
"Ndre" ucap Livia
"Kamu udah ciuman sama Arlin belum? Apa mau aku ajarin nih sekarang" ucap Livia, tersenyum genit
Livia mendekatkan wajahnya itu, kemudian dengan cepat Livia menempelkan bibirnya, setelah itu menjauhkan bibirnya, "Aku pengen banget cium kamu, tapi kamu bukan pacarku. Itu kecupan ya bukan ciuman. Beda" ucap Livia, menatapku lekat
"Bisa diulang gak? Aku tadi belum siap" ucapku
"Gak" ucap Livia
Livia mendekatkan wajahnya, lalu menepuk pipiku dengan sangat pelannya. Ciuman itu hanya sebentar, tapi dampaknya aku sampai tidak bisa tidur semalaman dan dipagi harinya, terjadi suasana canggung diantara kita berdua. Atau, mungkin hanya aku saja yang canggunh dengannya, rasanya Livia biasa saja seperti tidak terjadi apa - apa. Dikampus, aku juga tidak fokus dalam mendengarkan penjelasan dosenku, semua itu hanya karena yang dilakukannya itu semalam, padahal aku saja belum pernah dicium atau mencium pacarku sendiri.
Hari demi hari berlalu, hanya ada satu perempuan yang tidak disukai oleh Arlin, siapa lagi kalau bukan Livia. Padahal, Arlin orangnya itu membebaskanku dalam berteman dengan siapapun, tapi entah kenapa Arlin hanya memintaku untuk tidak terlalu dekat saja dengan Livia. Disetiap aku ada jadwal tampil dicafe, disana Arlin akan selalu datang. Arlin juga sudah mengenal semua teman bandku. Setelah aku selesai tampil, aku berjalan menghampiri Arlin yang duduk sendirian itu, kutahu saat aku tampil seringkali ada laki - laki yang tiba - tiba duduk didepannya, dan entah apa yang dilakukannya sampai laki - laki itu bisa pergi begitu saja.
"Kenapa tadi ada cowok kamu usir?" ucapku
Arlin menoleh kearahku, kemudian menatapku dengan begitu dalamnya, "Kamu liat ya tadi, udah tau aku punya pacar, dia malah duduk aja gitu ya aku usirlah" ucap Arlin, tersenyum manis
"Kamu cemburu ya?" ucap Arlin
"Gak" ucapku
"Gimana dia tau kamu punya pacar coba, orang kamu duduknya sendiri terus" ucapku
__ADS_1
"Aku kasih tau. Habis itu dia langsung pergi" ucap Arlin
Saat itu, aku bahagia saja mendengar Arlin yang mengusir laki - laki itu, "Kamu cantik banget sih, jadinya banyak yang mau deketin" ucapku, menatapnya lekat
Suasana mendadak hening.
"Kamu juga banyak yang deketin. Emangnya aku gak tau? Kamu pernah dikasih bunga sama cewek" ucap Arlin, menatap tajam
"Itu buat Sandi. Nitip sama aku" ucapku, tersenyum simpul
Tidak kusangka Sandi berjalan mendekat didekatku, kemudian aku menarik tangannya saat itu juga, "San, aku pernah ngasih kamu bunga kan ya, titipan dari cewek?" ucapku, mengedipkan mata
"Ndre, matamu kenapa kedip - kedip gitu? Perasaan gak pernah" ucap Sandi
Arlin menatapku tajam dengan senyuman tipis dibibirnya, sedangkan Sandi langsung berjalan pergi dengan tertawa kecil, "Titipan bungnya kok gak sampai Sandi?" ucap Arlin, menopang dagunya
Arlin hanya diam.
Sepulang dari cafe. Aku berjalan menaiki tangga menuju kekamarku, dan sebelum masuk kekamaku, kulihat pintu kamarnya itu tertutup dan lampunya juga mati, artinya Livia sedang pergi entah kemana. Sampai dua hari berlalu. Aku masih belum bertemu dengan Livia. Saat bermain game dilaptopku, sesekali aku melirik kearah kamarnya itu, sampai pada akhirnya aku melihatnya berjalan masuk kekamarnya dan pintunya itu terus tertutup. Livia rasanya sedang ada masalah.
Aku tidak ingin mengganggunya. Lewat tengah malam, saat aku keluar kamar disaat yang bersamaan Livia juga sama, Livia tersenyum kepadaku dan kutekan air dingin didispenser yang ada didepan kamarku. Sebelum Livia berjalan menuruni tangga. Aku membalikkan badanku.
"Liv" ucapku
__ADS_1
"Kamu kemana aja?" ucapku
Livia langsung menghentikan langkahnya itu, kemudian terdiam saat itu juga, "Aku nginep ditemenku" ucap Livia, menoleh kearahku
"Sekarang kamu mau kemana?" ucapku, tersenyum simpul
"Aku ada urusan" ucap Livia
Livia menatapku lekat, kemudian memaksa tersenyum didepanku, "Kamu kangen aku ya? Kamu kan udah punya Arlin gimana sih? Gak usah nungguin aku pulang" ucap Livia
"Siapa itu Arlin? Gak kenal aku" ucapku
"Aku bilangin Arlin lho. Katanya kamu gak kenal sama dia" ucap Livia, tertawa kecil
"Aku pergi dulu ya" ucap Livia
"Hati - hati" ucapku
"Iya" ucap Livia
Livia berjalan menuruni tangga, sedangkan aku masih terdiam mematung. Bodohnya aku malah pintu kamarnya itu, padahal aku tahu bahwa pemiliknya itu baru saja pergi, jadi kenapa aku melihat pintu kamarnya itu? Aku berjalan kembali kekamarku. Setelah itu, kurebahkan tubuhku dikasur, dan saat itu kudengar gerbang kosan yang dibuka, lalu ditutup. Siapa lagi kalau bukan Livia. Rasanya suasana kosan terasa begitu sepi tanpa adanya Livia, penghuni lain dikosan itu pegawai, jadi aku jarang sekali bertemu dengan mereka, terkadang mereka juga tidak pulang dalam beberapa hari karena tugasnya itu.
Dikosan. Aku paling dekat dengan Livia, karena memang kita yang sering kali bertemu disetiap harinya, bahkan dibandingkan dengan Arlin sekalipun, rasanya Livia yang paling dekatku. Aku tidak bisa tidur. Akhirnya, kuambil gitarku lalu memetik dengan tidak jelasnya, sampai disepertiga malam aku masih memainkan gitarku, walaupun dengan berbaring dikasurku. Kumainkan gitarku sembari melihat langit - langit kamarku.
__ADS_1
Silau juga. Karena dekat dengan lampu.
Aku melamun itu