"Kalau"

"Kalau"
Part 10 - Sesuatu Yang Tidak Diketahuinya


__ADS_3

Semenjak sekali bertukar posisi itu, sesekali aku menggantikan Sandi, misalkan ada sesuatu seperti tidak bisanya Sandi dalam bernyanyi, atau keperluan mendadak lainnya, maka aku yang akan menggantikannya. Terlalu seringnya tampil dicafe, membuatku hafal siapa saja orang yang sering datang dicafe, serta kegiatan apa yang dilakukannya itu. Begitulah, kebanyakan dicafe aku melihat sepasang kekasih yang sedang berkencan, selain itu biasanya pertemuan antar teman, ada juga seseorang yang menyendiri.


Setelah turun dari panggung. Aku duduk disalah satu meja dicafe, dan tidak jauh dariku, kulihat pacarnya Livia sedang duduk bersama seorang perempuan, rasanya mereka bukan hanya sekedar teman, tidak ada pertemanan yang terus saling memegang tangan satu sama lainnya. Aku berjalan melewati mereka. Ditengah perjalanan, aku mampir diminimarket dan saat berbelanja, aku membeli dua sosis bakar. Sampainya dikosan, aku melihat Livia yang sedang duduk dipinggir kasurnya, aku melihatnya karena pintu kamarnya itu terbuka.


"Ndre, aku bosen nih, ngapain yuk?"" ucap Livia


Livia melemparkan handphonenya dikasurnya, "Pacarku gak tau kemana, ngilang gitu gak bisa dihubungin. Dia kemana ya? Gak jawab terus dari tadi" ucap Livia cemberut


"Lagi sibuk kali" ucapku


Aku mengambil sosis bakarku diplastik yang kubawa, setelahnya plastik itu kuberikan padanya, "Nih sosis bakar, aku beli dua" ucapku, membuka bungkus sosis bakarku


"Kok kamu tau aku lagi dikos, kalau aku lagi pergi gimana coba?" ucap Livia, tersenyum manis


"Yaudah. Tinggal aku makan dua - duanya. Masalah selesai" ucapku


"Didepan kamar yuk makannya" ucap Livia


"Yuk" ucapku


Livia menarik tanganku, sembari menatap tajam padaku, "Yuk terus aja sampai besok. Orang diem aja gitu gak gerak" ucap Livia, kesal


"Ini juga mau gerak" ucapku


"Bohong banget. Orang tadi kayak gak ada niatan jalan gitu" ucap Livia


"Liv, berprasangka buruk itu gak baik" ucapku, tertawa


"Orang kenyataan. Udah gak berprasangka lagi itu mah" ucap Livia

__ADS_1


"Iya ini lagi jalan" ucapku


Didepan kamar itu memang terdapat meja dan kursi, serta televisi yang jarang ditonton oleh penghuni kosan, setelah kuhidupkan televisi itu kulihat Livia sudah memegang remote. Kuambil botol minumannya itu, lalu kubukakan tutupnya itu. Kuperhatikan diujung bibirnya itu terdapat sedikit saus, dimeja itu ternyata ada tisu dan langsung saja kuambil selembar tisu itu, setelahnya kuberikan padanya. Livia memegang ujung bibirnya dan tidak mengambil tisu yang kuberikan.


Livia mendekatkan wajahnya itu padaku, akhirnya aku membersihkan saus diujung bibirnya itu.


"Gak bisa bersihin sendiri apa?" ucapku


Livia menatapku lekat, kemudian tersenyum penuh artian saat itu, "Pantesan kamu gak pernah pacaran. Emang gak peka, kalau ceweknya tadi gitu harusnya dibersihin masa cuman dikasih tisu" ucap Livia


"Cowok tuh semua sama ya gak peka" ucap Livia


"Lah aku juga bakal ngelakuin itu kalau kamu pacarku, kamu kan bukan pacarku gimana sih" ucapku


"Alesan" ucap Livia


"Nyesel aku beliin kamu sosis bakar sama minuman" ucapku, tersenyum simpul


Aku terdiam dibuatnya, "Pas aku sakit aja bela - belain pulang cepet" ucap Livia, menatapku genit


"Iyalah. Kalau kamu kenapa - kenapa bukan cuman aku yang repot, satu kosan juga nanti repot" ucapku


"Terharu aku ada cowok yang perhatian banget gitu, pacarku aja gak segitunya, padahal udah aku kasih tau. Dia cuman nyuruh istirahat udah gitu aja. Kalau kamu sampai beliin bubur" ucap Livia


"Makanya kamu jangan sakit, biar aku gak repot gitu. Bantu aku, kamu harus sehat terus" ucapku


"Harusnya kamu yang jadi pacarku" ucap Livia, tertawa kecil


"Putusin dulu pacarmu itu" ucapku

__ADS_1


"Alah nanti pas udah aku putusin, kamunya yang gak mau jadi pacarku" ucap Livia, meninju lenganku


"Kayaknya" ucapku


Livia mencubit lenganku dengan keras, kupegang lenganku itu. Sakit sekali rasanya. Setelah itu, Livia berjalan masuk kekamarnya dan kubuang semua sampah yang ada dimeja ketempat sampah terdekat. Aku berjalan menuju kamarku. Aku duduk dikursi meja belajar tanpa melakukan apapun. Kudengar dengan cukup jelas Livia sedang menelpon pacarnya itu.


"Kamu kemana aja? Pesanku gak dibales" ucap Livia


"....................."


"Jangan ngilang gitu, ngeselin. Aku sampai kesel sendiri gara - gara nungguin balesan kamu" ucap Livia


"....................."


"Yaudah. Besok aku dijemput ya" ucap Livia


Setelah itu, kudengar suara pintu kamarnya ditutup. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berjalan menuju balkon, berbeda dengan saat pagi atau siang yang jalanan depan kosan dilewati oleh banyak kendaraan, dihampir sepertiga malam hanya ada satu atau dua kendaraan saja yang melintas. Tidak ada suara lain selain udara yang berhembus. Semua orang pastilah sudah bermimpi.


"Ndre, kamu ngapain disini?" ucap Livia


"Gak tau. Pengen aja" ucapku


Livia duduk disampingku, lalu menopang dagunya itu, sembari memaksa matanya terjaga, "Aku kebangun. Mau tidur lagi gak bisa, pas keluar kamar aku ngelihat pintu balkon kebuka" ucap Livia


"Yaudah aku kesini aja jadinya" ucap Livia


"Kamu dateng aku langsung ngantuk" ucapku


"Orang mau aku temenin juga malah ditinggal" ucap Livia

__ADS_1


"Ngantuk banget aku" ucapku


"Jahat" ucap Livia


__ADS_2