung seumur hidup. Walaupun Livia mulai perlahan berubah, kabar yang beredar itu tetap memberitakan hal yang buruk tentang dirinya. Livia tidak peduli semua itu.
"Ndre" ucap Livia
"Aku gak peduli apa kata orang. Yang aku peduli itu kata - kata orang kayak kamu gitu yang emang bener - bener kenal aku banget" ucap Livia
Livia menghela nafasnya panjang, "Mereka cuman tau aku dan namaku, tapi mereka gak sedikitpun tau tentang hidupku" ucap Livia, tersenyum simpul
"Ndre, kamu dengerin gak sih? Aku lagi serius ini" ucap Livia, kesal
Aku sempat tertidur,
"Kamu malah tidur" ucap Livia
"Ketiduran. Sekarang udah jam berapa coba? Jam setengah tiga. Pindah kekamarmu sana" ucapku, mengantuk
"Aku tidur disini aja ya. Aku males jalan" ucap Livia
"Udah diem ya aku mau tidur" ucapku
__ADS_1
"Ngeselin" ucap Livia
"Berisik" ucapku