"Kalau"

"Kalau"
Part 22 - Pembuktian


__ADS_3

Aku dan Arlin menghadiri pertunangan Livia. Tidak pernah aku melihat Livia sebahagia itu, kuberjalan kearah Livia yang sedang duduk didepan kaca dengan wajahnya yang sudah dirias, Livia melihatku dari kacanya itu. Aku memberikan sebuket bunga kepadanya. Kutarik kursi yang ada didekatku.


Livia menoleh kearahku, kemudian menatapku dengan lekat, "Jam berapa ini? Aku gak akan mulai tunanganku kalau kamu gak dateng" ucap Livia


"Dateng apa gaknya aku ya harus tetep mulailah gimana sih" ucapku


Livia hanya terdiam,


Setelahnya, Livia melihatku tapi dari kacanya itu, "Kamu masih sama Arlin kan? Kok aku gak lihat Arlin dari tadi?" ucap Livia, tersenyum simpul


"Aku masih sama Andre kok" ucap Arlin, tiba - tiba datang


"Tuh denger sendiri kan" ucapku


"Iya denger aku" ucap Livia


"Yaudah" ucapku


Mau bagaimana lagi. Aku berjalan pergi meninggalkan mereka berdua diruangan itu, entahlah apa yang mereka bicarakan itu, obrolan diantara dua perempuan dari hati ke hati. Kututup pintu ruangan itu. Livia memang terlihat bahagia saat cincin itu berada dijari manisnya, walaupun begitu saat semua orang pergi dan kuhampiri Livia yang malah tidak terlihat bahagia seperti tadi, matanya terus menatap cincin itu. Livia seperti tidak percaya dengan kenyataan, kalau dirinya itu sudah bertunangan. Livia mungkin masih berusaha menyakinkan dirinya tersebut.


Arlin dan Haikal juga sudah pergi. Aku berdiri disamping Livia.


Livia menoleh kearahku.


Tangannya itu didekatkan kewajahku, tentunya aku bisa melihat dengan jelas cincin dijarinya manisnya itu. Diujung sana, kulihat Haikal sedang berdiri menunggu, wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Liv" ucapku


"Kamu cinta sama Haikal gak sih?" ucapku


Livia langsung melirikku tajam, "Kenapa kamu kayak gak bahagia gitu sekarang? Apa cuman aku, atau semua orang juga sama ngelihat kamu kayak gak bahagia gitu? Kayaknya cuman aku" ucapku, tersenyum penuh artian

__ADS_1


"Kalau aku bilang, aku gak bahagia sekarang, kamu bakal gimana?" ucap Livia


Aku terdiam,


Aku menatap lurus kedepan, "Tergantung. Kamu gak bahagianya itu karena apa dulu?" ucapku, tertawa kecil


"Kayaknya aku lebih cinta orang lain, daripada yang ngasih aku cincin ini sekarang" ucap Livia


"Liv, pilih aja yang pasti, karena yang mungkin belum tentu bisa jadi pasti" ucapku


Livia menggelengkan kepalanya, dan sedikit menunduk tidak berani melihat Haikal yang berdiri diujung sana, "Haikal gak salah. Tapi, ini tentang perasanku" ucap Livia, tersenyum tipis


"Ndre. Kalau aku bilang, aku cintanya sama kamu sekarang, kamu bakal gimana?" ucap Livia


"Kamu tuh ya bercanda aja, aku udah sama Arlin. Terus, kamu juga sama Haikal, udah tunangan lagi. Masih bisa bercanda aja kamu" ucapku, tertawa kecil


"Aku serius. Lihat mataku" ucap Livia


Aku termenung. Livia melingkarkan tangannya itu dilengan Haikal, dan tatapan matanya itu terlihat tidak sedang ingin bercanda, sebelum berjalan pergi meninggalkanku, Livia tersenyum tipis kepadaku.


Selesai dari acara pertunangan itu, aku mengajak Arlin berkeliling kota, semua itu karena besok aku harus sudah kembali kepekerjaanku, kembali ke Jakarta. Arlin sudah bekerja disalah satu perusahaan yang ada di Bandung. Kuperhatikan Arlin terus saja terdiam sepanjang acara itu.


Dimobil. Kuperhatikan Arlin terus mengarahkan wajahnya kekaca disampingnya itu. Sampainya dirumahnya, saat aku ingin keluar dari mobilnya itu, Arlin memegang tanganku. Rasanya ada hal yang ingin dibicarakannya. Kita terdiam cukup lama. Arlin menatap kearahku, lalu mencium bibirku dan kubalas ciumannya itu, setelahnya kita kembali terdiam.


"Ndre" ucap Arlin


"Selama ini aku tuh gak suka ngelihat kalian, kamu sama Livia. Hubungan kalian tuh lebih deket, dibandingkan sama aku. Itu yang bikin aku cemburu" ucap Arlin, tersenyum kecut


"Sekarang Livia udah tunangan sama Haikal. Aku sedikit gak cemburu. Kayaknya aku gak bisa ngilangin cemburuku itu, padahal mereka udah tunangan. Aku salah gak sih, Ndre? Kalau cemburu sama Livia" ucap Arlin


Aku masih terdiam saja,

__ADS_1


"Kamu ada perasaan gitu gak sih sama Livia? Atau Livia yang punya perasaan gitu?" ucap Arlin


"Kamu suka gak sama Livia? Jawab aku sekarang, Ndre" ucap Arlin


Aku tidak ingin menjawabnya, tapi saat itu kulihat air matanya itu mengalir pelan dipipinya, walaupun Arlin sedikit tersenyum. Menangis tetaplah menangis, "Suka. Dulu" ucapku


"Sekarang?" ucap Arlin


"Kamu gak bisa jawab kan? Gakpapa, aku bakalan terus usaha sampai kamu bener - bener cinta sama aku. Sampai bukan Livia yang ada dihatimu, tapi aku" ucap Arlin, memaksa tersenyum


"Aku cinta banget sama kamu. Aku gak mau putus sama kamu" ucap Arlin


Arlin membuka kancing bajunya paling atasnya, "Aku bakalan ngelakuin apapun, sampai kamu bener - bener cinta sama aku" ucap Arlin, menatapku lekat


Aku pegang erat tangannya, agar tidak lagi membuka kancing bajunya yang kedua, kemudian aku langsung memeluknya, "Kamu ngapain sih? Aku udah bilang dulu emang suka, sekarang gak, lagian Livia juga udah tunangan" ucapku


"Tadi aku belum jawab lagi, kamu udah ngomong terus gitu" ucapku


Arlin melepas pelukanku, lalu kembali ingin membuka kancing bajunya. Sebelum itu terjadi, aku menatapnya lekat, sembari memasangkan semua kancing yang dilepasnya itu, "Dengerin aku" ucapku


Kusentuh pipinya dengan lembut, "Kamu gak perlu ngelakuin semua itu, kalau kamu emang mau buktiin cintamu. Gak gitu caranya" ucapku, tersenyum simpul


"Terus aku harus gimana, biar kamu cinta sama aku?" ucap Arlin


"Kamu gak perlu ngelakuin apapun. Aku udah cinta" ucapku


"Udah ya, kamu masuk kerumah, sekarang" ucapku


"Kamu gak jawab" ucap Arlin


"Lin. Udah ya" ucapku

__ADS_1


"Iya" ucap Arlin


__ADS_2