"Kalau"

"Kalau"
Part 19 - Kebahagiaannya


__ADS_3

Katanya. Semakin kita menyadari betapa dekatnya dengan perpisahan, maka setiap waktu yang kita jalani itu terasa berkesan, atau seakan menjadi suatu kenangan, anehnya kenapa kita tidak melakukannya sejak saat bertemu saja. Kenapa harus saat mendekati perpisahaan, baru kita ingin membuat semuanya menjadi berkesan? Kalau begitu kita harusnya berpikir terus tentang perpisahan. Agar semuanya terasa berkesan.


Aku sudah menyelesaikan revisi setelah sidang akhirku, dan tinggal menunggu jadwal pendaftaran wisuda. Seharian itu, Livia hanya terdiam. Aku berdiri didepan pintu kamarnya, dan saat melihatku, Livia langsung berjalan menghampiriku dengan senyuman yang terlukis dibibirnya itu. Kita saling bertatapan. Setelah bertahun - tahun aku baru menyadari, ternyata Livia semakin cantik saja disetiap harinya, selama ini aku tidak pernah memperhatikan itu.


"Ndre" ucap Livia


"Aku mau meluk kamu ya" ucap Livia


Aku belum menjawabnya, Livia sudah merentangkan tangannya, lalu memelukku dengan penuh perasaan, "Bentar lagi kamu diwisuda. Waktu jalannya cepet ya, gak peduli gimana caranya kamu pamit dari aku tetep aja itu perpisahan" ucap Livia, mengusap air matanya


"Liv, ngapain sih? Aku masih ngekos disini, kalau pas aku udah beneran keluar baru gakpapa" ucapku, mengernyitkan dahiku


"Biasanya kalau udah lulus gitu banyak yang langsung gak ngekos lagi" ucap Livia


"Aku masih disini. Cari kerja" ucapku


Aku melepaskan pelukannya itu dan masih memegang pundaknya, "Liv, aku gak enak sama pacar kamu. Dia dari tadi ada disana tuh lihatin kita" ucapku, tersenyum simpul


"Aku tadi mau ngasih tau kamu" ucapku


"Haikal" ucap Livia


Pacarnya itu hanya tersenyum simpul, dan mereka berjalan menuju kearah balkon,


"Maaf aku tadi itu sedih aja gitu kalau temen depan kamarku pergi, aku nanti jadi kesepian disini, aku gak mau aja kamarnya itu nanti digantiin orang lain" ucap Livia


"Iya gakpapa, aku ngerti kok" ucap pacarnya itu

__ADS_1


"Kamu kenapa kesini?" ucap Livia


Aku berjalan masuk kekamarku dan menutup pintuku, setelah itu aku tidak mendengar apapun dari obrolan mereka berdua. Pintuku diketuk oleh seseorang. Aku menghentikan gameku sejenak, seperti biasanya aku belum sepenuhnya membuka pintu, Livia langsung berjalan masuk kekamarku begitu saja. Aku melanjutkan gameku, sedangkan Livia sudah duduk dipinggir kasurku. Kuhentikan gameku sejenak kembali. Saat aku berjalan dari kamar mandi, kulihat Livia duduk dikursiku dan memainkan gameku itu, setelahnya aku berdiri disampingnya tidak tahu harus melakukan apa.


Kuambil kursi yang ada didepan kamarku, kemudian meletakkannya disampingnya dan aku duduk melihatnya memainkan gameku, aku menyandarkan satu tanganku diatas kursinya itu, lalu menopang pipiku itu. Sengaja sekali Livia memainkan gameku. Setelah game itu selesai, Livia meletakkan joystick itu diatas keyboard, setelah itu menoleh kearahku, wajahku dan wajahnya itu berdekatan sekali. Aku memundurkan wajahku itu.


"Aku mau tunangan" ucap Livia


Aku terdiam saja,


Hidungku itu disentil olehnya, kemudian Livia menyipitkan matanya itu, "Gak ada reaksinya gitu. Sekali lagi nih. Aku mau tunangan" ucap Livia, kesal


"Bagus tuh. Kapan?" ucapku, tersenyum simpul


"Nah gitu dong" ucap Livia


Livia menatapku dengan begitu lekatnya, "Jangan - jangan kamu gak suka ya kalau aku mau tunangan" ucap Livia, tersenyum manis


"Terhura" ucapku


"Kamu gak nanya kapan aku tunangan?" ucap Livia


Aku langsung berhenti berpura - pura itu, "Udah ya, tadi. Kamu lupa" ucapku


"Aku tunangan tiga bulan lagi" ucap Livia


"Kirain besok" ucapku

__ADS_1


"Gaklah. Dikira tunangan acara apa bisa besok gitu. Bercanda terus" ucap Livia, tersenyum simpul


"Biar cepet gitu" ucapku


Pacarnya yang sekarang itu, namanya Haikal. Berbeda dengan semua laki - laki yang pernah dipacari olehnya, Haikal lebih dewasa dan bahkan, mempunyai niat yang serius dengan Livia. Harusnya aku bahagia saat mendengar rencana tunangannya itu. Selesai memberitahukan rencana tunangannya itu, Livia masih saja dikamarku dan inginku mengusirkan, karena mengganggu ketenanganku. Tapi, aku tidak bisa mengusirnya yang sedang terus bahagia.


"Pacarmu gak marah? Kamu tadi meluk aku gitu didepannya" ucapku


Livia menggelengkan kepalanya pelan, kemudian mendekatkan wajahnya itu kepadaku, "Aku udah cerita semua tentang kamu, aku tidur sama kamu, aku sering ngerusuh dikamarmu, belajar sama ngerjain dikamar kamu, pokoknya banyaklah. Dia ngerti kok" ucap Livia, tersenyum simpul


"Aku kalau jadi pacarmu, kesel aja gitu. Masa pacarku pelukan didepanku" ucapku


"Kita kan cuman temen" ucap Livia, tersenyum tipis


"Gakpapa. Katanya" ucap Livia


Aku menatapnya lekat, kemudian tersenyum penuh artian, "Yaudah. Lain kali, kalau ada dia kita pelukan terus. Gakpapa, kan?" ucapku


"Gak gitu juga dong cara mainnya" ucap Liva


Livia perlahan merentangkan tangannya, dan memainkan tangannya itu, berusaha menggodaku, "Kamu ngomong aja kalau mau aku peluk" ucap Livia


"Gak gitu dong" ucapku


"Makanya. Lagian sengaja banget pelukan didepan pacarku, sengaja ya biar pacarku batalin tunangannya?" ucap Livia


"Jelek banget pikirannya" ucapku, tertawa kecil

__ADS_1


"Siapa tau gitu" ucap Livia


"Yuk" ucapku


__ADS_2