2 World Fantasy

2 World Fantasy
Bab.20 Dunia yang Berubah #Nasgor+Mie dan Cerita Dia


__ADS_3

Nasi goreng campur mie instan!


Aku melihatnya dari sebuah video di YouSube lalu aku mencobanya membuatnya dan ternyata resanya lumayan enak.


Pertama kali membuat nasi goreng campur mie instan, aku menggunakan mie goreng instan. Kemudian aku mencoba membuat dari semua rasa mie instan yang aku sukai, dan hasilnya hanya dua rasa yang menjadi favoritku. Nasi goreng kecap+mie goreng instan(rasa original) dan Nasi goreng tanpa kecap+mie instan rasa ayam bawang.


Karena sepertinya ibuku belum mengisi stok mie untuk bulan depan yang tidak lain adalah 3 hari kemudian, maka tidak ada mie goreng yang tersisa karena mie goreng adalah favoritku dan adikku.


Kami bahkan sering bertengkar mengenainya, jadi suatu hari aku mengambil semua stok mie goreng dan menyembunyikannya di kamarku tapi adikku segera mengetahuinya karena tidak ada mie goreng pada stok bulanan di dapur pada awal bulan itu. Dia datang ke kamarku dan marah-marah kepadaku tapi aku tidak terlalu memperdulikanya, lalu dia pergi dari kamarku yang kukira dia sudah menyerah tapi ternyata dia mengadukannya pada ibu dan aku pun dimarahi oleh ibuku.


Pada akhirnya kami membagi stok sama rata tapi aku hanya mendapatkan setengah dari yang seharusnya menjadi milikku bulan itu.


Mari kita berhenti bernostalgia dan segera membuat makan malam.


Aku mengambil 2 bungkus mie instan rasa ayam bawang di laci dapur lalu mengambil sepiring penuh nasi yang hampir terlihat seperti bukit nasi di atas piring. Mungkin ini cukup untuk dua orang.


Tapi apakah dia (Fitri) akan menyukainya? Yah jika dia tidak menyukainya aku bisa memasakannya mie instan seperti biasa saja.


Aku mengambil ulekan untuk membuat bumbu nasi goreng terlebih dulu, meskipun itu disebut bumbu itu hanya bawang putih, bawang merah dan mungkin cabai jika aku ingin rasa yang pedas. Tapi karena Fitri mungkin masih tidak menyukai rasa pedas aku tidak akan menambahkan cabai kali ini.


Meskipun aku bukan penyuka makanan pedas tapi terkadang aku ingin makan makanan pedas sesekali.


Setelah selesai menyiapkan bumbu, aku mematahkan mie menjadi beberapa bagian dan merebusnya sebentar kemudian mengangkatnya sebelum mie benar-benar matang dan meniriskannya.


Menyiapkan penggorengan dengan minyak, lalu menumis bumbu hingga wanginya tercium, kemudian menambahkan telur dan mengorak-ariknya hingga matang lalu memasukkan nasi dan mie. Mengaduknya hingga rata. Kemudian menambahkan garam, penyedap rasa dan bumbu mie. Mengaduknya lagi hingga rata sampai kurasa sudah matang. kemudian aku menyajikannya di piring dan membawanya ke ruang tengah.


~tring~


[Skill : Cooking Lv.1 di peroleh]


Bukankah lebih bagus aku memilikinya sebelum memasak. Yah, itu tidak masalah.


Mungkin akan berguna di masa depan.


Meski begitu, aku menyajikannya di dua piring tapi piring tersebut terisi hingga penuh lebih tepatnya terlihat seperti porsi besar, mungkin nasinya terlalu banyak.


Sesampainya di ruang tengah, aku menemukan bahwa Fitri sudah sadarkan diri. Dia terlihat bingung dengan situasinya dan juga baju yang dikenakannya.


Ugh! Meskipun aku tidak melakukan hal-hal aneh ketika dia tidak sadarkan diri, aku masih tetap merasa tegang.


"Kamu udah bangun!" Aku memanggilnya dengan bahasa dan nada yang lembut.


"Ah!.. Ya" Dia mengeluarkan suara terkejut setelah melihatku tapi tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya.


Aku menaruh piring berisi nasi goreng+mie instan di meja pendek di depan sofa tempat dia berbaring.


"Bagaimana kondisimu? Apa kamu bisa duduk?" Menanyakan hal tersebut aku duduk di depannya di sebrang/sisi lain meja.


"U,um... Aku baik-baik saja" Mengatakan hal tersebut dia berusaha bangkit dan duduk. Dia mengatakan dia baik-baik saja tapi dia terlihat kesakitan ketika mencoba untuk duduk.

__ADS_1


"Kamu gak perlu memaksakan diri buat duduk" Aku mengatakan padanya tapi dia menggelengkan kepalanya.


"Bisa makan? Meskipun aku gak tau apakah kamu akan menyukainya, tapi hanya inilah yang bisa aku buat" Aku mengatakan padanya sambil melirik pada nasi goreng+mie instan yang ku siapkan di atas meja. Dia menatapnya dengan diam.


"Kalo kamu gak suka aku bisa memasakan mie instan saja untuk mu" Aku menawarkan pilihan lain padanya tapi dia hanya menggelengkan kepalanya dan mengambil piring di depannya.


Kami makan dalam diam tanpa ada percakapan, jadi aku menyalakan tv untuk melarikan diri dari kesunyian yang terasa agak tidak nyaman ini.


Chanel tersebut menayangkan sebuah berita yang menyampaikan situasi saat ini. Juga sepertinya sudah ada beberapa Dungeon yang di taklukkan dan membuat batas Zona Berbahaya menghilang. Sehingga monster-monster yang berada di sekitar di dalam Zona Berbahaya yang belum dibunuh dapat keluar dari area Zona Berbahaya.


Hal tersebut membuat pemerintah semakin sibuk karena monster yang tidak terbunuh bisa pergi kemanapun setelah Dungeon di hilangkan. Jadi sepertinya mereka mengubah strategi mereka yang awalnya secepat mungkin menaklukkan Dungeon menjadi membersihkan Zona Berbahaya terlebih dahulu dari monster yang berkeliaran dan menaklukkan Dungeon kemudian.


Ugh! Meskipun aku ingin mendapatkan sebuah pencapaian dari menaklukkan Dungeon pertama kali setidaknya di negara ini. Tapi, sepertinya hal tersebut sudah tidak bisa didapatkan. Meski begitu aku akan tetap menaklukkan Dungeon secepat mungkin karena jumlah monster bertambah banyak semakin lama waktu berlalu.


Menurutku, pemerintah juga seharusnya melakukan strategi awal mereka sepertiku.


Setelah aku menghabiskan makananku, aku bangkit untuk mengambil air minum.


"Kamu mau air dingin atau biasa?" Aku bertanya pada Fitri ketika berdiri.


"Air biasa aja" Dia menjawab dengan singkat. Dia masih belum menghabiskan makannya meskipun hanya tersisa sedikit.


Aku pergi mengambil teko berisi air dimeja makan dan mengambil 2 gelas di sampingnya. Membawanya ke ruang tengah, aku meletakkan gelas di meja dan menuangkan air untuk kedua gelas. Sepertinya Fitri juga sudah selesai makan, aku menyodorkan gelas padanya dan dia berterimakasih dengan suara kecil. "Makasih.."


Aku mengangguk sebagai balasan dan meminum bagianku. Dia meminum airnya juga dan kami hanya diam sambil meminum air sedikit demi sedikit dan membuat suasana canggung lainnya.


Ugh, suasana sunyi yang canggung ini, aku benar-benar tidak menyukainya.


Dia menyentuh letak lukanya dengan tangan kanannya.


"Masih terasa sakit, tapi kukira aku akan baik-baik saja"


...


Dan percakapan terhenti lagi. Apa aku langsung menanyakan informasi yang kuinginkan saja? Tapi suasananya tidak mendukung hal tersebut.


Aku harus berbicara sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang harus ku bicarakan dengannya.


Sementara aku sedang memikirkan topik pembicaraan untuk menghilangkan suasana canggung ini.


Sebuah suara memecahkan suasana canggung ini.


"Kamu Ochid kan?" Itu adalah Fitri yang bertanya mengenai diriku. Oh! Ternyata dia tidak lupa denganku. Aku merasa sedikit senang.


"Ya, aku Ochid. Dan kamu? Apakah kita saling mengenal?" Aku bertanya balik dengan wajah bingung dan dia membuat ekspresi murung di wajahnya. sepertinya dia akan menangis.


Ugh! Meskipun aku hanya bercanda untuk menggodanya.


"Oh ayolah aku hanya bercanda, Fitri kan?" Aku mengatakannya segera agar aku tidak dianggap sebagai orang yang dengan mudah melupakan seorang teman. Ya, ini bukan karena aku tidak ingin melihat wajahnya yang murung.

__ADS_1


'Itu benar ini bukan karena hal tersebut, ya ini benar-benar bukan!'


Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, tapi kemudian aku melihat ekspresi Fitri yang terkejut sebentar yang kemudian dia mengubah ekspresinya cemberut kesal dengan pipinya mengembung. Ugh! Itu adalah serangan fatal.


Dia terlihat sangat lucu sehingga membuat ku tersenyum tanpa sadar.


Menggelengkan kepalaku, aku bertanya padanya....


"Jadi kenapa kamu ada di Zona Berbahaya ini?" Meskipun aku berniat untuk tidak menanyakan detailnya. Dia menunjukkan ekspresi gelap.


" Awalnya aku hanya ingin mencoba menggunakan sihir kemudian aku bertemu dengan teman-temanku...." Meskipun ekspresinya gelap dia tetap menceritakan semuanya. Dimulai dengan bertemu dengan teman-temannya kemudian pergi ke Zona Berbahaya di mana rumahnya berada, melawan Goblin dan membunuhnya untuk pertama kalinya, melawan pasukan Goblin di siang hari (gelombang ke-2) dan pergi ke Dungeon setelah beristirahat.


...


"Saat aku menghancurkan pintu tersebut dengan sihir. Kami melihat ruang yang sangat luas yang di penuhi dengan Goblin yang lebih banyak daripada sebelumnya. Terlebih lagi..." Dia berhenti sebentar dan melanjutkan ceritanya tentang keadaan di dalam ruangan Goblin King berada. Mereka terkejut dengan keadaan mengerikan di dalam. Yah, bisa dibilang itu adalah pesta makan para Goblin dengan manusia sebagai hidangannya.


Mereka segera melarikan diri setelah sadar dari keterkejutannya. Saat berada di pertengahan jalan dua temannya yang merupakan wanita lain di kelompoknya, melemparkan sihir padanya. Dan bahkan para pria tidak membantunya, meskipun mereka melihatnya.


Mendengarnya aku merasakan sakit di dadaku, tapi amarahku kepada teman-temannya lebih besar, sehingga aku mengepalkan tanganku dengan sekuat tenaga dan membuat gelas di tangan kananku pecah. Air membasahi lantai dengan tetesan darah dari telapak tanganku yang terluka akibat pecahnya. Tapi wajahku tanpa ekspresi.


Fitri terkejut melihatku. Dan bertanya apakah aku baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja" aku tersenyum padanya agar dia tidak terlalu khawatir. Aku pergi ke wastafel untuk mencuci lukaku.


...


Setelah mengobati lukaku dan menutupnya dengan plaster aku mengikatnya dengan kain kasa aku berjalan ke arah Fitri menepuk dan mengelus kepalanya.


"Kamu sudah bekerja keras, sekarang sudah baik-baik saja. Serahkan semuanya padaku, aku akan melindungi mu" aku mengatakannya secara refleks. Apakah aku terlalu banyak membaca novel meskipun memang benar itu adalah salah satu kalimat klise dari novel-novel yang kubaca yang ingin kukatakan di kehidupan nyata.


Setelah kupikirkan lagi ini sangat memalukan, bukankah itu berarti aku mengakui perasaanku secara tidak langsung padanya.


Fitri terkejut membuka matanya lebar-lebar lalu menundukkan kepalanya. Tetesan air mata terjatuh darinya dan suara tangisan kecilnya terdengar olehku. Aku berlutut untuk menyesuaikan ketinggianku dengannya dan memeluk kepalanya dan terus mengelusnya. Dia tidak menolaknya dan membenamkan wajahnya ke dadaku sambil terus menangis.


To be continued....»


***


Halo,


No Face disini.


Mungkin bab ini kebanyakan membahas tentang mie instan. Aku memang suka mie instan tapi tentu saja Aku tidak memakannya setiap hari. Meskipun aku berpikir bahwa tidak ada orang yang tidak menyukai mie instan.... Mungkin?


Dan juga sepertinya Ochid tidak bisa menyangkal cintanya lagi, dan dia menjadi lebih berani dari pada saat masih kecil. Meskipun dia belum menyampaikan perasaannya dengan benar tapi itu adalah sebuah kemajuan yang cepat.


Itu saja untuk bab kali ini.


Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.

__ADS_1


Salam saya.


No Face


__ADS_2