"Kalau"

"Kalau"
Part 5 - Kesepian


__ADS_3

Tidurku yang nyenyak diganggu oleh seseorang yang dari tadi mengetuk pintu kamarku, kubangun dari tidurku dan kubuka pintu kamarku, kulihat didepanku itu Livia yang tersenyum kecil padaku. Kututup saja pintuku Livia kembali mengetuk pintu kamarku terus menerus. Kubuka pintu, dan akupun kembali lagi tertidur. Livia menepuk pipiku dengan kerasnya, sampai aku melemparkan guling padanya, kupikir bukan tepukan lagi karena terlalu sakit mungkin itu tamparan.


Kulihat jam kecilku dimeja belajarku, pukul 12 malam.


Livia memegang tanganku, lalu memberikanku lampu dengan tanpa dosanya, "Pasangin. Cepetan" ucap Livia, tersenyum simpul


Aku berjalan dengan malasnya menuju kamarnya itu. Kamarnya itu semuanya tersusun rapi dan wangi seperti perempuan pada umumnya. Kunaiki kursi yang sudah diaturnya itu, kuputar lampu yang konslet itu, setelahnya kuganti dengan lampu baru. Disaat aku akan berjalan keluar kamarnya, tanganku itu ditarik olehnya dan kuacak - acak rambutku, aku benar - benar mengantuk.


"Temenin. Tugasku banyak ini. Tidur dikamarku aja" ucap Livia


Awalnya aku duduk dipinggir kasurnya, kemudian mataku terasa berat dan akhirnya aku tidur saja dikasurnya itu. Disepertiga malam, aku terbangun lalu kusadari disebelahku itu, Livia. Saat aku menatap wajahnya itu, Livia menyampingkan tubuhnya dan saat itu wajahku bertatapan langsung dengan wajahnya, kuselipkan rambut dipelipisnya itu kebelakang telinga. Aku masih tidak percaya, bahwa ada seorang perempuan cantik seperti dirinya.


Aku tidak bisa tidur sampai matahari terbit.


Sampai dengan Livia bangun, aku masih berada disana dan saat Livia beranjak dari tempatnya, barulah aku bisa berjalan keluar kamarnya. Hari ini aku ada jadwal kuliah. Aku bergegas menuju kamar mandi. Livia juga sepertinya ada jadwal kuliah juga. Akhirnya aku dan Livia berangkat bersama, tidak biasanya aku berjalan bersama dengannya, biasanya Livia dijemput oleh seseorang yang aku tidak tahu siapa, atau bersama dengan temannya itu.


Aku mengantuk sekali saat kuliah berlangsung. Selesainya jam perkuliahan itu, aku langsung saja berjalan menuju kantin, tiba - tiba Livia duduk disebelahku dengan meletakkan piringnya itu dimejaku. Aku yang sendirian tidak merasa keberatan dengan kehadirannya. Kulihat disekeliling kantin, teman - temannya itu tidak kulihat, makanya Livia memilih duduk denganku, dasar. Gedungku dan gedung fakultasnya itu memang cukup dekat, jadi memang ada kemungkinan aku bertemu dengannya, tapi aku tidak mengerti kenapa bisa sering sekali bertemu dengannya.


"Liv" ucapku

__ADS_1


"Heran aku, dikampus yang luas ini, kenapa aku selalu ketemu kamu?" ucapku


"Kamu gak mau ketemu aku?" ucap Livia, menatapku tajam


"Bukan gitu" ucapku, tersenyum simpul


Livia menyikut lenganku dengan pelannya, "Harusnya kamu seneng bisa duduk sama aku yang cantik gini. Lihatin tuh gak ada yang duduk sama cewek cantik" ucap Livia, melihat sekitar


"Udah pergi berarti ceweknya makanya gak ada" ucapku


Kuperhatikan. Sendoknya itu hanya dimainkannya saja, dan kuambil sendoknya itu, lalu kumakan nasi gorengnya, "Aku boleh minta kan?" ucapku, tersenyum simpul


"Bilangnya pas udah makan" ucap Livia


"Aku lagi gak pengen aja. Nanti malem kita nonton yuk dilaptopmu. Aku ada film" ucap Livia, tersenyum manis


"Malem?" ucapku


"Kamu ada acara ya? Mikirnya lama gitu" ucap Livia, kecewa

__ADS_1


"Gak" ucapku, tertawa kecil


"Ngeselin. Kirain ada acara apa gitu" ucap Livia


"Iya, aku bisa" ucapku


Dimalam hari, kubuka gerbang kosanku dan berjalan menuju kamarku, kulihat Livia duduk tertidur didepan kamarku, kupegang lengan atasnya lalu kugoyang pelam tubuhnya, Livia yang terbangun langsung memalingkan wajahnya. Livia terlihat kesal. Kubuka pintu kamarku. Livia berjalan menabrak lenganku, kemudian duduk dipinggir kasurku dengan wajahnya yang cemberut, sampai akhirnya aku menekuk lututku didepannya. Aku juga tadinya sudah ingin pulang, malah diajak temanku pergi menemaninya fotocopy, entahlah salah siapa malam itu. Karena terlalu lama menemani temanku itu, aku kabur saja saat temanku itu lengah dan meninggalkannya ditempat fotocopy sendirian.


"Aku telat bentar" ucapku, tersenyum simpul


Livia menutup wajahku dengan telapak tangannya, "Aku nunggunya sampai ketiduran. Untung kamu telat, kalau sampai gak bisa aku bakalan marah banget, soalnya kamu udah bilang bisa" ucap Livia, kesal


"Iya. Maaf" ucapku


Kuhidupkan laptopku. Livia mengambil laptopku, lalu berjalan menuju kekamarnya dan aku berjalan mengikutinya dibelakang, kita menonton film itu dikasurnya. Rasanya aku lebih tertarik melihat wajahnya daripada film itu, kita menontonnya dengan berbaring, karena terlalu menghayatinya kulihat air matanya itu mengalir pelan dipipinya. Kuambil tisu didekatku, lalu mengusap air matanya itu, kenapa aku ikut sedih saat melihat air matanya itu? Padahal aku tidak mengikuti film itu, kebanyakan aku hanya menatap layar dengan tatapan kosongku. Aku mengantuk.


"Filmnya sedih banget" ucap Livia


Livia mengambil tisu, dan kembali mengusap air matanya itu, "Dasar cowok, masa gak sedih sih. Sedih banget tau" ucap Livia, memalingkan wajahnya itu

__ADS_1


"Jangan - jangan kamu gak nonton ya?" ucap Livia, melirikku


"Nonton nih lihatin" ucapku, melotot


__ADS_2