2 World Fantasy

2 World Fantasy
Bab.24 Dunia yang Berubah #Setelah pertempuran dan Pengakuan


__ADS_3

Aku bermeditasi selama sekitar 5 menit untuk memulihkan sedikit Stamina dan Manaku. Kemudian aku kembali ke seberang parit menggunakan jembatan yang dibuat oleh para Goblin Wizard dan membuat tangga menuju ke atas tembok benteng. Tapi bukan berarti aku ingin naik ke atas tembok.


'Fitri, bisakah kau turun!'


Aku memanggil Fitri menggunakan telepati.


(Mengapa aku harus turun? Bukankah pertempurannya sudah selesai?)


'Kita masih memiliki pekerjaan setelah perang'


(Apa maksudmu?)


'Akan ku jelaskan ketika kamu sudah turun'


Sepertinya dia memang tidak tahu mengenai Mana Stone. Ketika dia menceritakan tentang ceritanya saat dia bersama kelompoknya, lebih tepatnya mantan teman-temannya. Aku tidak mendengar dia membahas tentang Mana Stone, meskipun mereka menguburkan mayat para Goblin.


Dan kemungkinan besar yang menguburkan mayat para Goblin adalah Fitri, karena sebelumnya aku melihat Earth Magic miliknya sudah Lv.3.


Mungkin aku harus mengambil Mana Stone dari mayat para Goblin yang mereka kubur dan mungkin ada juga mayat para Goblin yang dibunuh oleh kelompok yang berada di blok C. Meskipun sepertinya sedikit merepotkan.


"Jadi kita mau ngapain lagi?" Fitri bertanya padaku ketika dia sampai di bawah saat aku sedang memikirkan hal di atas.


"Hmm.... Ah! Kau tahu para monster memiliki yang namanya Mana Stone di dalam tubuh mereka, dan aku menginginkannya jadi aku butuh bantuan mu untuk mengambil Mana Stone dari semua mayat Goblin ini"


"Apakah aku harus membedah tubuh mereka?" Fitri bertanya dengan wajah terlihat enggan.


"Yah, jika kamu benar-benar tidak mau melakukannya maka aku tidak akan memaksamu"


Yah, meskipun akan memakan waktu lama untuk mengambil Mana Stone dari hampir 200 mayat Goblin jika dilakukan sendirian. Dan aku memang tidak ingin memaksanya jika dia memang benar-benar tidak menginginkannya.


"Uh... Tidak. Biarkan aku membantumu" Dia mengatakan hal tersebut meskipun sepertinya dia masih enggan untuk membedah mayat Goblin.


"Kamu benar-benar tidak perlu memaksakan diri loh!"


"Bukan begitu, aku hanya ingin membantumu"


"Baiklah, kalau begitu aku menunjukkan cara membedahnya dan dimana letak Mana Stonenya"


Karena aku memiliki Skill Dismantling, aku dapat lebih mengetahui bagaimana cara membongkar mayat.


Aku berjalan menuju salah satu mayat Goblin yang berada dibawah tembok dengan Fitri dibelakang ku, kemudian aku mulai menunjukkan cara membedahnya pada Fitri.


"Dan di sinilah di samping jantung, letak Mana Stonenya berada" Aku mengatakan padanya sambil menunjuk dengan pisau yang kugunakan.


"Dan inilah Mana Stone yang ku sebutkan sebelumnya" Aku menunjukkan sebuah batu kecil berwarna biru kusam yang kuambil dari mayat Goblin yang kubedah ke padanya.


"He... Jadi seperti ini yang namanya Mana Stone, tapi bukankah ukurannya sangat kecil"


"Yah, karena ini adalah Mana Stone dari monster tingkat rendah dan lemah, belum lagi yang kubedah hanyalah Goblin biasa"


"Baiklah, sekarang kamu mencobanya" Aku menyerahkan pisau yang kugunakan dan sarung tangan pelastik yang baru padanya.


"O-oke...." Dia mengulurkan tangannya dengan sedikit ragu, tapi tetap mengambilnya. Kemudian dia mulai membedah mayat Goblin yang berada di dekatnya.


"Ini cukup sulit, terlebih lagi ini bau dan menjijikkan" Meskipun dia mengatakannya dia tetap melanjutkannya.


"Untuk masalah baunya, kamu bisa menggunakan masker. Tapi kamu harus menahannya mengenai visualisasi yang menjijikkan" Mendengarku, dia mengulurkan tangan kirinya kepada ku.


"...."


"..?.."


"Masker?"


"Ah! Masker kah! Aku tidak membawanya.. tapi sepertinya ada beberapa masker sekali pakai di rumahku. Aku akan pergi mengambilnya"


"Tidak, biarkan aku saja yang mengambilnya" Mengatakan hal tersebut dia berdiri dan mulai berjalan menuju tangga tembok.


"Apa kamu tau tempatnya di mana?" Dia berhenti dan menoleh ke arahku dengan ekspresi wajah yang mengatakan, "katakan saja!" Sepertinya dia benar-benar tidak akan membiarkanku mengambilkannya untuknya.


"Di laci meja di bawah tv!" Mendengarnya, dia mulai berjalan kembali.


Melihatnya berjalan menaiki tangga, aku berpikir untuk segera pergi mengambil Mana Stone dari Goblin General, tapi Fitri belum selesai membedah mayat Goblin ini.


Hmm.... Yah! Dia pasti bisa menyelesaikannya sendiri saat dia kembali, dan aku bisa berbicara dengannya nanti lewat telepati.


Setelah berpikir seperti itu, aku segera berjalan menuju mayat Goblin General berada.


"Tubuhnya benar-benar besar, dan meskipun Armornya terlihat masih bagus tapi tidak mungkin untuk digunakan karena ukurannya"


Tapi mungkin masih bisa kujual nanti, sebaiknya kusimpan saja dulu dalam Inventory ku.


Aku mendekatinya dan membayangkan untuk menyimpan Armornya dan yang terjadi adalah hanya Armornya lah yang tersimpan dan menyisakan mayat tanpa armor.


Dari sana aku mendapatkan sebuah ide untuk mengambil Mana Stone tanpa harus membedahnya. Tapi ternyata tidak berhasil.


Menurut penjelasan Megumin, itu di karenakan Mana Stone tersebut masih bagian dari satu item yang merupakan sebuah Mayat, tapi ketika sudah di pisahkan maka Mana Stone berubah menjadi item itu sendiri.


Awalnya aku berpikir ini karena level Inventory ku masih Lv.1, tapi setelah aku pikirkan kembali sudah sewajarnya seperti itu. Jika Skill Inventory ku bisa menyimpan Mana Stone langsung itu berarti aku juga bisa langsung menyimpan jantung musuhku saat bertarung. Itu akan menjadi kemampuan yang sangat curang.


Untuk saat ini aku dapat menggunakan Inventory untuk mengambil item yang dimiliki seseorang, jika orang tersebut sudah mati. Jika Level Inventory ku sudah naik, dimungkinkan untuk mengambil item yang dimiliki seseorang saat dia masih hidup dan mungkin bahkan saat pertarungan, tapi tapi kesuksesannya masih tergantung level skill Inventory ku dan Level/Rank item tersebut.


Dan juga mungkin ada item yang memiliki sihir kepemilikan. Apapun itu, skill Inventory ku sudah termasuk skill yang curang, jadi aku tidak terlalu kecewa.


Aku hampir selesai membedah mayat Goblin General saat memikirkan hal tersebut, kemudian aku dapat menemukan Mana Stone, tidak! Aku menemukan 2 Mana Stone! Tapi salah satunya berwarna pelangi dan terlihat transparan.


"Hmm... Megumin lakukan Analyst pada batu ini"


{Baik Master!}

__ADS_1


[Crystal Skill : Brute Force Lv.1]


[Serap Crystal ini untuk mendapatkan Skillnya]


Oh! Ini adalah sebuah Crystal Skill. Meskipun aku juga dapat memproduksinya menggunakan Gift Skill Creation (Penciptaan Skill) ku.


"Dan bagaimana caraku menyerapnya?"


{Master bisa menyerapnya seperti saat menyerap Mana dari alam saat bermeditasi}


Begitu!


Yah, untuk saat ini aku akan menyimpannya saja.


Menyimpan keduanya, aku melanjutkan untuk mengambil Mana Stone dari mayat Goblin lainnya. Dan aku melihat Fitri juga sudah kembali dan sedang membedah mayat Goblin yang berada di sekitar tembok.


Karena dia tidak mengatakan apapun, maka aku juga tidak perlu mengganggunya.


Kami terus melakukan pengambilan Mana Stone selama sekitar 20 menit.


Setelah selesai aku berjalan menuju ke tempat Fitri yang sepertinya masih berurusan dengan mayat Goblin yang berada di disekitar tembok.


Saat aku berada beberapa meter darinya, dia berdiri dan berbalik ke arahku.


Sepertinya dia juga sudah selesai!


"Gimana Fit? Udah selesai?"


"Ya, ini yang terakhir. Bagaimana dengan yang disebelah sana?"


"Aku sudah mengambil Mana Stone dari semua mayat Goblin yang berada di sana, ini lebih cepat dari yang kukira. Mungkin karena level skill Dismantlingku naik"


"Ah! Aku juga mendapatkan Skill tersebut dan sekarang sudah Lv.2"


"Begitu, baiklah karena sudah selesai mari kita kembali ke dalam rumah.... Tapi sepertinya kamu kehabisan Mana"


"Yap, jadi ku serahkan padamu untuk menguburkan mayat-mayat yang tersisa"


"Baiklah... Bantu aku mengumpulkannya dalam satu tempat"


Ada 7 mayat Goblin yang belum dikuburkan di sekitar tembok. Aku dan Fitri masing-masing menyeret satu mayat Goblin ke satu tempat dan menumpuknya.


Menaruh mayat terakhir dalam tumpukan, aku kemudian menggunakan Earth Magic untuk membuat lubang dibawah tumpukan dan menutupnya.


Setelah selesai berurusan dengan mayat, aku kemudian menghilangkan jembatan di parit dan kami berjalan menuju rumah. Tentu saja aku tidak lupa untuk menghilangkan tangga di sisi luar tembok.


***


"Haa.... Segarnya"


Kami duduk di sofa di ruang tengah sambil minum air dingin yang kuambil dari kulkas.


"Oh ya! Ini ketapelmu dan ini Mana Stonenya" Mengatakan itu, Fitri menyerahkan ketapel dan kantong *****.


"Kamu gak perlu minta maaf, malahan aku berterima kasih karena kamu sudah membantuku" Aku mengatakan itu padanya, tapi dia hanya tersenyum masam.


"Yah, ini bukanlah apa-apa. Karena aku hanya ingin berterimakasih padamu karena kamu telah menyelamatkanku sebelumnya"


"Yah, saat itu aku hanya sedang menuju ke Dungeon dan melihat seorang sedang di kejar oleh Goblin. Jadi aku berpikir untuk menyelamatkan untuk mendapatkan informasi darinya"


"Dan aku tidak mengira orang tersebut adalah kamu, Fit"


"Meskipun begitu, fakta bahwa kamu menyelamatkan hidupku tidaklah berubah, jadi aku akan memberi tahumu semua yang ku ketahui... Tidak! aku akan memberikan semuanya padamu" Setelah mengatakan hal tersebut dia terlihat malu akan sesuatu.


'Hmm... Mengapa dia terlihat malu?'


Tidak! Aku akan memberikan semuanya padamu


Oh! Jadi begitu! Tapi apakah itu benar-benar seperti yang kumaksud? Aku harus memastikannya terlebih dahulu.


"Umm.... Tadi kamu mengatakan kamu akan memberikan semuanya padaku..... ini maksudnya bukan tentang informasi saja kan?"


"Y-ya..."


"Maksudmu, kamu menyerahkan semua tentang dirimu padaku?" Mendengar hal tersebut dia semakin malu, kemudian mengangguk kepalanya.


Ugh! Wajah malunya sangat manis.


"Itu berarti tidak hanya tubuhmu tapi juga hatimu?" Aku mengatakan itu untuk menggodanya lebih jauh. Dan dia memalingkan wajahnya karena malu.


"Un..." Dia menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah ku, tapi aku dapat melihat telinganya berwarna merah.


Ugh! Dia benar-benar imut. Membuatku ingin segera menerkamnya saja. Tapi aku harus bersabar, karena aku ingin mengetahui perasaannya padaku.


"Kamu tidak perlu sejauh itu, karena kamu kan tidak menyukaiku" Setelah mendengar aku mengatakan itu, dia menoleh ke arahku dengan wajah bingung.


"Apa yang kamu maksud? Aku tidak ingat pernah mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu. Bukankah kamu yang menjauhiku karena sudah bosan terus bersama denganku?"


Hah? Apa yang dia katakan?


"Ah! Umm... Bagaimana aku harus mengatakannya..... Aku benar-benar tidak ingin mengatakan ini, karena hal ini membuatku merasa diriku sangat payah.... " Mengatakan hal tersebut aku berhenti sejenak untuk mempersiapkan diriku.


"Yah.... Kau tahu saat kita kelas 6 SD aku menyadari perasaanku padamu, tapi kemudian aku mendengarkan pembicaraanmu dengan teman-temanmu di kelas..."


"Saat itu aku akan segera masuk kedalam kelas, tapi Kemudian salah satu temanmu bertanya bagaimana perasaanmu padaku, jadi aku bersembunyi dibalik tembok di luar kelas karena aku juga ingin mengetahuinya. Dan kamu mengatakan bahwa kamu tidak memiliki perasaan suka terhadapku...."


"Kemudian aku mulai menjaga jarak darimu untuk menarik perhatianmu, tapi sikapmu sepertinya tidak terlalu memperdulikanya..."


"Dan begitulah hubungan kita berlanjut. Yah, aku menghilangkan beberapa detail yang tidak penting, tapi intinya aku melarikan diri darimu dengan tidak mengatakan apapun padamu"

__ADS_1


Setelah aku selesai berbicara, dia membuat ekspresi pahit di wajahnya.


"Ah... U-umm.... Maaf..." Dia meminta maaf dan mulai menceritakan dari sudut pandangnya.


Singkatnya, dia hanya terlalu malu untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada teman-temannya, dan sikapnya yang terlihat tidak peduli dari sudut pandangku adalah karena dia tidak berani bertanya padaku dan hanya mengikuti arus.


"Maaf, karena aku seorang pengecut..." Dia mengatakan hal tersebut diakhir ceritanya.


"Ugh! Kau tidak perlu meminta maaf. Yah, bukankah aku juga pengecut.... Ah! Mungkin aku lebih memalukan karena bersikap seperti anak kecil yang lagi ngambek, meskipun sebenarnya aku memang anak kecil kelas 6 SD saat itu"


"Pfft!..."


"Pfft!..."


Hahaha....


Kami tertawa bersama untuk sementara waktu.


....


Setelah berhenti tertawa, aku menarik nafas untuk mempersiapkan diriku.


Kali ini aku tidak akan melarikan diri lagi dan menghadapinya dengan benar, aku akan menerima apapun hasilnya.


"Jadi, Fitri. Ada yang ingin kusampaikan padamu...." Aku berhenti sejenak.


"Un...?"


"A-aku... Mencintaimu sejak dulu, dan sekarang pun aku masih mencintaimu, dan aku tetap ingin mencintaimu di masa depan" Ah!... Aku benar-benar mengatakannya.


Setelah itu Fitri terlihat sangat malu dengan wajahnya yang terlihat memerah.


"Ah!.... Umm.... Aku juga....." Dia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan. Meskipun aku dapat mendengarnya, aku ingin dia mengatakan lebih jelas.


"Aku tidak dapat mendengarmu...


Jadi bagaimana perasaanmu padaku?"


"Uuu.... A-aku juga mencintaimu!" Mendengar itu, aku segera memeluknya, dia terkejut tapi tidak menolak dan memelukku balik.


Aku ingin memakannya sekarang juga. Tapi aku harus menunggu karena tubuh kami sangat bau darah Goblin. Aku memisahkan diri kita dan dia terlihat agak enggan.


"Sebaiknya kita mandi dulu"


"Un..."


"Apakah kita akan mandi bareng?" Aku mengatakan itu dengan harapan yang tidak terlalu besar. Aku memang menginginkan event mandi bareng. Tapi sayangnya kamar mandiku tidak memiliki bathtub untuk berendam, dan hanya tempat untuk menampung air dari keran.


Sementara aku memikirkan hal tersebut. Fitri menjadi semakin malu dengan wajahnya yang semakin memerah.


"Ah... Um... Sebaiknya kamu saja duluan"


"Baiklah, aku akan pergi mandi duluan"


Yah, sepertinya memang tidak akan ada event mandi bareng kali ini. Tapi aku pasti akan mewujudkannya di masa depan.


***


Aku duduk di sofa di ruang tengah setelah selesai mandi dan sedang menunggu Fitri selesai mandi.


Aku merasa sangat tidak sabar untuk menunggu. Tapi aku harus bersabar, karena aku tidak boleh mengacaukannya. Karena ini akan menjadi kelulusanku dari status bujangan.


Setelah beberapa menit menunggu yang terasa sangat lama. Akhirnya Fitri selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk putih yang menutupi tubuhnya. Dan dia telah memotong rambutnya menjadi sebahu.


Detak jantungku berdetak semakin cepat, tapi aku tetap sabar. Aku menepuk sofa dengan tangan kananku untuk memintanya duduk di sebelah kananku. Dia berjalan dengan malu dan duduk agak jauh dariku. Aku menepuk kembali tempat disebelahku untuk memintanya mendekat.


Dia mendekat dengan perlahan, dan aku menariknya ke pelukanku. Dia tidak melawan dan memelukku balik, menaruh wajahnya di dadaku, dan aku menikmati mengelus kepalanya untuk sementara waktu.


Kemudian aku memisahkan kepalanya dari dadaku, dia menatapku sejenak lalu memejamkan matanya.


Apakah ini berarti boleh menciumnya? Atau mungkin dia yang meminta sebuah ciuman?


Apapun itu keduanya sama saja.


Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan menempelkan bibirku dengan bibirnya.


Bibirnya terasa lembut, jadi aku membuat ciuman kami lebih berani.


Ciuman pertamaku terasa seperti mint, kemungkinan besar dia juga merasakan hal yang sama, karena kami menggunakan pasta gigi yang sama.


Setelah ciuman tersebut aku tidak bisa bersabar lagi, jadi aku membawanya ke kamarku dengan gendongan putri. Hal selanjutnya yang terjadi adalah aku memakannya secara sepihak meskipun ini adalah pertama kalinya untukku.


To be continued.....»


****


Hai,


No Face disini.


Meskipun awalnya aku berniat menulis karya ini dengan fokus pada Aksi Petualangan Fantasi dengan sedikit bumbu Romance, tapi sepertinya Romance sudah bukan bumbu lagi.


Dan apakah bab ini termasuk kedalam kategori dewasa atau masih terbilang aman, dan aku sudah berusaha untuk membuatnya seaman mungkin.


Jadi bagaimana menurut kalian. Mungkin ada Author veteran yang membaca karya ini, jika bisa tuliskan komentar kalian mengenai masalah ini karena aku tidak yakin apakah harus menandai bab ini untuk hanya umur 21 ke atas.


Itu saja untuk bab kali ini.


Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen, juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.

__ADS_1


Salam saya.


No Face


__ADS_2