
Dalam menunggu hari wisuda itu. Aku tidak mempunyai kegiatan apapun, dan selama itu aku seringkali berada dikamar Livia, kulihat wajahnya yang begitu serius membaca banyak buku, serta mengerjakan tugas kuliahnya itu. Terkadang aku membawakannya makanan, semua itu karena Livia yang tidak mengingat waktu dimeja belajarnya itu. Ditengah malam itu. Aku mendengar suara penjual nasi goreng, akhirnya aku keluar dari kosan dan begitulah didepan kosan itu memang setiap harinya terdapat penjual nasi goreng.
Aku berjalan keluar kamarnya, lalu mengambil dua piring yang ada didapur, dan berjalan menuju penjual nasi goreng itu. Aku tidak menunggu lama. Kubawa dua piring itu menuju kosan. Livia yang sedang memegang kepalanya itu, tiba - tiba tersenyum saat kuletakkan piring itu dimeja belajarnya, setelahnya aku pergi menuju balkon untuk makan disana saja. Aku hanya tidak ingin makan dikamar Livia saja, lagipula Livia terlihat begitu serius dengan yang sedang dilakukannya itu. Aku tidak ingin mengganggunya.
"Ngelamun" ucap Livia
Tersadar aku dari lamunanku itu.
Livia duduk disampingku itu dan hening dalam waktu yang lama, sampai akhirnya Livia memulai obrolan, "Ndre, aku mau nanya nih sama kamu" ucap Livia
"Kebetulan banget aku lagi gak mau jawab apapun" ucapku
Livia memukul lenganku dan wajahnya itu terlihat kesal,
Aku menahan tawaku, "Iya apa? Kamu mau tanya apa?" ucapku, tersenyum simpul
"Ndre, kamu kalau ngelihat aku tuh apa yang dipikirin? Emang aku bikin nafsu gitu ya, tatapan cowok - cowok yang ngelihat aku tuh kayak nembus bajuku aja gitu. Bentar lagi aku tunangan. Aku ngerasa masih gak pantes aja gitu tunangan sama Haikal" ucap Livia
"Kamu harus tunangan sama dia. Gak banyak cowok diluar sana yang mau serius" ucapku
"Gak usah mikirin yang lain - lain" ucapku
Kembali hening.
"Setiap orang itu punya jalan kesalahannya masing - masing" ucapku
"Tumben kamu bijak" ucap Livia
"Sawah tuh dibijak" ucapku
__ADS_1
"Bajak" ucap Livia
Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya aku diwisuda. Terlihat banyak penyesalan dimata Livia, banyak dari temannya yang diwisuda, sedangkan Livia masih harus mengulang dan kulepas topi wisudaku, setelah itu kupakaikan dikepalanya itu. Livia menatapku berbinar. Setelah diwisuda, aku masih dikosanku. Aku mengirimkan lamaranku keberbagai tempat.
Aku memainkan gameku dengan bosan. Pintuk yang tadinya sedikit terbuka menjadi begitu lebar, ternyata Livia yang melakukannya dan kulihat Livia terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya itu, Livia memang selalu tampil cantik disetiap harinya, tidak peduli dengan pakaian apapun yang dipakainya. Livia berdiri didepan pintu kamarku dengan tangannya yang terus memegang gagang pintu. Kuhentikan gameku itu. Kuletakkan joystickku dikeyboard laptopku.
"Keluar yuk sekarang" ucap Livia
"Sekarang?" ucapku
"Iya. Cepetan" ucap Livia
"Emang kita mau kemana?" ucapku, bingung
Wajahnya sedikit kesel, lalu menghela nafasnya pelan, "Punclut" ucap Livia, tersenyum manis
"Cepetan" ucap Livia
"Iya" ucapku
Aku tidak pernah pergi jauh dari lingkungan kosan atau kampusku, berbeda dengan Livia yang sudah berkeliling kota Bandung, bahkan rasanya semua tempat sudah pernah didatanginya. Kuambil jaket yang kugantung. Kita berjalan menuruni tangga, lalu saat didepan kosan aku terdiam, kemudian Livia menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya itu kearahku.
"Liv" ucapku
"Kalau jauh minjem motor aja?" ucapku
Livia berjalan kearahku, lalu langsung menggandeng tanganku, sedangkan aku hanya menurut saja dengannya, "Punclut. Deket kok gak sampai besok juga kan kalau jalan kaki" ucap Livia, tersenyum simpul
"Lagian enakan jalan kaki. Sensasinya beda aja gitu sama pakai motor, ya sesekali jalan kaki gakpapa" ucap Livia
__ADS_1
"Tumben banget kamu ngajak jalan - jalan pas malem - malem gini" ucapku
"Gak tau nih aku pengen aja ngajak kamu. Biar ada kenangan diantara kita" ucap Livia
Aku langsung menoleh kearahnya, "Jadi selama ini kita gak ada kenangan ya?" ucapku, menahan tersenyum
"Gak gitulah. Aku pengen yang lebih berkesan aja dibandingkan sama semua yang pernah kita lewati" ucap Livia
"Alasan sebenernya aku gak tahan aja sih dikamar terus belajar sama ngerjain tugas, lagian kamu juga lama - lama bosen juga dikamar terus gitu kan?" ucap Livia
"Iya sih" ucapku
Kita melihat langit dengan lebih jelasnya. Bintang - bintang bertebaran dan bersinar terang dilangit. Kita duduk bersebelahan, sampai kedua lengan kita menempel satu sama lainnya dan malam itu, aku bisa melihat pantulan bintang - bintang dimatanya yang indah itu. Malam itu sangat dingin. Saat menghembuskan nafasku, aku bisa melihat kepulan asap putih, aku menggerakan tanganku yang rasanya kedinginan, Livia melihat yang kulakukan itu, setelahnya Livia menggenggam erat tanganku. Livia juga kedinginan.
Livia menyandarkan kepalanya dipundakku. Kulihat Livia memejamkan matanya itu sebentar, kuperhatikan rasanya banyak orang yang datang itu bersama dengan pasangannya, atau dengan seseorang yang spesial dalam hidupnya, sedangkan aku malah bersama dengan seorang teman depan kamarku yang sebentar lagi akan bertunangan.
"Liv malah tidur" ucapku
"Tiduran bentar" ucap Livia, tersenyum manis
"Kamu mau kita nanti mati beku disini? Dingin banget disini, pulang yuk udah malem banget" ucapku
"Aku lagi pengen nikmatin momen ini" ucap Livia
"Bentar lagi ya" ucap Livia
"Yaudah sebentar lagi" ucapku
"Nah gitu" ucap Livia
__ADS_1
"Iya" ucapku