"Kalau"

"Kalau"
Part 12 - Sedihnya


__ADS_3

Pacar Livia itu sering menginap. Lampu kamarnya selalu dimatikan. Entahlah apa yang mereka lakukan dikamarnya.


Dan, semenjak pacarnya itu berpapasan denganku dikosan, pacarnya itu tidak lagi datang sekalipun dicafe yang dimana aku sering tampil disana.


Dua bulan setelahnya, mereka putus dan semua itu kutahu dari temanku yang selalu mengikuti kabar yang beredar dikampus, padahal aku sendiri yang berada tepat didepan kamarnya tidak mengetahui apa - apa tentangnya. Jujur.


Aku memang tidak pernah menanyakan apapun tentang hidupnya, hanya beberapa tentang hidupnya yang kutahu seperti orangtuanya yang bercerai, kemudian ayah dan ibunya masing - masing menikah lagi, kedua orangtuanya itu mempunyai keluarganya sendiri - sendiri, sedangkan Livia tidak jelas seperti itu.


Sepulang dari cafe, diteras kosan aku melihat Livia yang duduk menangis, kemudian aku langsung datang menghampirinya, melihatnya menangis seperti itu aku juga ikut merasakan sedihnya. Livia menangis tanpa bersuara sedikitpun, tapi air matanya itu terus mengalir dipipinya itu.


"Liv" ucapku


Aku berjongkok didepannya, lalu memegang kedua tangannya itu, "Dikamar aja yuk, disini nanti dilihatin orang" ucapku, memohon


Akhirnya, Livia mengiyakan permintaanku itu. Dikamarku.


Livia duduk bersandar didinding atas kamarku, kemudian kembali menangis dengan memeluk lututnya itu, dan aku tidak tahu harus bagaimana, aku duduk disampingnya dengan tidak melakukan apapun. Ditengah tangisannya itu, Livia menyandarkan kepalanya dipundakku, bajuku itu basah terkena air matanya.


"Udah ya, Liv" ucapku


Livia berhenti menangis dan mengusap air matanya itu,


Aku menoleh kearahnya, lalu menatapnya dengan lekat, "Kamu yang nangis, kenapa malah aku yang sedih ya?" ucapku, tersenyum simpul


"Kamu gak nanya kenapa aku nangis?" ucap Livia


"Ngapain aku tanya coba, kalau kamu nangis ya artinya kamu sedih" ucapku

__ADS_1


Livia sedikit tersenyum, "Ndre, kalau kamu punya pacar, terus pacarmu lagi nangis kayak aku sekarang. Apa yang kamu lakuin?" ucap Livia, mengusap air matanya kembali


Aku langsung mencubit pipinya itu, "Aku bakal gini. Kamu ngapain nangis, gak usah nangis gitu nyusahin aku yang harus hibur kamu" ucapku, kesal


"Percuma kamu cantik, kalau kamu nangis terus, cantiknya nanti luntur" ucapku


Hening. Sejenak.


"Yang ada pacarmu malah tambah sedih" ucap Livia, tertawa kecil


"Yaudah kalau gitu yang bisa aku lakuin cuman duduk disampingnya, kalau aku gak bisa ngebuat dia tersenyum, setidaknya aku gak ngebuat dia nangis" ucapku


"Aku pengen mukul orang" ucap Livia


Livia memukul lenganku dengan kerasnya saat itu juga, "Liv, kamu punya masalah apa sama aku? Sakit banget ini. Kamu yang punya masalah, kenapa aku yang dipukul coba?" ucapku, menahan sakit dilenganku


"Sekarang aku lega" ucap Livia, tersenyum simpul


Livia tertidur dikamarku. Seperti biasanya kubenarkan posisi bantalnya itu, kemudian aku mengambil selimut dilemariku, lalu menyelimutinya saat itu juga. Harusnya dengan wajah cantik seperti itu, Livia harusnya terus menunjukkan senyuman padaku, bukan malah kesedihan yang selalu ditunjukkannya padaku. Aku berjalan keluar kamarku. Saat kembali kekamarku, aku melihat Livia duduk dikasurku itu dengan tubuhnya yang diselimuti, kemudian aku berjalan keluar kamarku lagi dan didapur, kubuat cokelat panas kesukaannya itu yang memang ada didapur. Aku tinggal menyeduhnya.


Kuletakkan cokelat panasnya itu dimeja belajarku.


"Cokelatnya tuh diminum" ucapku


Kuhidupkan laptopku untuk bermain game. Livia berjalan keluar kamarku, lalu menarik kursi yang ada didepan kamarku, aku beranjak dari tempatku lalu membantunya, kursi itu berat. Livia hanya bisa memindahkannya sampai dengan dipintu kamarku. Cokelat panasnya itu akhirnya diminum olehnya. Aku mengatur menjadi dua pemain, setelah itu kuberikan joystick kepadanya, dan Livia langsung mengambilnya, tidak seperti tadi. Saat memegang joystik itu raut wajahnya sedikit lebih baik. Bibirnya itu tersenyum simpul.


"Aku kalah terus digamenya gitu" ucap Livia

__ADS_1


"Kamu sabar banget ya, padahal selama ini aku jadi beban" ucap Livia


Aku menoleh kearahnya sebentar, lalu melanjutkan gameku kembali, "Lah nyadar juga" ucapku, tersenyum tipis


Livia menatapku tajam,


Aku menyadari tatapan matanya itu, "Gakpapa, yang penting kamu udah berusaha, lagian aku masih bisa nanganin" ucapku, tersenyum simpul


"Kamu mau gak?" ucap Livia


"Apa?" ucapku


Livia mendekatkan cokelat panasnya itu padaku, "Nih" ucap Livia


Kuminum sedikit cokelat panasnya itu, "Aku ngasih airnya kebanyakan gak? Kayaknya udah pas sih" ucapku


"Gak kok, pas" ucap Livia


Dan, begitulah. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, kusadari sudah tengah malam dan kumatikan laptopku. Livia masih saja duduk tenang disampingku.


"Udah malem, tidur sana dikamarmu" ucapku


"Anterin" ucap Livia


"Orang deket juga ngapain dianterin sih, cuman jalan bentar" ucapku


Livia menatapku lekat,

__ADS_1


"Iya" ucapku


Sedikit kesal juga, kenapa juga aku harus mengantarnya, padahal kamarnya itu tepat didepan kamarku? Sampai dikamarnya, Livia mematikan lampu kamarnya itu dan kulihat bulan serta bintang yang kupasang dilangit - langit kamarnya itu menyala, indah sekali. Bukan hanya itu, lampu yang berwarna jingga itu juga menambah keindahan kamarnya itu. Kututup pintu kamarnya saat Livia tidur dikasurnya. Akupun langsung berjalan menuju kamarku. Aku mengantuk juga


__ADS_2