
"Ndre" ucap Livia
"Aku punya masalah nih" ucap Livia
Aku tidak menoleh sedikitpun kearahnya, "Aku juga punya. Bukan cuman kamu" ucapku, terus bermain game dilaptopku
"Kenapa ya yang kita pengenin itu selalu mahal? Aku cuman pengen kamu dengerin masalahku apa susahnya sih" ucap Livia, menjambak rambutku
"Sakit. Bentar aku lagi main nih. Tunggu" ucapku, menahan sakit dikepalaku
Kuletakkan joystikku,
Aku langsung menoleh kearahnya, dan Livia terlihat tersenyum tipis, "Kamu punya masalah apa sih?" ucapku
"Pilihin baju yang bagus, nanti aku mau pergi sama pacarku" ucap Livia
"Liv, gak sebanding lho rambutku dijambak gitu, habis itu aku cuman disuruh pilih" ucapku
"Maaf. Habisnya kamu gak dengerin aku" ucap Livia
"Gak perlulah kamu minta aku buat milihin bajumu, orang kamu bakalan cantik mau pakai baju apa aja juga" ucapku
"Bohong banget" ucap Livia
"Bilangin" ucapku
Livia berdiri dihadapanku dengan begitu cantiknya. Saat terdengar suara motor berhenti didepan kosan, Livia langsung berjalan keluar kamarku dan menuruni tangga, pacarnya itu sudah didepan gerbang. Livia memang selalu berusaha tampil cantik disetiap bertemu dengan pacarnya itu. Aku melanjutkan gameku yang kupause, setelah suara motor itu menghilang, sampai dengan lewat tengah malam Livia masih belum pulang.
Aku mulai menguap dan kuputuskan untuk menyelesaikan gameku dalam beberapa menit lagi, kudengar suara langkah kaki dan suaranya semakin mendekat kearah kamarku. Dari balik pintuku, Livia melihatku dengan tersenyum simpul, aku hanya bisa melihat kepalanya saja sedangkan tubuhnya itu sengaja tidak diperlihatkannya, jantungku berdetak cepat.
"Bikin kaget aja" ucapku, memegang dadaku
"Dari aku pergi sampai pulang, kamu masih main game aja" ucap Livia
__ADS_1
Aku mengatur detak jantungku, setelahnya aku menyelesaikan gameku dan kumatikan laptopku, "Bisa gak kalau dateng itu biasa aja gitulah? Selalu bikin kaget orang yang didatengin" ucapku, protes
"Lama - lama aku bisa dirawat dirumah sakit, serangan jantung terus" ucapku
Kututup pintu kamarku,
"Jahat banget, malah ditutup pintunya" ucap Livia
"Kamu gak baik buat kesehatan mentalku. Lagian, pasti mau cerita tadi ngapain aja sama pacarmu kan? Udah apal aku. Lain kali aja, aku ngantuk beneran" ucapku
"Tau banget. Yaudah aku juga mau tidur" ucap Livia
"Semoga mimpi indah" ucapku
"Kamu juga" ucap Livia
"Haruslah" ucapku
Keesokan harinya. Aku terbangun dan langsung beranjak dari kasurku, kemudian berjalan keluar dari kamarku, saat aku ingin berjalan kekamar mandi, Livia datang lalu menepuk - nepuk pipiku. Setelah itu, Livia berjalan menuruni tangga. Sempat - sempatnya saat ingin pergi kekampus, aku harus menerima perbuatan yang tidak menyenangkan darinya. Kudengar dengan jelas, kalau Livia terus tertawa sejak menuruni tangga sampai dengan keluar dari kosan.
Dikampus. Setelah dari perkuliahan yang menguras pikiran itu, aku memilih untuk menenangkan pikiranku ditaman kampus, aku tidur dengan nyaman tapi semua itu hanya sementara, setelah ada seseorang yang menekan hidungku, sampai aku tidak bisa bernafas. Rasanya hidupku tidak bisa tentram dan nyaman. Livia berdiri disampingku, aku kembali tidur lagi dan hidungku ditekan lagi olehnya, kupegang tangannya itu lalu menyentil punggung tangannya dengan keras.
"Sakit" ucap Livia, mengusap tangannya
"Kamu ngapain sih disini, kampus tuh luas banget?" ucapku
Aku duduk dengan kesalnya, "Semalem emang tidurnya kurang? Bukannya kamu lebih awal ya tidurnya" ucap Livia, tersenyum simpul
"Kamu gak tidur ya semalem?" ucap Livia
"Tidur, cuman bentar" ucapku
"Jangan tidur disini. Malu aku punya temen tukang tidur" ucap Livia, tertawa kecil
__ADS_1
"Dikampus tuh kuliah malah tidur" ucap Livia
"Kayak kamu kuliah" ucapku
"Kok kamu tau sih kalau aku gak kuliah?" ucap Livia
Aku tidak percaya itu benar, padahal aku hanya asal bicara, "Jadi beneran kamu gak kuliah? Terus kamu ngapain ada dikampus?" ucapku, tersenyum simpul
"Bosen aja aku dikamar terus" ucap Livia
"Kita pergi yuk" ucap Livia
"Kemana emang? Sekarang?" ucapku
"Udah nurut aja" ucap Livia
Aku dibawanya ketoko buku dan disana juga menjual berbagai merchandise, menarik. Livia berjalan melihat - melihat, sedangkan aku berada tidak jauh dibelakangnya, dan aku juga melihat - lihat, siapa tahu mungkin aku juga akan membeli buku atau apapun itu yang ada ditoko. Livia terlihat berbeda sekali, dibandingkan dengan kabar beredar yang kudengar dikampus. Dimataku, Livia tidak pernah berubah, terlepas dari benar atau tidaknya kabar yang beredar itu, sikapnya kepadaku itu tidak pernah berubah sejak aku pertama kali bertemu dengannya.
Setelah lama berkeliling melihat - lihat, Livia akhirnya membeli beberapa buku, sedangkan aku hanya membeli satu buku saja. Diperjalanan pulang kita berjalan berdampingan, disebrang jalan aku melihat seorang kakek yang tidak bisa menyebrang, kemudian aku langsung memberikan buku yang kubeli itu kepada Livia yang kebingungan saat itu. Aku berjalan meninggalkan Livia sendirian untuk membantu kakek itu menyebrang jalan.
"Kamu baik banget bantu nyebrangin jalan" ucap Livia
Aku mengambil bukuku, dan bahkan, semua buku yang dibelinya itu, "Orang - orang pada nyebrang sendiri tapi gak bantu nyebrangin jalan" ucapku, kesal
"Semua orang itu emang lebih mentingin dirinya sendiri. Gak peduli sama orang lain" ucapku
"Kamu baiknya itu emang bukan buat nyenengin orang lain, tapi kamu emang dasarnya itu baik. Seneng aku bisa punya temen kayak kamu" ucap Livia, tersenyum manis
"Kamu gakpapa? Tadi mobilnya nabrak kamu kan" ucap Livia
"Udah tau aku lagi bantu nyebrangin jalan, mobilnya malah nerobos aja" ucapku, tersenyum kecut
"Gak bener itu" ucap Livia
__ADS_1
"Iyalah" ucapku