"Kalau"

"Kalau"
Epilog


__ADS_3

"Ndre" ucap Arlin


"Aku gak bisa lagi" ucap Arlin


"Ternyata emang bener yang selama ini aku duga, aku gak pernah salah, kalian sebenernya itu saling suka, tapi gak tau kenapa kalian itu udah punya pasangan masing - masing" ucap Arlin


Arlin meneteskan air matanya itu, "Aku gak bisa terus gini. Orang yang aku cintai ternyata hatinya itu bukan buat aku" ucap Arlin, menatapku lekat


Aku tidak bisa berkata apapun dan hanya bisa terdiam mematung saja.


"Kamu gak mau ngomong apa gitu? Semuanya itu bener kan?" ucap Arlin, pelan


"Maafin aku, Lin. Maaf" ucapku


"Jadi itu bener" ucap Arlin


"Maaf" ucapku


Setelah kepergiannya itu. Aku menyempatkan untuk datang dikosan saat masih berkuliah, aku berjalan melewati dua kamar yang penuh dengan kenangan itu. Dibalkon, aku menatap lurus kedepan dengan kosong.


Sebelum aku pergi keluar pulau Jawa, aku ingin mengunjungi semua tempat yang berkesan di Bandung. Setelah dikosan, kusempatkan juga datang kecafe yang dulu aku sering tampil disana, dicafe itu masih ada dua temanku. Sandi dan Rendi menatapku saat mereka tengah tampil dipanggung. Aku hanya tersenyum simpul duduk menikmati penampilan mereka.


Rendi turun dari panggung dan menarik tanganku, aku dipaksa tampil olehnya. Sandi menganggukkan kepalanya.


"Kita semua pasti pernah jatuh cinta. Pasti ada dari kita yang gak bisa ngungkapin perasaannya sama orang kita cintai. Dan, saat kita beneran mau ngungkapin semua itu, ternyata orang yang kita cintai itu udah bersama yang lain, atau pergi ninggalin kita. Sampai akhirnya kita cuman bisa mengenang, saat - saat kita dulu bersama orang yang kita cintai itu" ucapku


"Mungkin lagu ini bisa mewakili" ucapku


"Peterpan - semua tentang kita" ucapku


Ingatanku tentang Livia berputar begitu saja. Dari sejak awal pertemuanku dengannya, tingkah lakunya dan semua tentangnya itu aku masih mengingatnya dengan jelas. Saat itu, Sandi mungkin merasa aku tidak mengetahui apapun tentang hubungannya dengan Arlin, biarlah.


Arlin mungkin juga tidak harus memberitahunya bagaimana.

__ADS_1


Dimalam sebelum aku berangkat ke luar pulau, karena aku dipindah tugaskan, aku tidak sengaja melihat Arlin dan Sandi bergandengan tangan, kehidupan memang selalu menakjubkan. Semoga Arlin bahagia dengan orang yang bersamanya itu. Kuharap. Selama ini aku tidak bisa membahagiakan Arlin dan hatiku ternyata sejak dulu memang untuk Livia, seharusnya sebelum semua terjadi seperti sekarang ini aku mengungkapkan perasaanku. Penyesalan yang terus kurasakan.


Dipesawat, sebelum lepas landas aku mengeluarkan handphoneku, lalu menghapus nomer Livia. Kumatikan handphoneku itu.


Tidak terasa sudah tiga tahun aku bekerja diluar pulau Jawa, hari itu aku diminta untuk melaporkan hasil pekerjaanku ke Jakarta, dan selesainya, aku langsung berjalan pergi dari ruang rapat. Didepan kantor pusatku itu, aku melihat Livia yang berdiri didepanku dan kita berdua terdiam mematung saling menatap,


"Andrea" ucap Livia


"Maaf ya Ndre" ucap Livia


"Sayangnya aku harus buru - buru pergi, semoga kita bisa ketemu lagi nanti, sebenernya aku pengen banget ngobrol sama kamu sekarang. Tapi, aku gak bisa" ucap Livia


Livia mengeluarkan handphonenya, lalu memberikannya kepadaku, kemudian aku menggelengkan kepalaku pelan, "Aku gak mau kamu nyimpen nomerku. Kamu udah bahagia. Biarin aku terus jadi masa lalumu" ucapku, tersenyum simpul


"Tenang Ndre, kamu hanya kehilangan orang yang kamu cintai. Tapi dia, kehilangan orang yang benar - benar dicintainya" ucap Livia


"Ndre, aku boleh peluk kamu?" ucap Livia


Saat itu, aku belum sempat menjawabnya. Livia sudah memelukku erat.


Aku berjalan pergi meninggalkannya disana sendirian.


Rasanya Livia sudah mempunyai keluarga yang bahagia, bahkan mungkin juga sudah mempunyai buah hati dari suaminya itu. Aku tidak ingin hadir diantara mereka, sudah cukup aku berada dikeadaan yang tidak tepat. Biarkan aku sendiri untuk saat ini. Aku percaya, suatu saat aku bisa bersanding dengan seseorang yang tepat denganku, walaupun rasanya pastilah akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, lama. Aku akan menunggu.


Satu tahun setelah pertemuanku dengannya, aku duduk disamping gundukan tanah yang bertabur banyak bunga, dibelakangku itu berdiri Haikal dan Arlin, kemudian ada seseorang yang berada disamping Arlin. Temanku, Sandi.


Kulihat tulisan dibatu nisan itu. Tertulis nama Livia.


Disaat semua orang sudah pergi, aku masih tetap berada disamping gundukan tanah itu. Aku hanya bisa terdiam. Kusudahi kesedihanku itu, karena lagipula pastilah Livia tidak ingin melihat semua orang bersedih karenanya, aku berjalan menjauhi tempat peristirahatan terakhirnya tersebut.


Dikejauhan sana, kulihat Arlin sedang sendirian, Sandi baru saja berjalan pergi meninggalkannya.


Kuberjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Lin" ucapku, pelan


"Aku mutusin kamu bukan karena Livia. Aku cuman pengen kamu bisa netapin hatimu itu buat siapa. Selama ini aku belajar, ternyata kita emang bisa cinta lebih dari satu orang, tapi itu gak bisa kita lakuin disaat yang bersamaan" ucapku


"Kamu udah tau hubunganku sama Sandi?" ucap Arlin


Aku tidak ingin menjawab itu.


Kuberjalan melewatinya yang terdiam mematung disana.


Tidak jauh darinya. Kubalikkan tubuhnya, kemudian menghela nafasku pelan, "Semoga kalian bisa bahagia. Cuman itu pesenku, Lin" ucapku


"Makasih, Ndre" ucap Arlin


Beberapa waktu setelahnya ada mobil yang menghampiriku dan Arlin, kemudian kacanya itu terbuka, Sandi. Arlin berjalan memutari mobil itu, kemudian membuka pintu kursi depan mobil itu. Semua orang sudah pergi. Aku berjalan menuju mobilku yang kuparkirkan sedikit jauh, sesampainya disana kulihat ada Haikal yang sedang berdiri disamping mobilku.


"Ndre" ucap Haikal


"Aku harus ngasih tau ini sama kamu" ucap Haikal


Haikal memegang pundakku dan menatapku begitu lekat, tatapannya itu penuh artian, "4 tahun lalu aku sama Livia cerai, aku gak bisa buat Livia berpaling dari cintanya sama kamu dan aku juga gak bisa terus mertahanin semua itu" ucap Haikal


"Aku cuman pengen ngasih tau itu aja. Udah gitu aja, semuanya itu kayak emang udah jalannya, Ndre" ucap Haikal


Ucapannya itu membuat duniaku terasa berhenti saat itu.


Aku teringat kembali kata - kata terakhirnya itu. "Tenang, Ndre, kamu hanya kehilangan orang yang kamu cintai. Tapi dia, kehilangan orang yang benar - benar mencintainya" ucap Livia


Saat itu, Livia ingin memulai hubungan denganku. Tapi, aku yang walaupun saat itu juga berharap, justru hanya memikirkan Haikal yang kupikir terus akan menjadi suaminya itu, ternyata ada faktor tidak terduga saat itu. Mereka sudah bercerai jauh sebelum aku bertemu dengan Arlin terakhir kali. Tidak ada kehadiran buah hati diantara mereka. Semua itu karena mereka tidak pernah melakukannya.


Pada akhirnya disuatu waktu, kita hanya bisa bermimpi, bahwa kalau saja kita bisa kembali ke masa lalu, kalau saja kita bisa mengubahnya, tapi semua itu hanya akan terus menjadi mimpi yang selamanya tidak akan terjadi.


Hanya kata kalau yang bisa menjelaskan semua itu.

__ADS_1


Iya benar, kalau.


TAMAT


__ADS_2