"Kalau"

"Kalau"
Part 27 - Perjalanan Kecil Menuju Suatu Kebahagiaan


__ADS_3

Aku dan Arlin berjalan bersama.


"Kita kapan ya?" ucap Arlin, tersenyum simpul


Aku menoleh kearahnya dan mendekatkan wajahku kearahnya, kemudian membisikkan ditelinganya itu, "Besok kita nikah" ucapku, tersenyum simpul


"Gak mungkinlah. Bercanda aja kamu ya" ucap Arlin


Arlin melihat kearah Haikal dan Livia yang berdiri dengan terus tersenyum,


Kulihat tatapan Arlin yang seakan juga ikut bahagia, kurasa laki - laki yang paling bahagia saat itu pastilah Haikal. Tidak semua laki - laki bisa menikah dengan perempuan secantik Livia.


"Jadi pengen cepet - cepet nikah. Dengerin, kode" ucap Arlin, tersenyum manis


"Katanya besok" ucap Arlin


"Gaklah" ucapku


Kita menghadiri pernikahan Livia dan Haikal, entah mengapa aku juga ikut bahagia saat melihat mereka sudah menikah, walaupun jauh didalam hati kecilku aku masih mencintai Livia. Arlin terus saja melingkarkan tangannya itu dilenganku. Kulihat Livia melihat kearahku dan tersenyum tipis saat itu juga. Semenjak Livia datang keapartemenku, aku sudah berjanji kepada diriku untuk tidak mempunyai hubungan lebih dari pertemanan dengannya.


Saat aku menjabat tangan Haikal, tanpa sempat kusadari Livia memelukku dengan begitu eratnya, sampai Arlin dan Haikal hanya bisa terdiam mematung. Kuputuskan itu adalah pelukan terakhir darinya. Kedepannya aku tidak ingin mengganggu hidupnya lagi. Dan, lagipula aku juga mempunyai Arlin yang haruslah terus kuperjuangkan, aku tidak ingin mengecewakannya.


"Liv" ucapku, pelan


"Udah, Liv. Ini hari buat kamu sama Haikal bahagia, buat aku sama kamu" ucapku

__ADS_1


Livia perlahan melepaskan pelukannya itu,


Kugandeng tangan Arlin dan langsung pergi meninggalkan pasangan yang harusnya sedang berbahagia. Dimobil, kutahu Arlin terus saja dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan, entahlah. Aku tidak mengerti bagaimana perasaan Arlin dan Haikal, rasanya mungkin mereka adalah orang yang paling tidak bisa menerima semua itu, tapi kenapa aku sedikitpun tidak melihat semua itu diwajah mereka. Aku kesal sendiri. Harusnya mereka marah.


Kehidupan ini bukan hanya ada aku dan Livia, ada Arlin, ada juga Haikal. Serta, semua orang yang terlibat didalamnya. Kupinggirkan mobilku, karena aku tidak bisa berkendara dengan banyak pikiran dikepalaku, itu berbahaya. Kulihat jalanan cukup lengang. Sejenak aku terdiam, memikirkan.


"Lin" ucapku


"Lin, maafin aku" ucapku


"Buat kamu sama Haikal selalu gak nyaman. Livia emang gitu" ucapku


Arlin menatapku begitu lekat, "Gakpapa. Kalian cuman sahabatan kan? Aku gak masalahin itu kok" ucap Arlin


"Awalnya aku emang selalu cemburu ngelihat kalian. Tapi, pas dihari tunangan, Livia cerita kalau kalian itu cuman temenan, tenang aja. Aku percaya kalian kok" ucap Arlin, tersenyum tipis


Livia ternyata hanya menceritakan tentang hubunganku dengannya yang sekedar pertemanan kepada Arlin dan Haikal. Aku mulai ragu. Sekalipun Livia tidak menceritakan perasaanku atau perasaannya yang sebenarnya, Arlin dan Haikal juga mempunyai pikiran serta perasaan. Bahkan, orang yang lewat saja, bisa menganggap kalau aku dan Livia itu mempunyai hubungan lebih dari pertemanan, padahal orang itu baru sekali melihat.


Apalagi Arlin dan Haikal yang sudah lama mengenal.


Mereka itu tidak bodoh.


Kutahu. Didalam hati mereka, pastilah mereka merasa kecewa dengan semua kenyataan itu, bahwa orang yang mereka selama ini cintai sebenarnya tidak begitu mencintai, semua itu menyakitkan. Aku sangat tahu, aku memang harus jujur dengan Arlin.


Tapi, aku tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


Begitupun juga dengan Livia, pastilah Livia juga tidak bisa melakukanya dengan Haikal. Saat aku dan Livia jujur, saat itu juga aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.


Bisa saja ada dua pasangan yang berpisah. Kemungkinan yang paling buruknya itu. Dan, aku tidak ingin itu terjadi. Benar.


Itu yang kutakutkan.


"Lin, itu gimana ya?" ucapku


"Livia malah gitu didepan Haikal lagi, tadi aku kan jadi gimana gitu. Bisa - bisanya Livia gitu" ucapku, tersenyum kecut


Arlin menggenggam tanganku begitu erat, kemudian aku juga menggenggam tangannya itu dengan erat, "Lin, aku janji setelah ini, aku gak akan deket banget sama Livia. Apalagi sekarang mereka udah resmi nikah" ucapku


Arlin hanya bisa terdiam dan tidak tahu harus bagaimana.


Bukan hanya Arlin. Saat itu aku juga tidak tahu harus bagaimana, hal yang aku bisa hanya sekedar mengungkapkan apapun yang ada dipikiranku, tentang semuanya itu. Aku tidak bisa menahannya lagi.


"Aku beneran janji sama kamu. Aku cuman gak mau kamu sama Haikal, nantinya gak nyaman aja gitu, sekalipun kamu bilang gakpapa. Setiap kali aku sama Livia, gak tau kenapa aku selalu ngerasa bersalah aja gitu sama kamu dan Haikal" ucapku


"Kalian itu punya hati, gak mungkin kalian gak kenapa - kenapa" ucapku


"Iya bener, aku punya hati" ucap Arlin


Arlin memalingkaan wajahnya itu, kemudian menatap lurus kedepan, "Cuman kalian gak perlu sampai harus putus hubungan gitu ya, aku seneng kok ngelihat hubungan kalian berdua gitu terus" ucap Arlin


"Kamu pasti bohong, Lin" ucapku

__ADS_1


"Bilangin" ucap Arlin


"Gak" ucap Arlin


__ADS_2