
Siapa itu?
Ada yang mengetuk pintu apartemenku.
Kubuka pintuku, setelah itu kulihat tepat didepanku ternyata adalah Livia, saat itu aku menoleh kekanan dan kekiri, tidak ada siapapun yang bersama dirinya itu. Kupersilahkan Livia masuk.
Kita duduk berhadapan. Aku melipat tanganku, sedangkan Livia melihat pemandangan disekitarnya.
"Ndre" ucap Livia
"Dari dulu aku emang buat kamu kesel terus ya, dateng kekamarmu. Sekarang dateng keapartemenmu" ucap Livia, tersenyum tipis
Aku menatapnya lekat, "Liv, kamu ngapain kesini? Kamu kan udah tunangan. Gakpapa gitu?" ucapku
"Aku udah bilang sama Haikal" ucap Livia
"Beneran. Kamu kayak gak percaya gitu" ucap Livia
"Yaudah" ucapku
Aku berjalan menuju kulkasku, lalu mengambil sekotak susu dan menuangkan kegelas untuknya. Kuletakkan gelas itu didepannya. Setelah itu, aku mengoleskan selai cokelat diroti tawar, saat sudah selesai mengolesi semua bagian roti dengan tanpa bebannya Livia mengambil itu, Livia memang sering begitu. Kuperhatikan. Livia terlihat lebih dewasa dibandingkan saat berkuliah dulu. Atau, saat terakhir kalinya aku melihatnya dicafe. Berbeda sekali.
Livia semakin cantik dengan rambut sebahunya itu.
Kusadari Livia terus menatapku.
"Liv" ucapku
"Apasih" ucapku
Aku memalingkan wajahku karena tidak nyaman ditatap olehnya, "Dilihatin terus. Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, ngapain kamu dateng kesini? Kamu nenggelamjn pertanyaan" ucapku
"Aku cuman mastiin sesuatu. Yang aku juga pengen tau kepastiannya" ucap Livia
"Kamu ngomong apasih" ucapku
__ADS_1
Livia menopang kedua pipinya, kemudian menatapku lekat dan saat itu membuatku kebingungan dengan tingkahnya itu, "Ndre, pengalamanku sama cowok tuh udah banyak banget, sekarang aku cuman pengen mau kamu jujur. Kamu suka aku kan, Ndre?" ucap Livia
"Kita emang gak bisa ngelihat bentuk yang sebenarnya dari cinta itu. Tapi, kita bisa ngelihat kata - kata dari cinta itu" ucap Livia, tersenyum manis
Tidak sengaja kulihat.
Saat itu, aku melihat cincin dijari manis ditangan kirinya itu. Cincin itu akan berpindah kejari manis ditangan kanannya nantinya. Langsung saja aku beranjak dari tempatku, kemudian aku berjalan dan duduk disofaku, Livia berjalan kearahku setelah itu merapikan semua buku yang ada dimejaku itu.
Livia duduk tepat disampingku.
"Liv" ucapku
Aku mengernyitkan dahiku, "Udahlah, Liv. Jalanin apa yang sekarang ini aja. Apa susahnya sih" ucapku
"Cuman kamu yang belum tau semuanya. Dihari sebelum tunangan itu, aku udah ngomong sama Haikal dan tepat dihari itu, aku ngomong sama Arlin" ucap Livia, tersenyum penuh artian
"Liv apa yang kamu rencanain sih? Kamu mau ngancurin tunanganmu?" ucapku
"Aku udah tau. Kamu gak perlu ngomong, kamu emang suka aku. Semuanya itu kelihatan dimatamu" ucap Livia
"Aku cuman pengen jujur aja sama semuanya, tenang. Aku gak punya niat buat ngancurin tunanganku. Kalau aja dulu kamu ngungkapin perasaanmu itu, ceritanya pasti akan beda" ucap Livia
"Pokoknya kamu nantinya harus dateng dinikahanku" ucap Livia
"Tergantung situasi sama kondisilah" ucapku
"Maksa banget" ucapku
"Emang" ucap Livia
"Iya" ucapku
Benarlah.
Pantas saja, Arlin terlihat beda saja belakangan. Ternyata hanya aku yang tidak tahu tentang apapun, setelah itu aku dan Livia hanya bisa terdiam, sudah hanya itu. Setelahnya Livia berpamitan denganku untuk pulang, dan kuantarkan Livia sampai depan pintu apartemenku. Kulihat Livia tidak bergeming. Aku hanya bisa terus melihatnya.
__ADS_1
Livia memelukku begitu eratnya, dan awalnya aku ragu untuk membalas pelukannya itu atau tidak, sampai pada akhirnya tanganku bergerak sendiri sedikit membalas pelukannya tersebut. Saat itu, kulihat diujung matanya itu terdapat sedikit genangan air dan kuusap air matanya itu, beberapa waktu setelahnya terlukis senyuman tipia dibibirnya.
"Ndre, aku beneran lho" ucap Livia
"Kamu harus dateng. Aku denger kamu mau dipindahtugaskan" ucap Livia
Aku memegang kedua pundakknya, lalu mengarahkan tubuhnya itu kearah agar cepat pulang, "Orang masih lama, sebulan. Kayaknya aku bisa dateng" ucapku, tersenyum simpul
"Kayaknya?" ucap Livia
"Aku usahain. Beneran. Aku pasti dateng" ucapku
"Kamu tuh ya awas aja kalau gak datang. Nanti aku bakar apartemenmu" ucap Livia, tersenyum tipis
"Sana. Tinggal bakar" ucapku
"Orang aku kan udah gak disini lagi nantinya" ucapku, tertawa kecil
Aku menggandeng tangannya, kemudian berjalan menemaninya sampai kelantai bawah dan Livia menurut begitu saja, "Kamu bisa nurut gini kalau sama aku" ucapku, mengernyitkan dahiku
"Kalau sama orang lain bisa galak banget" ucapku
"Saking nurutnya kalau kamu gak bolehin aku nikah sekarang, aku bakalan batalin nikahku" ucap Livia, tersenyum manis
"Gak lucu, Liv" ucapku
"Sekarang silahkan pulang" ucapku
"Anterin sampai mobilku. Masa cuman sampai sini" ucap Livia
"Kepalaku mau meletus ngadepin kamu, Liv" ucapku
"Banyak permintaan gini" ucapku
"Itulah aku" ucap Livia
__ADS_1
"Iya" ucapku