
~{sudut pandang Fitri}~
Kami memutuskan untuk pergi ke rumah ku yang berada di salah satu Zona Berbahaya di Tangerang, para pria akan pulang terlebih dulu untuk mengambil senjata yang bisa mereka gunakan.
'Apakah mereka benar-benar memiliki senjata asli yang bisa digunakan untuk melawan monster?'
Sedangkan kami para gadis menunggu di tempat. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka kembali dan membawa senjata yang mereka sebutkan.
Adit membawa sebuah pedang berwarna hitam, yang aku kenali ketika melihatnya. Ya, itu adalah pedang yang di gunakan protagonis sebuah anime yang menceritakan tentang terjebak dalam game VR, itu adalah anime yang cukup terkenal.
"Dit bukannya itu cuma replika?"
Aku bertanya padanya.
"Ya, ini emang replika, tapi ini pedang asli yang tajam. Gua belinya secara online dan ini benar-benar mahal"
Jawab Adit dengan bangga, mengapa dia begitu bangga dengan fakta bahwa dia adalah seorang wibu. Meskipun aku juga menyukai anime tapi aku tidak terlalu terobsesi aku hanya menjadikannya sebagai salah satu hobi ku seperti game.
Dan Agung membawa sebuah pisau panjang atau mungkin pedang pendek berwarna hitam dan merah, yah aku tidak mengenalinya tapi dia pasti sama seperti Adit.
"Oh! Agung lu punya Dagger itu"
Sepertinya Adit mengetahuinya, menurut ocehannya itu adalah Dagger yang digunakan oleh protagonis dalam sebuah Mahwa/komik Korea yang terkenal.
Yang terakhir adalah Restu, dia membawa sebuah busur beserta anak panahnya. Sepertinya dia memang benar ketika berbicara tentang mengikuti sebuah komunitas panahan.
Di antara kami berenam, 3 orang berhasil memiliki Gift dengan memikirkannya saat membaca pesan di Status Window, yaitu aku yang memiliki Gift 4 Element Master, Adit yang memiliki Gift Sword Master, dan Sisca Fire Master. Meskipun ada kata Master dalam Gift kita tapi kita tidak benar-benar menguasainya, mungkin karena kita tidak benar-benar memikirkan detail dari Gift yang kita inginkan.
Sedangkan untuk tiga lainnya sepertinya mereka tidak sempat memikirkan Gift saat mereka membaca pesannya. Tapi ketiganya mendapatkan Gift secara otomatis, Restu memiliki Gift Archery, Agung Memiliki Gift Hasten (mempercepat), dan Rani memiliki Gift Buff and Debuff.
Bukankah kami tidak memiliki seorang Tanker dan Healer?, meskipun begitu kami tetap pergi ke Zona Berbahaya, dan aku juga sedikit bersemangat untuk menggunakan Sihir melawan monster. Aku sudah menghubungi orang tuaku bahwa aku akan baik-baik saja meskipun sulit untuk menyakinkan mereka, tapi akhirnya mereka mengizinkan ku karena aku tidak sendirian, meskipun aku tidak bilang bahwa aku akan pergi melawan monster.
Dan yang lainnya pun sepertinya adalah anak kuliahan yang berjiwa bebas.
***
Jam 08:05 kami sampai di rumah ku di Zona Berbahaya. Kami langsung memulai rencana kami untuk mencoba kekuatan baru yang kita dapatkan dan melawan monster.
Menyisir area di sekitar rumah ku kami bertemu beberapa Goblin, melawan monster sungguhan untuk pertama kalinya, kami kesulitan di awal tapi kami berhasil mengalahkan mereka.
Agung muntah ketika melihat Goblin yang dia bunuh sendiri, ya karena dia memotong Goblin sesukanya jadi mayat Goblin tersebut terlihat mengerikan, bahkan Adit pun melakukan hal yang sama hanya saja dia tidak muntah.
Melihat Mayat Goblin yang mengeluarkan darah dan bahkan jeroannya, aku pun merasa mual dan muntah. Begitu pula dengan Sisca dan Rani, sementara Restu dan Adit sepertinya mengalami mual tapi mereka tidak muntah, ya mereka cukup berusaha menahannya.
Kami kembali ke rumah ku untuk beristirahat sejenak dan menenangkan diri, kemudian setelah tenang kami melanjutkan berburu kelompok kecil Goblin untuk membiasakan diri.
Setelah beberapa kali melawan kelompok kecil Goblin dan membunuhnya, kami akhirnya mulai terbiasa. Meskipun aku tidak ingin terbiasa dengan ini, tapi sepertinya ini diperlukan untuk hidup di dunia yang berubah ini.
Jam 10:07 kami kembali ke rumahku untuk beristirahat, kami berencana menuju lebih dekat dengan pusat Zona Berbahaya karena sepertinya sudah tidak ada goblin di area sekitar rumahku.
Meskipun sepertinya masih terlalu pagi untuk makan siang, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perburuan kami. Yah meskipun hanya makan mie instan dengan nasi, karena sepertinya tidak ada yang bisa masak di kelompok kami.
Jam 11:40 kami melanjutkan perburuan kami, kali ini kami menuju ke pusat Zona Berbahaya.
Kami menemukan beberapa kelompok Goblin di perjalanan dan tentu saja kami membasminya.
Beberapa menit setelah melawan kelompok Goblin terakhir yang kami temui sebelumnya, kami bertemu kelompok Goblin yang sangat besar atau mungkin bisa disebut sebagai pasukan. Lebih tepatnya kami di temukan oleh mereka.
Karena jumlah mereka yang sangat banyak, kami kesulitan melawan mereka terutama kerena banyaknya Goblin yang tubuhnya seukuran dengan orang dewasa, yang kami sebut dengan Hobgoblin. Dengan satu Goblin yang sangat tinggi dan besar, memegang pedang besar dan menggunakan baju besi, kami menyebutnya sebagai Goblin General.
Kami dapat menghabisi Goblin kecil dan Goblin Archer dengan serangan Sihir Area ku dan Sisca, tapi Hobgoblin dan Goblin General dapat bertahan darinya.
Setelah beberapa saat kami akhirnya dapat membunuh Goblin General, lalu kami memutuskan untuk kembali ke rumah ku dan beristirahat.
Saat beristirahat di rumah ku kami membahas langkah selanjutnya, dan Adit menyarankan untuk melawan Boss Goblin dengan alasan bahwa jumlah Goblin akan bertambah seiring waktu dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk melawan Boss Goblin karena kita sudah menghabisi pasukannya tadi. Tapi aku tidak sependapat dengannya dan memberitahu bahwa kita tidak benar-benar mengetahui jumlah pasti Goblin yang ada.
Kami berdebat untuk sementara waktu, tapi akhirnya Adit memutuskan untuk mengambil suara mayoritas sebagai keputusan akhir. Dan di putuskan bahwa kami akan melawan Boss Goblin, meskipun aku kesal dengan sikap Adit dan tidak setuju dengan keputusan ini. Tapi aku tidak bisa pergi sendiri dan meninggalkan Sisca dan Rani di tempat berbahaya ini, jadi mau tak mau aku mengikutinya.
***
Jam 16:45 kami memulai rencana untuk mengalahkan Goblin King, kami menemui beberapa Goblin di perjalanan menuju Dungeon. Terkadang ada kelompok Goblin yang menempati rumah yang cukup besar dan kami menghabisi mereka tanpa terkecuali.
Setelah berjalan cukup lama, kami akhirnya sampai di pusat Zona Berbahaya. Kami dapat melihat sebuah bukit kecil dengan mulut Goa di lapangan Bulutangkis, bukit tersebut hampir menutupi seluruh lapangan dengan beberapa Hobgoblin yang berjaga di sekitarnya dengan satu yang kami anggap sebagai Goblin General.
__ADS_1
Kami bersembunyi di lantai dua rumah sekitar, mengamati situasi Dungeon.
"Kayaknya Dungeonnya gak keliatan besar dah?" (Sisca)
"Ya, kayaknya cuma ada 4 Hobgoblin dan 1 Goblin General yang lagi berjaga" (Adit)
"Tapi kita gak tau gimana keadaan di dalamnya, mungkin aja ternyata lebih luas dan ada lebih banyak Goblin General nya" (Fitri)
Aku mengingatkan Sisca dan Adit yang berbicara hal-hal yang menurutku terlalu nyaman sebagai kenyataan
"Karena itu kita harus masuk untuk mengetahuinya, baiklah kita turun" (Adit)
Meskipun aku benar-benar tidak ingin melanjutkan ini, tapi sepertinya tidak mungkin untuk membujuk mereka pada saat ini.
Kami turun dari lantai dua dan bersiap untuk keluar dari rumah tersebut.
"Restu akan menghadapi Goblin yang ada di sisi kanan, sementara Agung menghadapi Goblin di sisi kiri Goa, dan sisanya sama gua nyerang Goblin di depan Goa" (Adit)
Kami mengangguk diam dengan arahan Adit. Meskipun aku kesal dengan sikap Adit tentang melawan Goblin King, dia memang cocok sebagai seorang yang memimpin sebuah kelompok ketika memberikan arahan langsung dalam pertemuan.
"Sisca sama Fitri gunain sihir area terlebih dahulu, Rani gunain skill Buff ke gua, dan gua bakal maju dan lawan Goblin General sendirian sementara Sisca dan Fitri ngurus 2 Hobgoblin lainnya" (Adit)
Restu dan Agung berlari ke sisi bukit/Goa untuk menyerang Hobgoblin, aku dan Sisca menggunakan Sihir Fire Storm untuk menyerang 2 Hobgoblin dan 1 Goblin General di depan Goa, sementara Rani memberikan Buff pada Adit.
Setelah Fire Storm berhenti Adit segera berlari ke depan, 2 Hobgoblin terlihat terluka parah dan jatuh tertunduk sedangkan Goblin General hanya mengalami sedikit luka dari Fire Storm yang aku dan Sisca lancarkan. Meskipun skill dan level kami sudah naik tapi sepertinya belum cukup untuk membunuh Hobgoblin dengan sekali serang.
Adit menghadapi Goblin General, sedangkan Sisca dan aku menghadapi 2 Hobgoblin yang terluka karena sihir sebelumnya.
"Fire Lance"
Aku menembakkan Fire Lance, ketika Hobgoblin mulai mendapatkan pijakannya kembali, begitu pula dengan Sisca. Dan kami berhasil menghabisinya dengan cepat.
Sementara Adit masih melawan Goblin General. Goblin General memiliki teknik yang lebih baik dan kekuatan yang besar dari Hobgoblin, Adit bertarung dengan sengit melawannya sehingga aku dan Sisca tidak dapat membantu dengan menembakkan serangan sihir karena takut malah mengenai Adit.
Meskipun Skill Swordmarship Adit sudah naik level tapi sepertinya dia masih kesulitan untuk mengalahkan Goblin General.
'Gimana kita mau ngalahin Goblin King kalo gini?'
"Hmm.. kayaknya emang agak susah dah kalo masih ada Goblin General di samping Goblin King" (Adit)
Jelas Adit setelah melawan Goblin General sendirian.
"Gua kira juga gitu, mending kita balik aja dah" (Fitri)
Aku menyarankan agar kami sebaiknya berhenti dan kembali, karena aku merasa sedikit tidak nyaman.
"Gak mungkin, kita udah sejauh ini masa harus balik lagi" (Sisca)
Sisca membalas dengan tidak puas atas saranku.
"Gimana kalo kita naikin Level skill kita pake Skill Point?" (Restu)
"Tapi sayang banget pake Skill Point sekarang" (Agung)
"Menurut gua itu ide bagus, karena kayaknya level skill juga udah susah buat naik dengan usaha kita sendiri" (Rani)
'Haa.. kayaknya emang udah pada gak bisa di bujuk buat balik'
Aku menghela nafas panjang di dalam hati, sepertinya hanya aku yang memiliki pendapat berbeda.
Kami mengetahui bahwa Sp juga dapat digunakan untuk menaikkan level skill karena Agung tidak sengaja menaikan level skill Dagger Mastery nya ketika dia membelinya di awal.
Aku melihat Status Window ku dalam diam.
~
Nama : Fitriyana Putri
Ras : Manusia (perempuan)
Usia : 21 tahun
Lv.6
__ADS_1
•STR. : 16
Atk : 64
•VIT. : 23
Hp : 230/230
Stp : 190/230
Def : 34,5
•INT. : 35
Mp : 230/350
Ma : 175
Mr : 52,5
•AGI. : 17
•LUK. : 17
*BSP : 0
*SP : 5↓(-15)
• GIFT : 4 Element Master
• Skill+ : Fire Magic Lv.4↑ Wind Magic Lv.1 Earth Magic Lv.3↑ Water Magic Lv.1 Magic/Mana Perception Lv.2 Magic/Mana Control Lv.2 Spearmarship Lv.1
•Title : {User of 4 Element magic} {Goblin Slayer}
•Achievement : *[Orang pertama di benua Asia yang memiliki ke 4 sihir elemen dasar]
Aku menaikan level Fire Magic dan Earth Magic, sepertinya memerlukan 10 Sp untuk menaikkan Fire Magic dari Lv.3 ke Lv.4 dan 5 Sp untuk menaikkan Earth Magic Lv.2 ke Lv.3.
Aku juga sudah mengalokasikan BSP ku dengan memfokuskan sebagian besar pada Stat INT
'Ugh..Ini benar-benar menghabiskan banyak Sp'
Aku merasakan sakit hati ketika melihat Sp yang tersisa, aku berpikir mungkin sebaiknya aku berlatih perlahan untuk menaikkan level Skill ku dengan santai di luar Zona Berbahaya di tempat orang tua ku berada atau pengungsian yang di sediakan pemerintah.
Ketika waktu istirahat di rumahku sebelumnya, aku melihat beberapa berita di sosial media, bahwa pemerintah melakukan evakuasi warga dan memberikan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya berada di dalam Zona Berbahaya.
"Baiklah, semuanya udah siap?" (Adit)
Kami mengangguk serempak atas pertanyaan Adit.
"Kalo gitu kita bakal masuk sekarang"
Dengan begitu Adit memimpin di depan, dan para gadis setelahnya dengan Agung dan Restu berada di paling belakang. Kami memasuki Goa atau mungkin sebuah Dungeon.
To be continued......»
*****
Hai, kembali lagi dengan saya.
No Face disini.
Ini masih bab Fitri dan kawan-kawannya dan bab berikutnya juga.
Meskipun saya sudah memiliki garis besar tentang alur ceritanya saya masih kesulitan ketika harus menuliskannya.
Dan juga karya ini memiliki genre Action tapi sepertinya saya memang masih kurang untuk menggambarkan sebuah pertarungan, jadi saya memutuskan untuk membaca ulang beberapa novel yang saya sukai. Karena itu update novel ini memang tidak menentu (yah, mungkin ini hanya sebuah alasan).
Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen juga tambahkan ke favorit kalian bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.
Salam saya.
No Face
__ADS_1