
Kuputuskan. Aku izin sehari.
Saat itu, aku kembali berdiri didekat dinding pembatas balkon apartemenku, dan langit hari itu terlihat terus mendung, rasanya aku tidak peduli juga kalau saja akan turun hujan. Aku tidak tahu apa yang kurasakan.
Tiba - tiba Tania berdiri disampingku dengan tangannya memegang dinding pembatas balkon, kita bertemu lagi. Kebetulan. Kulihat sedikit rambut depan serta sampingnya itu beterbangan, walaupun begitu rambut samping serta belakang itu diikat, jadi tidak begitu beterbangan terkena angin yang berhembus. Entahlah, aku bingung menjelaskan model rambutnya itu. Yang kutahu hanya ikatan rambutnya itu bagus. Terlihat cantik.
"Tan" ucapku
"Aku mau nanya?" ucapku
Tania menoleh kearahku. Suasana menjadi hening.
Kutatap matanya begitu lekat, "Kenapa ya ada orang yang milih buat nyembunyiin perasaannya itu?" ucapku
"Mungkin dia gak mau dengsr jawaban yang gak dipengenin, dan bukannya gak semua hal harus disuarakan, kadang kita cuman bisa ngerasain aja kan?" ucap Tania, tersenyum simpul
"Bisa juga orang itu penakut. Dia bisa aja gak tau kalau ternyata orang yang disukainya itu juga punya perasaan yang sama" ucap Tania
"Kembali sih penakut" ucap Tania
"Kamu bener" ucapku
Aku harus jujur tentang semuanya, harus. Kuberjalan pergi meninggalkan Tania yang kebingungan dengan tingkahku itu, disepanjang perjalanan rumah Livia. Nantinya aku harus jujur mengakui semuanya, walaupun aku tidak bisa mengubah apapun tentang pernikahannya itu, setidaknya aku sudah jujur kepadanya.
Sesampainya dirumah Livia di Tangerang.
Aku membuka pintu mobilku, kemudian turun dan berjalan menuju keteras rumahnya itu, kutekan pelan bel rumahnya. Tidak lama setelah itu kudengar suara langkah kaki berjalan mendekat kearah pintu. Saat itu, Livia yang membukakan pintu dan tentunya Livia terkejut saat melihatku, Livia mengernyitkan dahinya itu karena aku memang tidak mengabarinya.
"Hai, Liv" ucapku
__ADS_1
"Aku gak disuruh berdiri terus nih, gak disuruh masuk?" ucapku
Livia melipat kedua tangannya itu, kemudian menatapku terus menerus dan sampai pada akhirnya memegang lenganku, lalu membawaku masuk kerumahnya, "Aku bawa kamu masuk, bukan karena kamu tamu ya. Aku kasian aja ada orang berdiri terus diterasku" ucap Livia
"Kamu mau minum apa?" ucap Livia
"Apapun yang dingin" ucapku
Livia berjalan pergi meninggalkanku, "Bentar. Aku buatin sirup ya tunggu" ucap Livia, tersenyum simpul
Beberapa waktu setelahnya Livia kembali membawa segelas sirup.
Awalnya aku masih biasa saja. Tapi, lama kelamaan aku kesal juga dengan Livia, bagaimana tidak Livia terus menatap kearahku, "Apasih kamu ngelihatin terus gitu?" ucapku
"Kamu ada masalah sama Arlin?" ucap Livia
"Udah kamu gak usah jawab, kelihatan gitu" ucap Livia
"Iya" ucapku
Inginku saat itu, mengatakan padanya kalau Livia juga salah satu dari penyebab masalahku, atau malah itu akar masalahnya. Kalau saja aku jujur dari dulu, ceritanya tidak akan seperti ini.
"Gimana persiapannya? Bentar lagi cincinnya pindah ketangan kanan" ucapku, tersenyum tipis
Livia menghela nafasnya pelan.
Kuminum sirupku. Livia menoleh kearahku, kemudian menatapku penuh kebahagiaan, "Aku masih gak nyangka aja, tiap hari rasanya aku deg - degan terus, beneran. Kadang aku takut bakalan gimana - gimana setelah nikah nanti" ucap Livia, tersenyum simpul bercerita
"Rasanya aku kayak masih belum siap aja ngadepinnya" ucap Livia
__ADS_1
Setelah itu, Livia bercerita panjang lebar tentang rencana pernikahannya itu.
Sebenarnya aku tidak terlalu mendengarkan ceritanya itu, pikiranku melayang kesana - kemari. Aku hanya terus melihat wajah cantiknya itu. Wajah perempuan yang selama ini kupendam sendiri, aku hanya ingin jujur dan tidak ingin menghancurkan pernikahannya itu. Aku ingin Livia menikah bersama Haikal. Tapi, aku tetap ingin berpisah dengam Arlin, karena rasanya aku tidak pernah mencintainya dengan sungguh - sungguh, maafkan aku.
"Kamu kapan sama Arlin?" ucap Livia
"Gak bakalan terwujud. Liv, aku mau putus sama Arlin" ucapku
Suasana hening sejenak. Tangan Livia berada dipahaku dan kutatap matanya lekat, "Semuanya itu karena kamu, sejak dulu aku itu suka kamu. Tapi, aku sadar diri. Kamu sama Arlin itu punya dunia berbeda" ucapku
"Aku emang harus jujur, aku suka kamu, Liv" ucapku
"Akhirnya kamu bisa jujur sama dirimu sendiri. ucap Livia, tersenyum manis
"Iya, aku tau" ucap Livia
Livia menamparku keras saat itu juga, "Itu tadi aku wakilin Arlin, sama aku juga marah sama kamu. Kalau aja dulu kamu bilang gitu, ceritanya pasti akan beda, Ndre" ucap Livia
"Bisa - bisanya kamu bilang gitu pas aku bentar lagi nikah" ucap Livia
"Aku juga suka kamu, cuman semua udah terlambat. Biarin aku bahagia sama Haikal, Ndre" ucap Livia
"Iya, aku ngerti itu. Semoga kamu bahagia. Aku gak mau juga ngancurin pernikahanmu itu" ucapku, tersenyum simpul
"Kamu udah bilang sama Arlin?" ucap Livia
"Ndre, tamparanku tadi itu kayaknya gak seberapa sama sakitnya Arlin" ucap Livia
"Setelah ini aku mau bilang sama Arlin" ucapku
__ADS_1
"Aku mau jujur" ucapku