
"Ndre" ucap Livia
"Nanti pasangin gitu ya diatas kamarku" ucap Livia
"Pasang apa sih?" ucapku
"Nanti juga tau. Udah kamu selesaiin dulu tugasmu itu. Awas ya gak usah dilama - lamain" ucap Livia
Livia berjalan melewatiku, "Aku tungguin nih" ucap Livia, menunjuk dua matanya setelah itu menunjuk mataku
"Gak enak banget ngerjain tugas ditungguin orang" ucapku
"Yang kerja tangannya ya bukan mulutnya" ucap Livia
Sebenarnya, Livia adalah orang yang paling dekat denganku, tidak ada orang lain yang begitu dekatnya seperti aku dan Livia, seperti biasanya aku sedang didepan laptopku, sedangkan Livia tiduran dikasurku. Dengan baju tipis dan celana pendek. Kuperhatikan Livia terus mengetik pesan dihandphonenya itu, terkadang tertawa sendiri, setelah itu kesal membanting handphonenya dikasurku.
Livia duduk dikasurku, kemudian melipat tangannya dan wajahnya itu sedikit terlihat kesal. Tidak berapa lama, saat aku menoleh kearahnya, Livia sedang membenamkan kepalanya dibantalku. Aku hanya tersenyum saja saat melihatnya Sampai akhirnya satu tangannya dijadikannya bantal, kemudian matanya itu menatap langit - langit kamarku, dan satu tangannya lagi, bergerak tidak jelas kearah langit - langit kamar. Livia menghela nafasnya pelan.
"Ndre, cowok tuh semua sama aja gak sih, gak peka" ucap Livia
Aku terus saja mengetik, karena tugasku belum selesai, "Emang makanya aku gak suka cowok" ucapku, tersenyum simpul
"Pinter banget jawabnya" ucap Livia
Aku menutup laptop dan kujadikan bantal, "Akhirnya selesai juga. Kalau gak dengerin curhatmu tadi pasti aku udah selesai cepet" ucapku, bergumam
__ADS_1
"Nyalahin orang, kamu aja yang gak bisa ngerjainnya. Kata temenku yang sekelas sama kamu, katanya kamu pinter gitu dikelas" ucap Livia
"Siapa yang bilang? Pinter apanya, pengen aku lempar pakai laptopku orangnya" ucapku
"Adalah. Kayak berani aja" ucap Livia
"Gak beranilah, gila. Ada gitu orang dilempar laptop" ucapku
"Kamu coba sana. Biar ada" ucap Livia
"Ajarin dulu" ucapku
Aku memegang tangannya itu dan Livia menurut saja, sampai dikamarnya barulah aku melepas tangannya itu, kemudian aku duduk dipinggir kasurnya, lalu kuulurkan tanganku kepadanya. Livia menatapku kebingungan. Setelah itu, Livia berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil sesuatu dilacinya, kemudian diberikannya ditanganku lalu kubuka apa isinya itu. Aku harus menaiki kursi untuk menempelkan bulan dan bintang yang bisa menyala saat lampu kamarnya itu dimatikan. Kuambil kursi meja belajarnya, lalu kuarahkan kedekat kasurnya itu, agar saat berada dikasurnya itu matanya tertuju pada bulan dan bintang yang ada dilangit - langit kamarnya.
Tanganku sampai pegal memasangnya. Livia mudah saja menunjuk - nunjuk dimana aku harus menempelkannya, kakiku juga pegal saat harus terus berjinjit, akhirnya selesai juga dengan susah payahnya. Aku tertidur dikasurnya itu. Setelahnya, aku kembali memasang lampu hias yang bisa berkelap - kelip dindingnya itu, seperti biasanya Livia hanya terdiam, bahkan sedikitpun melihatku. Kunyalakan lampu itu, dan berkelap - kelip, warnanya itu jingga. Setelahnya, kumatikan lampu itu.
"Nah gitu, jadi kan kalau aku mau tidur, bisa lihat ada pemandangan yang bagus gitu" ucap Livia
"Coba matiin lampu kamar" ucap Livia
"Nantilah nyimpen cahaya dulu gimana sih gak sekarang juga" ucapku
"Gitu ya yaudah" ucap Livia
Livia berjalan menuruni tangga dan karena aku bosan berada dikamarnya itu, aku berjalan menuju kebalkon, saat aku sedang melamun tanpa kusadari Livia membawa dua mangkuk, lalu meletakkannya dimeja yang ada dibalkon. Livia memukulkan sendok dimangkuk. Aku berjalan menuju kearahnya, sembari tersenyum simpul melihat uap panas yang ada dimangkuk, kuambil satu mangkuk itu lalu memakan mie yang dibuatnya itu.
__ADS_1
Tidak biasanya, Livia membuatkan sesuatu untukku. Walaupun pernah juga, Livia membuat kue yang setelah jadi dibagikan kepada seluruh penghuni kosan. Malam itu hanya terdapat sedikit bintang, padahal biasanya langit dipenuhi oleh banyak bintang dan bulan bersinar, kulihat awan menutupi bulan jadinya tidak bisa bersinar dengan terangnya. Malam ini berbeda.
"Kamu ngelamun tadi?" ucap Livia
Aku menoleh kearahnya dan mengangkat pundakku, "Gak tau. Kayaknya aku cuman lagi lihat langit aja, pas dilihat orang aku lagi ngelamun ya" ucapku
"Kamu kalau ngelamun gitu yang dipikirin apa sih?" ucap Livia
"Mikir cepet lulus, habis itu kerja. Habis itu ngapain ya. Pengen cepet - cepet lulus aja sih" ucapku, tersenyum simpul
"Kamu sendiri, kalau ngelamun mikirin apa?" ucapku
"Aku takut mati" ucap Livia
"Semua orang juga takut mati" ucapku
"Aku pengen jalanin hidup dengan bahagia. Hidupku ancur gini, pengen gitu ketemu orang yang bisa bimbing aku, biar hidupku bener gitu" ucap Livia, tersenyum simpul
"Semua orang juga pengen jalanin hidup dengan bahagia" ucapku
"Ndre, berantem aja yuklah. Bener sih, cuman aku kayak kesel aja dengernya, bilang semua orang terus" ucap Livia, menatapku kesal
"Udah capek - capek masakin juga" ucap Livia
"Makasih lho udah dimasakin" ucapku
__ADS_1
"Enak gak?" ucap Livia
"Enak" ucapku