
Disuatu hari saat aku libur, tadinya aku ingin datang kerumah Arlin, tapi aku malah justru sampai dikosan yang dulu, dan saat aku keluar dari mobilku, tepat dihadapanku kulihat Livia berdiri. Aku terkejut. Rasanya setelah lulus, Livia tidak lagi dikosan itu, dan Livia sendiri yang mengatakan padaku, kalau Livia pindah kedaerah yang deket dengan kantornya tersebut. Livia menggandeng tanganku. Dan, dengan tanpa bebannya membuka gerbang, kemudian saat itu terdapat penghuni yang aku tidak mengenalnya, sedangkan Livia mengenalnya.
Penghuni itu memberikan kuncinya kepada Livia, setelah itu pergi begitu saja seakan sudah sepenuhnya percaya, dan Livia langsung membuka pintu kosan, suasana dikisan bagiku tidak berubah sedikitpun, rasanya hanya penghuninya saja yang terus berganti. Kamarku dan kamar Livia sudah ditempati oleh orang lain. Aku dan Livia berjalan menuju kebalkon. Tempat favorit yang ada dikosan.
"Tadi yang ngasih kunci ini tuh yang nempatin kamarmu" ucap Livia
Aku berjalan kearah dinding pembatas balkon, dan Livia juga sama berjalan mengikuti dibelakangku, pemandangan dibalkon memang tidak pernah mengecewakan, selalu terlihat indah.
"Kok kita pikirannya sama sih? Gak tau kenapa aku pengen aja kesini" ucap Livia, tersenyum manis
"Kamu kenapa kesini?" ucap Livia
"Gak tau" ucapku
"Kamu kangen apanya dari kosan ini, jujur? Kamu mah paling yang dikangenin juga pas ngelihat pemandangan kayak gini, kan? Kita dulu sering banget ya duduk dibalkon" ucap Livia
Hening. Sejenak
"Ndre" ucap Livia, menoleh kearahku
Aku menoleh kearahnya dan kita saling menatap lekat,
Livia menghela nafasnya pelan, "Ndre, kamu gak perlu ngomong apapun juga aku udah tau, kalau selama ini kamu itu punya perasaan sama aku. Dari tatapanmu, sikapmu itu. Kenapa kamu gak pernah mau ngungkapin sih" ucap Livia, tersenyum simpul
"Kalau aja dulu kamu ngungkapin, aku bakalan nerima kamu, Ndre" ucap Livia
"Setiap waktu aku itu selalu nyadar, kamu sama Arlin itu siapa, dan aku itu siapa. Liv kamu tuh egois tau, pikirin perasaan Haikal. Udahlah jalanin aja apa yang emang udah terjadi" ucapku
"Kalian itu hidup didunia yang beda sama aku" ucapku
__ADS_1
"Kalian punya segalanya" ucapku
Livia menatap lurus kedepan, kemudian tersenyum tipis penuh artian, "Aku udah bilang sama Haikal, kalau aku cintanya sama kamu. Arlin juga udah kemarin sebelum acara dimulai" ucap Livia
"Kita harus hidup dengan jujur sama mereka" ucap Livia
"Kamu gila ya Liv" ucapku
"Emang" ucap Livia
"Liv" ucapku
Aku tidak mengerti lagi dengan Livia. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih dengan semua yang dikatakannya itu. Sampai dengan matahari mulai tenggelam aku masih terdiam. Kuajak Livia pergi dari kosan, dan disepanjang perjalanan, kuperhatikan Livia duduk tenang dengan senyuman tipis dibibirnya itu, seakan Livia tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Justru malah aku yang sudah berpikir jauh tentang semuanya tersebut. Aku takut dengan semua orang yang akan tersakiti nantinya. Arlin dan Haikal.
Kuparkirkan mobilku dipinggir jalan. Aku tidak tahu harus kemana. Livia melepas sabuk pengamannya itu, lalu keluar dan kulepaskan juga sabuk pengamanku, setelah itu menyusulnya. Aku berjalan mengikutinya. Rasanya aku pernah ketempat ini. Tempat yang sama, waktu yang berbeda. Ternyata aku memang pernah datang bersamanya dulu. Kita terus berjalan sama seperti dulu, dimalam yang dingin dan bulan yang terus mengikuti, kita terus berjalan dengan berdampingan.
"Aku baru inget kalau kita punya kenangan disini" ucap Livia, tersenyum simpul
Aku juga baru menyadarinya. Kenapa aku membawanya ketempat yang pernah kudatangi bersamanya, "Aku gak tau harus kemana" ucapku
"Ndre, kamu lucu" ucap Livia
"Kenapa kamu gak mau jujur aja gitu sama aku, kamu cinta sama aku kan? Makanya kamu bisa bawa aku kesini" ucap Livia
"Iya, aku cintanya sama kamu, puas" ucapku
"Aku sekarang nunggu kamu nembak nih" ucap Livia
"Udah gitu aja. Gak ada nembak - nembak, kamu udah tunangan terus aku juga udah punya pacar, Liv" ucapku
__ADS_1
Aku tidak mengerti lagi jalan pikiran Livia dan apa yang harus kulakukan dalam menghadapinya. Livia tidak bisa dengan mudah dihentikan. Aku tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Livia. Satu - satunya yang aku tidak sukai dari Livia itu sifatnya. Menyebalkan.
"Ndre" ucap Livia
"Orang yang nikah aja bisa cerai apalagi yang tunangan sama pacaran coba" ucap Livia
"Mau kamu apasih sekarang? Udah jalani aja semua yang udah terjadi, gak usah bikin masalah sama mereka berdua" ucapku, tersenyum kecut
Aku menatap matanya itu dengan lekat, "Jangan - jangan kalian lagi nguji aku ya? Kamu sama Arlin" ucapku
"Tau aja" ucap Livia, tertawa
"Arlin yang nyuruh. Gak mungkinlah aku ngelepasin Haikal, terus bikin kamu putus sama pacarmu itu. Aku kayak jahat banget gitu" ucap Livia
"Gak lucu tau" ucapku
"Seneng aku ngelihat kamu panik gitu" ucap Livia
"Bukan panik lagi. Udah kayak hidup dan mati" ucapku
"Kalau aku beneran gitu, kamu bakalan gimana, Ndre? Aku pengen tau" ucap Livia
"Aku bakalan tetep sama Arlin. Kamu kalau mau batalin sama Haikal ya terserah. Gak mungkinlah aku terus mutusin Arlin, terus habis itu gantiin Haikal" ucapku
"Aku pengennya gitu" ucap Livia, tertawa kecil
"Gak lucu Liv" ucapku
"Lucu" ucap Livia
__ADS_1