
~{Sudut Pandang MC/Ochid}~
Setelah kami sampai di Polsek Pagedangan, Kapten Syarif mengantar kami ke salah satu tenda penampungan.
"Baiklah, nak Ochid dan nak Fitri saya minta maaf tapi kalian harus menunggu di tenda ini terlebih dahulu. Sementara saya akan memberikan laporan dan menyampaikan permintaan nak Ochid pada atasan" (Kapten Syarif)
"Anda tidak perlu meminta maaf Kapten Syarif. Kami juga sama seperti para pengungsi karena rumah kami juga ada di Zona Berbahaya, jadi anda tidak perlu khawatir" (Ochid)
"Terimakasih karena kamu telah bilang begitu. Yah, sebenarnya saya ingin membalas budi dengan memberikan kalian ruangan yang ada di dalam bangunan, tapi itu mungkin sedikit sulit jika tiba-tiba. Jadi saya akan memintanya pada atasan terlebih dahulu dan saya juga akan berusaha untuk menyakinkan atasan mengenai permintaan nak Ochid" (Kapten Syarif)
"Ya, Terimakasih atas perhatiannya Kapten Syarif. Tapi kami mungkin hanya akan tinggal sampai urusan mengenai permintaan saya selesai, jika permintaan tersebut ditolak, maka kami akan segera pergi ke tempat orang tua kami. Jadi kami mungkin tidak memerlukan ruangan pribadi" (Ochid)
"Baiklah jika kamu bilang begitu.... Tapi saya akan tetap meminta ruangan pribadi untuk kalian. Jadi saya akan pergi sekarang" (Kapten Syarif)
Mengatakan itu, Kapten Syarif pergi ke sebuah bangunan yang merupakan kantor Polisi.
Sebelum mengantarkan kami kesini, dia menyuruh bawahnya pergi terlebih dulu ke bangunan yang lain untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik segera. Tapi dia bahkan tidak pergi ke sana setelah mengurus kami dan langsung pergi untuk memberikan laporan.
Aku terkesan dengan kebaikannya dan sikap patriotismenya.
...
Aku dan Fitri masuk ke dalam tenda, yang ternyata cukup luas. Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke sebuah tenda penampungan untuk pengungsi. Aku pernah melihatnya di tv dan itu terlihat sangat sempit.
Ah!
Setelah aku memperhatikannya lebih jelas, aku menemukan bahwa jumlah pengungsi di tenda ini tidak terlalu banyak sehingga membuatnya terlihat luas.
Aku dan Fitri mengambil tempat di pinggiran tenda yang masih kosong. Menaruh ransel yang kubawa sebagai kamuflase disamping, aku dan Fitri duduk bersebelahan.
Aku mengambil dua sweater tebal dari dalam ransel yang pada kenyataannya kosong. Faktanya, aku mengambil sweater tersebut dari Inventory ku.
Memberikan salah satunya ke Fitri. Aku melipat sweater yang kupegang untuk dijadikan sebagai pengganti bantal dan berbaring. Fitri melakukan hal yang sama.
Sebenarnya aku juga membawa kasur lipat di Inventory. Tapi tidak mungkin aku mengeluarkannya disini dengan adanya banyak orang, meskipun aku mengeluarkannya dari ransel, itu tentu saja masih aneh dan akan menarik banyak perhatian.
Untuk saat ini aku akan bertahan hanya dengan ini. Di masa depan pasti akan ada yang memiliki skill penyimpanan juga dan mungkin akan ada alat sihir untuk penyimpanan, sehingga hal tersebut menjadi umum dan aku bisa menggunakan Inventory ku dengan bebas di hadapan publik.
...
Aku dan Fitri mengobrol saat berbaring berhadapan. Kami hanya membicarakan hal-hal sepele dan kadang-kadang aku akan menggodanya.
Orang-orang yang ada disekitar kami didalam tenda tidak memperhatikan kami karena kami menggunakan salah satu Skill Stealth [Imperceptible] untuk menipiskan kehadiran kami.
Sebenarnya kami bisa membuat diri kami benar-benar tidak terlihat, tapi itu akan sedikit merepotkan jika seseorang tidak sengaja menginjak kami.
Jadi kami hanya menggunakannya untuk membuat mereka tidak memperhatikan kami. Jika mereka berada di jarak yang sangat dekat, mereka akan menyadari kehadiran kami meskipun tidak memperhatikan sosok kami dengan jelas, dan mereka akan menghindari menginjak kami dengan tidak sengaja ketika lewat.
Terkadang aku akan memperhatikan orang-orang disekitar dan melihat Status mereka, tapi tidak ada satupun yang istimewa diantara mereka.
....
Setelah sekitar 1 jam berlalu, seorang polisi yang tidak aku kenal datang ke tenda kami dan memanggil namaku.
Aku dan Fitri segera mendatanginya. Dia memberi tahu kami bahwa kami mendapatkan ruangan pribadi di dalam gedung dan dia juga memberitahuku bahwa atasannya memanggil ku keruangannya.
Aku bertanya kepadanya apakah aku boleh membawa temanku (Fitri). Dan dia mengatakan ya.
Tapi ternyata Fitri mengatakan bahwa dia akan tetap menunggu disini. Aku menyarankan padanya untuk menunggu di ruangan yang telah di berikan kepada kami, tapi dia menolaknya, dan karena disini adalah tempat penampungan jadi aku berpikir bahwa tidak akan ada bahaya.
Yah, dia juga memiliki kekuatan untuk menjaga dirinya sendiri ditempat ini. Jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Polisi tersebut memintaku untuk mengikutinya.
Kami masuk ke bangunan yang merupakan kantor polisi, dan aku diantar ke depan pintu sebuah ruangan.
Polisi yang mengantarku mengetuk pintu dan memberitahukan tentang kedatangan ku.
__ADS_1
Kami diizinkan masuk, dan polisi yang mengantarku pergi setelah memberikan hormat kepada atasannya.
Di dalam ruangan tersebut, aku melihat dua pria paruh baya yang mengenakan seragam polisi. Satu pria duduk di kursi di belakang meja kerja, sementara yang lainnya duduk di salah satu sofa untuk tamu.
"Silahkan duduk nak Ochid"
Pria di belakang meja memintaku duduk di sofa saat dia juga pindah untuk duduk di sofa untuk satu orang.
Aku mengikutinya dan duduk di sofa untuk satu orang dihadapannya. Jarak kami dipisahkan oleh meja pendek yang dikelilingi 4 sofa.
"Perkenalkan, saya adalah kepala Kepolisian Sektor Pagedangan, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sofyan Rozi. Dan dia adalah Wakil kepala. Komisaris Polisi (Kompol) Arief Hermanto" (Kepala Kepolisian. Sofyan)
"Ah! Um.. N-nama saya Orchid Wijaya Kusuma, seorang kasir di sebuah minimarket!" (Ochid)
Aku memperkenalkan diri dengan gugup, karena aura pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Kepala Kepolisian ini. Sofyan Rozi.
"Kamu tidak perlu terlalu gugup nak Ochid. Pertama, saya berterimakasih karena telah menyelamatkan Syarif dan yang lainnya" (Sofyan)
"Y-ya..." (Ochid)
Meskipun dia mengatakan untuk tidak gugup. Tetap saja ini berbeda dari ketika aku berhadapan dengan pelanggan sebagai kasir.
"Baiklah, karena ini sudah tengah malam, mari kita ke urusan utama saja. Saya mendengar dari Syarif bahwa kamu ingin bernegosiasi dengan kami, atau lebih tepatnya mungkin dengan pihak pemerintah. Tapi karena pihak dari pemerintah sedang sibuk dan kami juga tidak mengetahui apa yang ingin kamu negosiasikan maka saya yang akan mendengarkannya terlebih dahulu sebelum menyampaikannya kepada pihak pemerintah" (Sofyan)
Ya, itu masuk akal.
Aku menenangkan diriku terlebih dulu untuk menyampaikan apa yang kuinginkan.
"Baiklah. Um... Bapak Sofyan dan Bapak Arief, kita semua sudah mengetahui bahwa terjadi perubahan pada dunia ini, dengan berbagai fenomena anehnya..." (Ochid)
Mengatakan itu aku berhenti sejenak untuk mengkonfirmasi apakah kami sepaham tentang situasi yang terjadi pada dunia saat ini.
Keduanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Saya memiliki beberapa informasi dan hal lainnya yang akan berguna bagi manusia yang kemungkinan besar hanya saya saja yang mengetahuinya saat ini. Karena itu saya akan memberikannya kepada negara dengan imbalan rumah di wilayah yang aman yang tidak ada monster atau Dungeon didekat Wilayah tersebut. Dan tentu saja dengan sejumlah uang juga" (Ochid)
"Meskipun kamu bilang begitu, jika kamu tidak memberitahu informasinya terlebih dulu, maka kami tidak mungkin mengetahui apakah informasi tersebut benar-benar berharga?" (Wakil kepala kepolisian. Arief Hermanto)
Mendengar itu, aku mengeluarkan sesuatu dari kantong celanaku, dan menaruhnya di atas meja.
Keduanya melihat dengan penasaran pada benda tersebut.
Melihat itu, aku yakin bahwa mereka belum mengetahui tentang Mana Stone ini.
"Baiklah, Saya akan menjelaskannya sedikit. Ini adalah Mana Stone atau Batu Mana, dan ini merupakan sumberdaya baru yang muncul bersamaan dengan perubahan yang terjadi pada dunia ini" (Ochid)
"Mungkin butuh waktu cukup lama untuk mengetahui apa saja kegunaannya dan bagaimana menggunakannya? jika menelitinya dari awal" (Ochid)
"Tapi saya mengetahui apa kegunaannya dan bagaimana menggunakannya. Belum lagi, dari mana asalnya" (Ochid)
Mengatakan itu, aku berpura-pura mengambil ketapel dari balik baju dibelakang tubuhku, yang pada kenyataannya aku mengambilnya dari Inventory ku.
"Dan ini adalah salah satunya!" (Ochid)
" "Ketapel? " "
"Ya, ini memang ketapel. Tapi ini bukan sembarang ketapel. Ini merupakan alat Sihir atau lebih tepatnya mungkin senjata Sihir!" (Ochid)
"Karena ini senjata, saya tidak bisa menggunakannya di sini untuk menunjukkan kemampuannya. Jadi jika pak Sofyan dan pak Arief ingin melihat kemampuannya maka kita harus pergi keluar" (Ochid)
"Baiklah, mari kita pergi untuk melihatnya" (Sofyan)
Setelah pak Sofyan mengatakan itu, dia bangkit dari sofa dan mulai berjalan pergi, begitu juga pak Arief. Dan aku mengikuti di belakang mereka.
Setelah keluar dari kantor polisi. Pak Sofyan membawa kami ke halaman belakang yang tidak ada warga sipil atau pengungsi.
Sebelum aku menyadarinya, Kapten Syarif sudah ada bersama kami.
__ADS_1
Kami berada di sebuah halaman yang tidak memiliki tenda pengungsi. Tapi tempat ini tidak benar-benar kosong karena adanya beberapa mobil dan motor disini, meskipun ini bukanlah tempat parkir.
"Baiklah saya akan menunjukkan apa yang bisa dilakukan dengan benda ini" (Ochid)
Mengatakan itu, aku bersiap untuk menunjukkan kekuatan dari Magic Slingshot ku.
Awalnya, aku akan menjadikan salah satu mobil sebagai target. Tapi aku mengurungkan niat tersebut karena mobil-mobil yang ada di sini terlihat mahal.
Aku yakin bahwa tembakan penuh dari Magic Slingshot dapat menembus plat besi yang lumayan tebal. Jadi, aku meminta mereka untuk menyiapkan target dari plat besi atau semacamnya.
Kemudian Kapten Syarif pergi untuk mengambilnya.
Beberapa saat kemudian dia kembali bersama beberapa orang sambil membawa beberapa barang. Diantaranya adalah balok kayu yang lumayan besar, plat besi yang tidak terlalu tebal dan tameng huru-hara transparan yang biasa digunakan oleh polisi.
Mereka menyiapkan benda-benda tersebut dengan jarak sekitar 10 meter.
"Baiklah saya akan mulai" (Ochid)
Aku menjadikan balok kayu sebagai target pertama. Menarik karet Ketapel, aku menuangkan Mana milikku untuk mengaktifkan Sihir yang terdapat pada Ketapel.
Kemudian tiga lapisan lingkaran sihir kecil muncul di depan ketapelku. Setelah membayangkan bentuk peluru, aku melepaskan cengkraman tangan kananku.
Seketika, balok kayu tersebut memiliki lubang kecil yang menembus melewatinya. Orang-orang yang ada disini segera pergi untuk mengeceknya, termasuk pak Sofyan dan pak Arief.
Mereka semua terkejut, tidak hanya dengan lingkaran sihir yang muncul di depan ketapel tapi juga dengan daya tembaknya.
Setelah mereka selesai untuk melihat kondisi target, mereka kembali ke tempat dimana aku berada.
Kemudian aku menembak dua target lainnya. Dan keduanya berakhir sama.
Saat menambak tameng huru-hara polisi, aku sedikit ragu apakah tameng tersebut dapat menahan tembakan dari ketapel ku. Tapi kemudian Megumin memberi tahuku bahwa tameng tersebut tidak dapat menahan tembakan dari Magic Slingshot ku, karena sebenarnya tameng huru-hara tersebut tidak dapat menahan tembakan dari senjata api.
Semua orang yang ada di sana terkesan dengan kekuatan dari ketapelku. Aku menjelaskan sedikit tentang sihir yang terdapat di ketapel kepada mereka.
Yah, meskipun aku hanya memberitahu mereka efek dari lingkaran sihir ketiga, [Booster].
Jadi kami bertiga. Aku, pak Sofyan, dan pak Arief kembali ke ruangan pak Sofyan di dalam kantor polisi untuk melanjutkan negosiasi kami.
To be continued.....»
***
Halo,
No Face disini.
Maaf bab ini sedikit telat. Biasanya aku menyelesaikan bab untuk update, di hari sebelumnya.
Tapi setelah aku mencari tahu kembali informasi yang berkaitan dengan kepolisian, aku menemukan bahwa :
[Polsek maupun Polsekta dipimpin oleh seorang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) (khusus untuk Polda Metro Jaya) atau Komisaris Polisi (Kompol) (untuk tipe urban), sedangkan di Polda lainnya, Polsek atau Polsekta dipimpin oleh perwira berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) (tipe rural). Di sejumlah daerah di Papua sebuah Polsek dapat dipimpin oleh Inspektur Polisi Dua(Ipda)]
(note : di copy paste dari Wikipedia)
Jadi, awalnya aku berniat untuk mengganti pangkat Syarif, Fera dan Deni. Tapi aku tidak melakukannya! Karena setelah membaca kembali bab-bab yang berkaitan aku menemukan bahwa aku harus mengubah banyak hal, termasuk kekuatan yang dimiliki oleh Syarif.
Ya, aku sedikit ragu-ragu apakah akan mengubahnya atau tidak, yang akhirnya membuat update hari ini sedikit telat.
Biasanya aku akan menyetel waktu update pada jam 05:00 pagi di hari sebelumnya, agar kalian bisa membacanya ketika baru bangun. Karena aku berpikir kebanyakan orang akan malas untuk bangkit dari tempat tidur mereka ketika baru saja bangun, kemudian kalian akan memainkan smartphone yang diletakkan di dekat kalian untuk menghilangkan kantuk.
Jadi kupikir kalian bisa membaca bab terbaru dari novel ini saat itu.
Itu saja untuk bab kali ini.
Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen, juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.
Salam saya.
__ADS_1
No Face