"Kalau"

"Kalau"
Part 24 - Sikapnya


__ADS_3

Arlin tiba - tiba datang kekantorku. Aku menemuinya dilobby.


Aku menatapnya heran, karena Arlin selama ini tidak pernah datang kekantorku, dan entahlah belakangan ini Arlin begitu perhatian saja denganku, rasanya seperti bukan Arlin saja. Dikantor ada banyak orang yang berlalu - lalang. Kuajak Arlin pergi dari kantorku ketempat yang lebih nyaman, dimobil saat diperjalanan kita seringkali bertatapan walaupun dalam sepersekian detik karena aku sedang mengemudi, seakan ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkannya itu kepadaku.


Sesampainya disuatu tempat makan yang tidak terlalu jauh dari kantorku, Arlin sejak tadi hanya mengaduk - aduk minumannya itu, kupegang saja tangannya itu dan kutatap lekat matanya. Arlin yang tadinya sedikit menunduk, perlahan menatap kearahku.


"Lin" ucapku


"Diaduk - aduk terus airnya nanti pusing" ucapku, tertawa kecil


Aku masih memegang tangannya itu, "Aku udah kelewatan ya cemburunya. Habisnya kalian tuh kayak deket banget gitu lho. Aku jadi kayak gak suka aja" ucap Arlin, cemberut


"Kamu kenapa harus punya temen kayak Livia sih? Gak ada yang lain gitu?" ucap Arlin


"Kalau aku atau Livia ada yang punya perasaan, kamu bakalan gimana?" ucapku


Arlin menggenggam erat tanganku itu, "Kalau Arlinnya yang punya perasaan ya aku tinggal gimana caranya jauhin dari kamu, tapi kalau kamunya yang punya perasaan itu yang susah. Aku gak tau harus gimana" ucap Arlin


"Maafin kalau aku emang terlalu cemburu" ucap Arlin, tersenyum tipis


"Cewek mana yang gak cemburu kalau cowoknya punya temen kayak Livia gitu coba?" ucap Arlin


"Iya" ucapku


Terkadang,


Aku sangat mengerti perasaan Arlin, harusnya kita tidak pernah membicarakan tentang Livia, akupun kalau menjadi Arlin juga pasti akan kesal karena terus mendengar Livia terus dariku. Livia juga seringkali menceritakan tentangku kepada Haikal, walaupun begitu Haikal menyikapinya dengan dewasa, rasanya hubunganku dan Livia memang membuat kesal siapapun yang mendengarkannya, begitulah. Padahal menurutku itu biasa saja. Tapi, menurut orang lain bisa saja itu melukai hatinya.


Perempuan itu tidak mudah ditebak. Mereka bisa saja bilang cinta kepada kita, walaupun tidak mempunyai sedikit cinta saat itu juga, perempuan itu pintar sekali membohongi perasaannya. Bahkan, sampai mereka sendiri terkadang lupa akan bagaimana kebenarannya.


Laki - laki selalu ketahuan saat berbohong, sedangkan perempuan rasanya kita tidak pernah ketahuan, pintar sekali memang. Perempuan dengan sejuta perasaannya tersebut.


"Lin" ucapku, pelan

__ADS_1


"Kalau ada apa - apa kamu ngomong ya, aku gak pinter nebak gimana perasaan kamu" ucapku


Arlin tersenyum penuh artian,


Aku mengelus - elus tangannya itu karena merasa bersalah tidak bisa memahami apapun yang sedang dirasakannya, "Aku minta maaf kalau ada salah" ucapku, tersenyum simpul


"Iya, gakpapa" ucap Arlin


"Kamu mau langsung pulang apa gimana ini? Kamu gak ngomong mau dateng kekantorku" ucapku


"Aku nginep diapartemen kamu ya. Semalem. Besoknya aku pulang" ucap Arlin


Aku menatap lekat matanya dan Arlin saat itu tidak berani menatapku balik, "Gak dihotel aja?" ucapku


"Aku maunya diapartemen kamu" ucap Arlin


"Yaudah" ucapku


Aku gandeng Arlin menuju mobil, lalu kembali kekantorku dan Arlin menunggu dilobby sampai aku pulang. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaanku. Kulihat Arlin yang tertidur karena terlalu lama menungguku, kemudian aku pegang bahunya lalu membangunkannya dengan pelan. Arlin membuka matanya itu perlahan, lalu tersenyum malu.


"Lama ya nungguin aku selesai" ucapku


Diapartemenku. Setelah membuka pintu kamarku, Arlin langsung berjalan menuju kekamarku, setelah itu merebahkan tubuhnya dikasurku. Arlin tertidur pulas. Setelah berganti pakaian, aku memilih untuk duduk dibalkon menikmati langit malam yang sangat berbeda dengan kotaku dan Bandung, kupikir semua langit itu sama ternyata disetiap tempat itu seakan berbeda saja.


"Ndre" ucap Arlin


"Aku cariin kemana - mana. Ternyata kamu dibalkon" ucap Arlin


Arlin duduk telat disampingku, kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku dan kupegang tangannya itu, "Kamu kecapekan. Tadi dikantorku tidur, diapartemenku juga tidur lagi" ucapku, tersenyum simpul


"Aku capek banget" ucap Arlin


"Kenapa kamu malah nyaranin aku kehotel, padahal kan aku mending diapartemen kamulah?" ucap Arlin

__ADS_1


"Aku cuman gak mau aja kamu nanti dibilang gimana - gimana nanti sama yang ada disini" ucapku


"Gakpapa kan kamu pacar aku" ucap Arlin


"Sekarang kita cuman berdua. Kamu gak mau ngapain sama aku gitu?" ucap Arlin, menatapku lekat


"Gak usah mancing" ucapku


"Kamu itu beneran bisa jaga cewek ya, gak kayak cowok lain diluar sana" ucap Arlin


Aku mencium keningnya itu, "Tapi, gak usah dipancing juga, nanti kalau aku kelepasan gimana? Aku juga sama kayak cowok pada umumnya" ucapku


"Iya. Gak lagi kok" ucap Arlin


"Udah" ucap Arlin


Malam itu, Arlin tidur dikasurku, sedangkan aku memilih berada disofaku. Aku merasa ada yang berbeda saja dengan Arlin, sekarang menjadi lebih berani saja dalam menggodaku, bagiku itu tidak apa - apa. Arlin pacarku. Dihampir sepertiga malam, aku mendengar Arlin menuangkan air digelasnya, kemudian duduk disampingku menonton televisi.


"Kamu gak tidur?" ucap Arlin


"Kamu sengaja kan dateng karena tau kalau besoknya aku libur ya" ucapku


Aku merapikan rambutnya yang berantakan itu, kemudian menyelipkannya dibalik telinganya itu dan kulihat saat itu Arlin tersenyum manis kepadaku, "Pinter banget nyari waktu dateng ketemu akunya" ucapku


"Iyalah. Ngapain juga aku dateng pas kamu lagi sibuk kerja, nanti aku yang ada malah dicuekin, gimana sih" ucap Arlin


Suasana menjadi hening.


Kutatap matanya lekat, kemudian aku mencium bibirnya itu dan Arlin juga membalas ciumanku itu, "Udah sana tidur lagi" ucapku


"Gak bisa. Harusnya kamu gak cium aku tadi" ucap Arlin, tersipu malu


"Aku jadi gak bisa tidur" ucap Arlin

__ADS_1


"Alesan" ucapku


__ADS_2