
Jauh sebelum aku mengenal Arlin, Livia sudah mengenal Arlin terlebih dahulu karena mereka itu memang satu fakultas, dan apalagi mereka itu dianggap sebagai salah satu primadona disana. Mereka kenal tapi tidak dekat. Aku awalnya juga tidak mengetahui kalau Arlin itu ternyata primadona, aku memang tidak terlalu mengikuti kabar yang beredar dikampus, bahkan mereka berdua saja tidak mengakui dirinya primadona. Jujur. Banyak dari temanku yang heran, kenapa aku bisa kenal dengan dua perempuan seperti mereka? Bagaimana bisa menjawabnya, kalau aku sendiri saja juga tidak tahu jawabannya apa.
Aku dan Arlin sering bertemu dikampus.
Dikantin kampus. Saat aku duduk bersama Arlin, kulihat dikejauhan sana Livia menatap kearahku, padahal saat itu teman - temannya sedang bercanda gurau, sedangkan Livia justru tersenyum saat melihatku. Aku memalingkan wajahku darinya. Arlin tidak menyadari semua itu, karena Arlin posisinya membelakangi Livia. Sampai pada akhirnya, Livia dan semua temannya itu berjalan pergi bersama - sama, kemudian aku bisa terus melihat Arlin. Livia yang tadinya berada disana mengganggu tatapanku pada Arlin.
"Kenapa?" ucapku
"Kamu diem aja dari tadi" ucapku
Arlin berhenti memainkan sedotan digelasnya itu, "Belakangan ini aku ada banyak tugas. Aku kekos kamu ya? Aku bosen ngerjain dikosku" ucap Arlin, menatapku dengam begitu lekat
"Aku pengen kekos kamu, tapi aku gak mau ketemu Livia" ucap Arlin, lirih
Aku menghentikan sendokku, "Gimana gak ketemu? Livia aja depan kamarku" ucapku, tersenyum tipis
"Aku kok cemburu aja gitu ya sama Livia. Aku yang pacar kamu, tapi malah kamu yang kayak lebih deket sama Livia" ucap Arlin
"Coba kalau kamu jadi aku, kamu cemburu gak?" ucap Arlin
"Lin, bisa gak? Kita gak usah bahas Livia. Aku sama Livia gak ada hubungan apa - apa kecuali temen" ucapku
"Kita juga itu awalnya cuman temen" ucap Arlin
Aku hanya diam,
Aku tidak bisa membalasnya, karena akupun menyadari kalau jauh didalam hatiku, aku memang menyukai Livia. Selain tentang Livia, aku dan Arlin tidak pernah berdebat dalam apapun, satu hal yang bisa aku lakukan itu terus meyakinkan dirinya, bahwa aku hanya sekedar berteman saja dengan Livia. Hanya itu.
Dikosan. Aku duduk tenang dibalkon, kemudian Livia datang menghampiriku dan duduk disampingku, saat itu aku terus mengabaikannya, sampai pada akhirnya Livia meletakkan novelnya itu dimeja. Livia menghadap kearahku. Aku tetap tidak peduli dengan yang dilakukannya itu, aku berjalan menuju dinding pembatas balkon lalu menatap jauh pemandangan kota, sedangkan Livia masih tetap duduk disana. Langit malam yang indah.
"Kamu lagi berantem sama Arlin?" ucap Livia
__ADS_1
"Kamu kok bisa tau sih?" ucapku
Livia berjalan pelan menghampiriku, sembari melipat tangannya itu, "Apalagi coba masalah kamu, selain sama Arlin?" ucap Livia, tersenyum simpul
"Gara - gara apa emang?" ucap Livia
Aku tidak bisa bilang kalau itu karenanya, "Udahlah. Aku gak mau bahas" ucapku
Livia menatapku dengan begitu lekat, "Bukan karena aku kan ya? Aku kayak ngerasa Arlin tuh gak suka gitu, orang kita cuman temen kan?" ucap Livia
"Kita gak ada hubungan apa - apa kan selain temen?" ucap Livia
Aku menoleh kearahnya, kemudian menahan tawaku saat mendengarkan Livia, "Apasih? Kayak aku suka sama kamu, atau kamu suka sama aku aja, iya kita cuman temen gak lebih dan gak kurang" ucapku
"Siapa tau selama ini kamu suka sama aku? Gak ada yang tau" ucap Livia
"Gaklah" ucapku
Sebulan setelahnya. Livia bercerita padaku, kalau akhirnya ada laki - laki yang bisa mencintainya dengan apa adanya dibandingkan dengan yang sebelum - sebelumnya, aku ikut bahagia saat mendengarnya. Semenjak itu juga, kuperhatikan Livia menjadi jarang sekali datang ketempat hiburan malam, rasanya Livia benar - benar menjadi orang yang berbeda. Seperti bukan dirinya saja. Akhirnya Livia bisa menemukan laki - laki yang tepat dalam hidupnya itu.
Livia merasa kalau semua orang rasanya berlalu - lalang melewatinya, mengejar waktu serta masa depannya masing - masing, sedangkan dirinya masih dititik yang sama. Sendiri. Tertinggal. Itulah mengapa Livia ingin mengejar ketertinggalannya, karena melihat banyak temannya yang sebentar lagi lulus.
"Liv, kamu ngapain sih dikamarku tiap malem?" ucapku
Kasurku itu penuh dengan buku - bukunya itu, sampai aku tidak bisa tidur dikasurku sendiri, "Ini yang punya kamar sebenernya siapa sih? Udah kayak kamarmu aja, kenapa gak dikamarmu aja gitu?" ucapku, kesal
"Kita tukeran kamar yuk" ucap Livia
"Sana kekamarku" ucap Livia
Aku berjalan keluar kamarku, dan tidur dikamarnya, kumatikan lampu kamarnya lalu kulihat bulan serta bintang yang menyala dilangit - langit kamarnya itu, "Ndre, udah tidur?" ucap Livia, membuka pintu kamarnya
__ADS_1
"Udah. Ini lagi mimpi" ucapku
"Orang tidur mana bisa ngomong" ucap Livia
"Katanya suruh tukeran kamar gimana sih? Aku udah mau tidur, gara - gara lihatin bulan sama bintang diatas jadi gak bisa tidur" ucapku
"Bagus kan kamarku?" ucap Livia
"Aku cuman gak mau kamarku berantakan, makanya aku tiap malem mending dikamarmu aja, aku berantakin itu kamarmu" ucap Livia
"Jadi itu alesannya" ucapku
"Geseran dikit. Aku mau tidur juga" ucap Livia
Livia langsung merebahkan tubuhnya itu, kemudian menggeserku dengan paksa, "Dibilangin geser dikit" ucap Livia, tertawa kecil
Kita berdua terdiam. Kulihat lampu didinding kamarnya yang berkelap - kelip itu,
"Ndre" ucap Livia, pelan
"Bentar lagi kamu lulus ya? Tinggal aku sendiri nih dikosan ini" ucap Livia
Aku menoleh kearahnya dan menatapnya lekat, "Gak sendirilah. Nanti pasti kan ada penggantiku. Namanya juga kos - kosan. Ada yang pergi, terus ada yang datang" ucapku, tersenyum simpul
"Kamu gak bisa pindahnya nunggu aku lulus gitu? Aku bakalan kesepian tau, kalau kamu pindah nantinya" ucap Livia
"Kamu sih jarang masuk kuliah, tugas ngerjain seadanya, jadinya tertinggal gitu pasti kan sama temen - temenmu" ucapku
"Aku sedih tau. Ngelihat temen - temenku udah pada sempro, aku masih ngejar ketertinggalanku. Bentar lagi mereka pada lulus. Kamu juga" ucap Livia
"Aku gak ada temennya. Sedih banget" ucap Livia
__ADS_1
"Semangat ngejar ketertinggalan" ucapku
"Iya" ucap Livia