2 World Fantasy

2 World Fantasy
Bab.16 Dunia yang Berubah #Cerita Orang Lain (bagian 3)


__ADS_3

~{Sudut Pandang Fitri}~


Di dalam Dungeon/Goa ternyata tidak terlalu gelap karena beberapa batu yang memancarkan cahaya redup. Dan juga Goa ini ternyata cukup luas atau mungkin ini memang benar-benar sebuah Dungeon.


Karena kami sudah berjalan cukup lama meskipun dengan kecepatan yang lambat karena berhati-hati, kami menemukan beberapa ruangan dengan Goblin di sepanjang jalan dan tentu saja kami membasminya, lalu menggeledah ruangan setelahnya tapi kami tidak menemukan apapun yang terlihat berharga. Jadi kami menyerah untuk menemukan barang berharga di ruangan Goblin yang kami temui di perjalanan.


"Uuh.. kapan kita sampai di Ruang Bos nya?" (Sisca)


Sisca mengeluh dengan suara kecil yang terdengar kesal.


"Kita gak tersesat kan?" (Rani)


Rani bertanya dengan khawatir.


"Ya, menurut gua kita di jalan yang benar menuju ruangan Bos meskipun ada beberapa jalan bercabang, karena jalan ini lebih besar dari yang lainnya, kemungkinan besar ini jalan keruangan Bos Dungeon" (Adit)


Adit menjawab dengan keyakinan dalam suaranya.


Setelah beberapa saat kemudian kami dapat melihat sesuatu di ujung jalan.


"Apa itu?" (Sisca)


"Kayaknya kita udah sampai ke ruangan Bos!" (Adit)


Di depan kami, adalah sebuah pintu besi yang besar dan kokoh, juga terlihat berat.


"Haa.. akhirnya kita sampai di Ruangan Bos juga" (Restu)


"Bukankah pintunya keliatan berat?" (Agung)


"Santai, karena gua fokus naikin Stat STR, ini bakalan gampang" (Adit)


Kata Adit dengan sedikit sombong.


Kemudian Adit mencoba membuka pintu tersebut tapi ternyata pintu tersebut tidak bergerak sedikitpun.


"Nngg... "(Adit)


Dengan wajah memerah dia terus mendorong pintu tersebut.


"Haa.. haa.. pintunya gak bisa di buka... mungkin di kunci kali...?" (Adit)


'Apa dia buat alesan setelah omongannya yang besar tadi'


"Biar gua yang coba buka" (Fitri)


"Hah? elu Fit, mau buka ni pintu? Adit aja yang fokus ke STR gak bisa, apalagi elu yang hampir gak naikin STR?" (Restu)


"Uhh, udah dah, gua cuma mau coba Sihir baru doang" (Fitri)


" " "Ooh!" " "


'Kenapa lu semua pada kaget, jangan bilang ke gua kalo sebenarnya gak ada yang mikir buat pake sihir buat ngancurin pintu besi yang gede dan keliatan kokoh kayak gini'


Apakah ini baik-baik saja dengan orang-orang yang terkadang bebal ini, bagaimana kalau aku menyarankan untuk menyerah dan balik aja.


Tapi karena aku sudah menyarankan akan menggunakan Sihir untuk membuka pintu tersebut, mereka tidak akan menerima saranku untuk menyerah melawan Monster Boss sekarang.


Haa... mau bagaimana lagi, sepertinya aku harus melakukannya. Yah, aku juga memang ingin mencoba sihir baru ku.


Aku mengambil jarak agak jauh dari pintu dan meminta mereka untuk berada di belakang ku.


Mengangkat tanganku ke depan ke arah pintu besi, aku berkonsentrasi membayangkan sihir yang ingin kugunakan.


'Uh, perasaan ini..!'

__ADS_1


Aku cukup menikmati sensasi Mana yang bergerak ke tangan ku ketika menggunakan Sihir, mungkin karena aku berusaha untuk merasakan dan mengendalikan Mana ketika menggunakan Sihir, skill Magic/Mana Perception dan Magic/Mana Control ku naik level sebelumnya.


Setelah beberapa saat kemudian lingkaran sihir dengan pola geometris terbentuk di depan tanganku, kemudian aku mengucapkan mantranya.


"Fire Burst!"


Semburan api besar dengan ledakan menghantam pintu besi dalam sekejap, kemudian pintu tersebut terlempar dengan beberapa bagian yang terlihat merah seperti besi yang terlalu panas. Meskipun sihir ini sangat kuat, sihir ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggunakannya, aku tidak akan bisa menggunakannya ketika di pertarungan langsung tanpa ada yang menahan musuh.


Kami sangat terkejut dengan apa yang kami lihat di depan kami, tapi bukan karena sihir ku yang membuat kami terkejut, melainkan pemandangan yang terlihat di dalam ruangan setelah pintu terbuka.


Ruangan tersebut sangat luas dan di penuhi oleh Goblin yang sangat banyak, tidak hanya Goblin biasa tapi Goblin dengan tubuh yang lebih besar dari manusia dewasa yang berjumlah sangat banyak. Dan satu Goblin paling besar yang lebih besar dari yang lainnya dan terlihat sangat kuat duduk di atas singgasana dengan meja di depannya.


"A— Aaaaa....." (Sisca)


Sisca berteriak sangat keras setelah beberapa saat terdiam dari kejutan yang di lihatnya dengan para Goblin yang menoleh kearah kami. Ya, yang membuat kami terdiam karena kejutan bukan hanya kerena jumlah Goblin yang sangat banyak atau sosok Goblin King, tapi apa yang sedang mereka lakukan.


Diatas meja di depan Goblin King kami melihat apa yang belum pernah kami lihat sepanjang perjalanan kemari, itu adalah manusia lainnya atau lebih tepatnya mayat manusia dengan tubuh yang terpotong-potong di letakkan di atas meja di depan Goblin King dan meja meja lainnya, dan juga beberapa ada di lantai.


Ya, mereka sedang memakan manusia atau mungkin ini bisa disebut sebagai sebuah perjamuan/pesta. Aku memang merasa ada sesuatu yang kurang ketika melakukan perburuan sebelumnya, jadi inilah yang membuatku tidak nyaman aku memang belum melihat satu pun mayat manusia yang di serang Goblin di dalam Zona Berbahaya ini. Jadi mereka membawanya ke Dungeon.


Setelah teriakan Sisca tadi kami tersadar dari kejutan kami.


"Lari...! Kita harus keluar dari sini secepatnya dan keluar Zona Berbahaya juga" (Adit)


Adit berteriak dengan keras, dan kami segera berlari keluar dari Dungeon ini. Para Goblin mengejar kami dengan jumlah yang sangat banyak.


"Jangan lihat ke belakang Lari aja sekuat tenaga" (Adit)


Kami berlari sekuat tenaga, tapi ternyata Dungeon ini memang sangat luas, tapi setidaknya kami tidak akan tertangkap dengan kecepatan kami saat ini. Meskipun yang paling lambat adalah kami para gadis yang tidak terlalu memperhatikan stat AGI karena kami berfokus pada sihir, dan yang lebih buruknya lagi adalah aku yang berada di paling belakang karena posisi ku ketika menggunakan Sihir sebelumnya.


"......" (Sisca)


"....?" (Rani)


"......" (Sisca)


Sisca dan Rani berbicara tentang sesuatu tapi aku tidak dapat mendengarnya, atau lebih tepatnya mereka berbisik hanya di antara keduanya.


Kemudian Rani terlihat seperti sudah diyakinkan mengenai sesuatu oleh Sisca, dia menoleh ke arahku dengan ekspresi meminta maaf di wajahnya, mengarahkan tangan kanannya ke arahku lalu dia mengucapkan sebuah kata.


"Slow"


Aku bingung dengan apa yang terjadi, Aku merasa tubuhku semakin melambat, kemudian Sisca mengarahkan tangannya ke arah ku.


"Fire Ball"


Sebuah Bola Api mengenaiku, meskipun itu tidak akan membunuhku tapi aku merasakan dampaknya dan berhenti sejenak.


Para pria yang mendengar suara Fire Ball yang di tembak Sisca menoleh ke belakang, mereka terlihat terkejut dengan apa yang terjadi, tapi kemudian Sisca mengatakan sesuatu pada mereka dan mereka dengan enggan diyakinkan olehnya.


Aku melihat mereka berlari lebih cepat dari sebelumnya, dan sepertinya aku semakin tertinggal.


'Tunggu...!'


Aku berteriak dalam pikiran ku yang sedang kacau.


'Kenapa kalian semakin cepat? Tunggu aku...'


'Kenapa? kenapa kalian tidak menungguku?'


'Kenapa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?'


Kepala ku sangat kacau, aku benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi kemudian aku mendengar suara para Goblin yang sedang mengejar di belakang.


'Aku harus melarikan diri dari mereka terlebih dahulu'

__ADS_1


Aku memutuskan untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut nanti setelah aku aman.


Aku berlari sekuat tenaga dengan sesekali melemparkan sihir yang mudah dilakukan, kemudian efek sihir Buff yang digunakan Rani padaku sudah menghilang dan kecepatan ku mulai bertambah.


Kemudian aku dapat melihat jalan keluar dari Dungeon ini, aku mempercepat lariku meskipun mungkin hanya perasaan ku. Aku berhasil keluar dari Dungeon, aku berharap bahwa mereka tidak akan mengejarku setelah aku berhasil keluar dari Dungeon tapi sepertinya harapanku tidak akan terkabul karena mereka masih tetap mengejarku, meskipun hanya sebagian dari mereka.


Aku masih berlari sekuat tenaga, aku mencoba bersembunyi di dalam rumah acak tapi sepertinya mereka mengetahui keberadaan ku, aku berlari keluar melalui pintu belakang rumah tersebut ketika aku mengetahui bahwa percuma untuk bersembunyi.


Setelah melewati beberapa rumah aku bertemu dengan kelompok kecil Goblin di balik sebuah rumah, mereka terkejut dengan kemunculan ku yang tiba-tiba bagitu pula denganku. Aku segera mengubah arahku berlari secepat yang kubisa tapi kemudian aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di punggung sebelah kiri ku, tapi aku tidak berhenti berlari.


Aku mencoba menyentuh benda asing yang kurasakan di punggung ku.


'Ugh.. ternyata emang bener aku terkena panah'


Aku memang melihat Goblin Archer pada kelompok kecil Goblin yang berpapasan denganku, jadi dia langsung menembak panahnya padaku.


'Uuhh.. bukankah ini gawat'


Karena sebelumnya aku sudah mengetahui bahwa ada racun pada panah yang di tembakkan para Goblin. Dan sekarang aku merasakan sedikit pusing dan juga aku sudah terlalu lelah untuk berlari, tapi aku masih berlari sekuat tenaga.


'Ha... Ha... Ha... Kenapa? Kenapa mereka melakukan itu semua padaku? Mengapa ini terjadi padaku? Apa aku melakukan kesalahan?'


Pertanyaan tersebut kembali berputar di kepalaku.


'Mengapa menjadi seperti ini? Apakah aku akan mati?'


Aku sudah merasa sangat lelah, tapi aku tidak ingin mati, terus berlari sekuat yang ku bisa, tapi kemudian aku terjatuh dan kesadaranku terasa sangat berat. Aku memaksa diriku untuk menoleh ke arah para Goblin yang mengejarku.


'Uuuh.. ibu.. ayah... Maaf, kayaknya Fitri gak bisa ketemu kalian lagi'


Aku menangis dalam diam.


Yah, sepertinya ini adalah akhirnya. Aku mengingat wajah ibu dan ayah ku dan wajah seorang bocah laki-laki, dia adalah teman lama ku ketika SD meskipun kami dulu sangat akrab tapi entah sejak kapan dia seperti mulai menjaga jarak dari ku.


Sebenarnya aku selalu memikirkan alasannya tapi aku tidak bisa menemukan jawabannya, dan aku juga tidak berani untuk bertanya padanya langsung.


'Huh.. mengapa aku mengingat dia sekarang'


Kesadaranku semakin memudar, di akhir kesadaranku yang akan segera menghilang aku melihat Goblin yang mendekati ku terjatuh tersungkur dan kesadaranku pun menghilang.


To be continued....»


****


Hai,


No Face disini.


Bab ini adalah akhir dari sudut pandang Fitri untuk saat ini, bab selanjutnya kita akan kembali melihat sudut pandang Mc/Orchid/Ochid.


Yah, meskipun nantinya akan ada cerita dari sudut pandang Fitri lagi atau mungkin karakter lainnya,


Disini kita melihat bahwa Goblin dalam cerita ini tidak menangkap manusia untuk melakukan 'ini dan itu' mereka hanya menjadikan manusia sebagai makanan lainnya yang mereka makan. Mungkin manusia adalah makanan favorit mereka.


Dan saya sebenarnya ingin menulis cerita tentang Dunia Lain {Akasia} di masa lalu sebelum adanya pahlawan dan lebih jauh di masa lalu sebelum terjadinya Penggabungan Bumi dan Akasia, tapi sepertinya saya memang tidak sanggup untuk melakukannya sementara karya ini saja belum benar-benar berkembang.


Mungkin saya akan menulisnya setelah season 1 karya ini selesai (Arc Dunia yang Berubah).


Itu saja untuk bab ini.


Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.


Salam saya.


No Face

__ADS_1


__ADS_2