"Kalau"

"Kalau"
Part 6 - Dirinya Dimataku


__ADS_3

Kabar yang beredar dikampus,


Livia itu suka mabuk - mabukan, serta beberapa bahkan mengatakannya sebagai ayam kampus dan lain sebagainya, entahlah. Malam itu, Livia tidak pulang dan sampai pagi harinya, barulah kulihat pintu kamarnya itu sedikit terbuka. Aku yang baru saja keluar kamar, disaat yang bersamaan kulihat Livia berjalan melewatiku dengan tubuhnya yang tertutup handuknya itu, setelahnya Livia menutup pintu kamarnya, sedangkan aku berjalan menuju kebalkon.


Kunikmati indahnya pagi hari, lagi - lagi langit terlihat cerah.


Livia duduk disampingku. Rambutnya itu masih terlihat sedikit basah. Terdengar perutnya berbunyi, kulihat bibirnya itu tersenyum kecil saat itu, kemudian tangannya menepuk - nepuk tanganku.


"Cari makan yuk aku laper" ucap Livia


Di Bandung. Makanan yang sering ditemui saat pagi itu pastilah bubur, nasi kuning, nasi uduk, lontong kari dan kupat tahu. Livia memilih kupat tahu, sedangkan aku yang tadinya ingin memesan nasi uduk, akhirnya kusamakan saja dengannya, dikejauhan sana kulihat matanya tertuju pada jalanan, tatapannya kosong. Aku mengambil dua teh tawa dan meletakkannya dimeja. Livia meminum sedikit tehnya, sedangkan aku membuka toples berisi kerupuk dan mengambil beberapa kerupuk untuk kumakan, tangannya dengan cepat mengambil satu kerupukku.


Setelah menunggu lama, akhirnya kulihat penjual membawa dua piring dan meletakkannya dimejaku, Livia pasti kelaparan. Livia sudah menghabiskan hampir setengah piring. Bahkan, aku seperempat saja mungkin juga belum, kegiatan apa yang dilakukannya sampai bisa selapar itu? Livia menahan tersenyum saat melihat piringku dan piringnya.


"Aku yang cepet apa kamu yang lambat ya?" ucap Livia


Aku menatapnya lekat, "Udah jelas kamu yang cepet pakai nanya" ucapku, menggelengkan kepalaku pelan


"Habis ini kita beli surabi ya" ucap Livia


"Aku aja ini belum habis udah mikir beli surabi aja" ucapku

__ADS_1


Livia hanya tersenyum.


Selesai menghabiskan kupat tahu, kita berjalan - jalan melihat banyak penjual makanan yang berbaris dipinggir jalan, saat aku ingin melangkahkan kakiku, tanganku itu ditahan olehnya dan Livia benar - benar membeli surabi. Sampai akhirnya, kita membeli banyak makanan yang dibungkus untuk dimakan dikosan, kita memakan semua itu dibalkon. Menikmati indahnya pemandangan dipagi hari. Tidak hanya pemandangan kota yang terlihat, tapi dikejauhan sana juga terlihat gunung dan diatasnya tertutup oleh awan.


"Kamu laper banget? Makan terus gitu" ucapku


Livia menatapku lekat, sembari memakan surabinya itu dengan tersenyum simpul, "Tadinya cuman mau beli surabi aja, malah jadi beli banyak. Kayaknya semua enak jadi aku beli" ucap Livia


"Tapi, emang enak sih" ucapku


"Tuh kan bener" ucap Livia


"Iya" ucapku


Tidak ada yang bisa tahu bagaimana pikiran dan perasaan seseorang.


Aku sendiri saja tidak mengenal betul siapa diriku sendiri, apalagi mengenal orang lain. Kesalahan terbesar dari mereka yang membicarakan orang lain itu, membuat kita seakan lebih benar dibandingkan orang yang dibicarakan.


Aku memasukkan semua sampah kedalam satu plastik, lalu membuangnya ketempah sampah terdekat, dan saat aku kembali, Livia terlihat murung. Matanya lurus kedepan, tapi kosong. Livia tersenyum saat mengetahui aku melihatnya melamun. Aku duduk disampingnya, lalu menusuk sedotan pada minumannya itu, setelahnya Livia meminumnya dan akupun juga begitu, aku berjalan menuju dinding pembatas dengan membawa minumanku itu. Livia berjalan mengikutiku.


"Ndre" ucap Livia

__ADS_1


"Kamu tau gosip apa aja tentangku kan dikampus?" ucap Livia, menatapku begitu lekat


Aku meletakkan minumanku didinding pembatas, "Emang kamu ada gosipnya ya dikampus? Habis kuliah aku langsung pulang, jadi aku gak tau apa - apa" ucapku, tersenyum simpul


"Kamu bohong ya banyak orang ngomongin gitu?" ucap Livia


"Kalau aku emang gak tau gimana?" ucapku


Livia menatapku terus menerus, sedangkan aku berusaha keras menghindari tatapannya itu, "Yaudah. Kalau emang beneran gak tau" ucap Livia, memalingkan wajahnya


"Ndre, kalau aku emang beneran cewek panggilan, kamu mau bayar aku berapa?" ucap Livia


"Jumlahnya aku gak tau, tapi aku akan bayar seumur hidupku. Setelah itu kamu harus nemenin aku terus, dan aku gak ngebolehin kamu dipanggil sama orang lain" ucapku, tertawa kecil


"Gakpapa asal kamu bisa bayarnya aja" ucap Livia, tersenyum simpul


"Pertanyaannya gimana cara aku dapet uangnya, orang sekarang aku masih kuliah. Lulus aja belum" ucapku


"Dasar ngomong aja bisanya gak ada aksinya" ucap Livia, tertawa kecil


"Jangan salah. Nanti kalau beneran aku bisa dapetnya, bisa gak kamu nemenin aku terus?" ucapku

__ADS_1


"Kamu meragukan aku?" ucap Livia


"Iyalah" ucapku


__ADS_2