
Begitulah.
Kehidupan selalu menghadirkan suatu hal yang menakjubkan.
Aku tidak pernah menyangka, kalau aku bisa bekerja digedung yang menjulang di Jakarta, dan mempunyai apartemen, semuanya terasa seperti hari kemarin dimana aku baru lulus dari kampusku. Aku mengajak Arlin kegedung tempatku bekerja. Kuberjalan dan menggandeng Arlin saat menaiki tangga menuju lantai paling atas.
Dirooftop. Aku bisa melihat pemandangan yang ternyata jauh lebih menakjubkan. Arlin saat itu memang takjub, tapi entah mengapa Arlin tidak sebahagia seperti Livia saat bersamaku dibalkon dikosanku dulu. Arlin tidak terlalu tertarik dengan pemandangan itu. Aku yang awalnya tersenyum, perlahan menghilangkan senyuman itu. Harusnya aku tahu, kalau Arlin itu Arlin.
Dan, Livia itu Livia.
"Kamu ngapain ngajak aku kesini?" ucap Arlin
Aku berusaha keras tersenyum didepannya, "Gak tau. Bagus aja pemandangannya" ucapku
"Aku anterin kamu pulang ya, hari ini aku kan libur" ucapku
"Beneran?" ucap Arlin
Aku menoleh kearahnya, lalu menatapnya begitu lekat, "Kamu sengaja kan? Gak bawa mobilmu, biar aku bisa anterin kamu pulang. Nanti kita jalan - jalan ya di Bandung" ucapku
"Kamu tau aja" ucap Arlin
"Udah jelas" ucapku
Setelah dari gedung tempatku bekerja, aku langsung mengantarkan Arlin pulang ke Bandung dan selama diperjalanan, saat itu aku tidak memikirkan apapun. Mataku hanya tertuju pada jalanan. Sesampainya diperbatasan saat akan memasuki kota Bandung. Aku tiba - tiba memikirkan Livia.
"Kayak yang kamu janjiin kan? Kita jalan - jalan" ucap Arlin
Aku menatapnya sebentar, lalu menganggukkan kepalaku dengan pelan. Memang janjiku itu.
__ADS_1
Saat sampai dikota Bandung, hujan turun deras. Aku justru semakin memikirkan Livia, bahkan saat berada dilampu merah, aku merasa Arlin yang sedang duduk disampingku itu adalah Livia. Terlebih saat Arlin melihat kaca dan saat itu Arlin membelakangiku. Kuberharap saat Arlin menoleh kearahku itu Livia. Kubelai rambutnya Arlin dengan tangan kiriku.
Arlin tersenyum manis.
"Lin. Kamu tuh ya" ucapku
"Ngelihatnya deket banget sama kaca gitu, nanti kebentur lho" ucapku
Arlin tersipu malu.
Tangan kiriku digenggam erat olehnya dan Arlin menatapku begitu dalamnya, sampai aku sedikit tersenyum melihatnya, "Apasih kamu ngelihatin aku terus" ucapku
"Sikapmu itu. Bikin aku terbang" ucap Arlin
"Beneran" ucap Arlin
"Kamu tunggu aku aja. Nanti aku balik lagi bawa oleh - oleh dari langit" ucap Arlin
"Dikira langit itu tempat wisata ada oleh - olehnya gitu, ada pusat oleh - olehnya gitu ya dilangit" ucapku
"Makanya kamu bisa terbang. Disana itu ada" ucap Arlin
"Kamu gak bisa bawa aku terbang?" ucapku
"Gaklah. Terbang sendiri aja udah susah, apalagi bawa kamu" ucap Arlin
"Kita lucu ya" ucapku, tertawa kecil
"Iya" ucap Arlin
__ADS_1
Kita sampai dicafe. Tempat dimana katanya Arlin melihatku pertama kali tampil, dan masih saja dipanggung itu ada teman - temanku. Kita yang terlalu mengingat, atau memang suatu tempat itulah yang membangkitkan kenangan kita? Aku kembali mengingat saat masa berkuliah dulu. Kenanganku yang paling banyak itu bersama dengan Livia. Aku sudah tidak menemuinya selama 3 bulan.
Dalam waktu dekat Livia pasti akan menikah.
Semua orang terlihat menikmati alunan musik dicafe, sedangkan aku hanya terdiam melihat gelasku. Apa yang terjadi kepada diriku? Semuanya terasa berjalan lancar, aku sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan, aku mempunyai Arlin. Apa yang salah? Harusnya aku bahagia.
Sesekali aku tersenyum didepan Arlin, walaupun setelah itu kembali merenung.
Arlin terus saja melihat kearah panggung.
"Lagunya bagus. Kesukaanku" ucap Arlin, tersenyum bahagia
Aku hanya melihat sekilas semua temanku yang berada dicafe itu. Saat itu rasanya aku tidak bisa mendengar musik itu dengan jelas ditelinga.
"Satu lagu lagi terus kita pulang ya" ucap Arlin
"Iya" ucapku
Kuperhatikan banyak orang itu memang melihat kearah panggung. Hanya aku yang tidak.
Saat aku menggandeng Arlin dan ingin berjalan keluar dari cafe, aku tidak sengaja melihat Livia yang sedang bersama Haikal. Mereka saling menatap mesra. Kebetulan yang tidak terduga.
Kuantarkan Arlin pulang kerumahnya. Setelah itu aku langsung kembali ke Jakarta. Aku harus bekerja besok. Selama diperjalanan pulang itu aku kembali lagi memikirkan Livia, kurasa Haikal memang benar - benar orang yang tepat yang akan hidup bersama dengannya, tidak ada lagi laki - laki lain yang bisa kupercaya. Hanya Haikal seorang yang bisa menghadapi semua sifat Livia tersebut.
Kenapa aku jadi memikirkan mereka?
Itu hidup mereka.
Aneh.
__ADS_1