"Kalau"

"Kalau"
Part 21 - Waktu Yang Tepat Untuk Pergi


__ADS_3

Aku mendapatkan pemberitahuan diterima kerja diemailku. Saat itu, aku langsung berjalan keluar dari kamarku, lalu mengetuk pintu kamarnya dan Livia membuka pintu kamarnya itu, kulihat Livia sedang tidak melakukan apapun, walaupun dimejanya itu memang terdapat banyak bukunya yang terbuka begitu saja. Kuberikan saja handphoneku itu kepadanya. Livia membaca dengan cermat emailku tersebut, sedangkan aku berjalan melewatinya menuju kasurnya. Aku duduk dipinggir kasurnya itu.


Setelah membaca email dihandphoneku itu, kemudian Livia meletakkan handphoneku itu dimeja belajarnya dan mengambil buku yang ada didekatnya, lalu membacanya. Aku tahu Livia tidak membaca bukunya itu. Matanya itu menatap buku, tapi saat itu kuperhatikan Livia melamun. Semua itu sudah jelas. Disaat aku diterima kerja, itu artinya aku akan meninggalkan kosanku itu, dan bagi Livia, pasti akan membuatnya sedih. Livia masih harus terus berada dikosan dengan semua ketertinggalan kuliahnya tersebut. Mau bagaimana lagi.


"Liv" ucapku


Aku terdiam sejenak,


Kutatap matanya dengan lekat, "Aku diterima kerja di Jakarta" ucapku, pelan


Livia menatapku kosong, kemudian wajahnya terlihat sedikit sedih, walaupun saat itu kulihat bibirnya itu tersenyum tipis, "Baguslah" ucap Livia


"Tiga hari lagi aku mau pindah" ucapku


"Ternyata kamu yang harus ninggalin aku duluan, sedih gak sih kalau salah satu diantara kita itu ada yang mau pindah gini?" ucap Livia


"Sedih banget" ucapku


Aku menatap lurus kedepan, "Kamu sih pakai ada acara ngulang, jadi masih disini aja terus. Harusnya kita bisa aja kan barengan gitu keluar dari sininya" ucapku, tertawa


"Dikata - katain aja terus" ucap Livia


"Kalau aku udah pindah, nanti kamu harus itu baik - baik ya sama yang gantiin kamarku, gak usah galak - galak takut dia nanti" ucapku


"Orang aku lemah lembut gini masa dibilang galak gimana sih" ucap Livia


"Emangnya aku gak tau apa? Kamu terkenalnya itu galak, pas sama aku aja galaknya sedikit berkurang. Kamu kalau sama orang lain katanya galak banget susah dideketin" ucapku

__ADS_1


"Lagian siapa mereka? Kenal aja gak" ucap Livia


"Aku galakin aja" ucap Livia


"Tuh" ucapku


Tidak peduli seberapa banyak Livia tertawa dengan semua kekonyolanku, tetap saja akan ada waktu dimana Livia tersadar dengan perpisahanku dengannya, kemudian tanpa Livia mengucapkan apapun juga aku sudah mengetahui, kalau Livia sedang bersedih didalam hatinya itu. Malamnya dan keesokan harinya aku terus mengemasi barang - barangku. Livia terkadang membantuku.


Tidak terasa tinggal sehari lagi aku pindah. Lagi - lagi balkon menjadi tempat yang nyaman untuk apapun, entah itu melamun, tidak melakukan apapun, sekedar melihat pemandangan atau apapun itu. Melelahkan juga mengemasi barang - barang dikamarku itu.


Livia berdiri disampingku dan seringkali melihat kearahku tanpa alasan yang jelas.


Aku menopang pipiku, lalu menatap kearahnya.


"Kamu jahat. Besok kamu inggalin aku sendirian disini" ucap Livia


Livia menatap lurus kedepan, kemudian menutup matanya sejenak, setelah itumenghela nafasnya panjang, "Gak aku bercanda. Gak ada yang jahat diantara kita. Adanya kehidupan yang jahat" ucap Livia, tersenyum penuh artian


"Kehidupan itu emang jahat ya. Kenapa kita harus dipisahin gini, kan harusnya kamu diterima kerja di Bandung aja, malah diterimanya di Jakarta? Kayaknya kehidupan gak pengen aja gitu kita barengan terus" ucap Livia


"Kamunya yang egois. Terserah kehidupanlah mau kayak gimana juga, emangnya aku mau gitu barengan sama kamu terus? Gaklah, bosen aku" ucapku, tertawa


"Aku egois ya. Pengen kita bisa bareng disini terus. Emang egois sih" ucap Livia


Aku menyentuh pipinya itu, "Lagian aku gak mau juga disini terus, kehidupan luas banget. Aku pengen bisa lihat banyak cewek cantik diluar sana. Gak cuman kamu aja yang cantik" ucapku


"Gak mungkin kita disini terus" ucapku

__ADS_1


Livia memegang jariku, lalu menggigitnya dengan cukup keras, "Rasain. Orang udah punya pacar juga. Semua cowok tuh sama ya gak pernah puas dalam hidupnya" ucap Livia


"Tadi bercanda aku" ucapku


"Bercanda apanya? Kelihatan serius gitu dari matanya. Berharap gitu" ucap Livia


"Kok bisa tau?" ucapku


"Pikiran sama perasaan orang itu gak ada yang tau" ucapku


"Firasat cewek itu selalu bener. Kayak misalnya cewek bisa lihat cowok itu cinta beneran gak sama dia" ucap Livia, tersenyum simpul


"Kalau emang selalu bener gitu, kenapa cewek selalu salah milih cowok?" ucapku


Vanila terdiam sejenak,


"Bener juga" ucap Livia, tersenyum simpul


"Yaudah aku ganti. Firasat cewek itu banyak benernya, gak selalu bener. Udah bener kan?" ucap Livia


"Itu baru bener" ucapku


Aku bertatapan dengan Nadira. Kulihat Nadira dibawah tersenyum melihat keributanku dengan Livia, selama ini mungkin penghuni kosan lain sudah terlalu banyak mendengarkannya, suasana dikosan terasa hidup karena adanya Livia. Rasanya kalau tidak ada Livia, dikosan seperti tidak ada tanda - tanda kehidupannya. Aku berterimakasih kepada Livia. Nadira berjalan keluar dari kosan.


Terkadang aku malu saja, obrolanku dengan Livia itu didengarkan oleh penghuni lainnya, makanya aku dan Livia tidak terlalu sering berada dibalkon.


Aku tidak pernah mengerti alasan Livia terus mendatangi kamarku, padahal kamarnya itu lebih bagus, lebih rapi, lebih segalanya dibandingkan dengan kamarku, biarkan itu terus menjadi pertanyaan didalam hatiku. Aku tidak ingin menanyakan kepadanya. Semua itu pastinya akan menjadi tidak menarik lagi saat aku mendapatkan jawaban darinya.

__ADS_1


Matahari dikejauhan sana terlihat tenggelam.


Begitu indah.


__ADS_2